Cari Ebook

[PDF] SEMUA POSISI ADA UJIANNYA | Alloh Cinta yang Profesional - Arfandi Al Kubary dan Nor Kandir

 


Muqoddimah

Segala puji bagi Alloh yang telah menetapkan dunia sebagai darul ibtila` (negeri ujian dan cobaan) dan menjadikan Akhiroh sebagai darul jaza` (negeri balasan). Dialah Robb semesta alam yang membagi-bagikan rizqi, kedudukan, dan peran di antara para hamba-Nya dengan keadilan dan hikmah yang maha sempurna.

Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada tauladan utama kita, Nabi Muhammad , yang telah membimbing umat ini menuju jalan taqwa, mengajarkan hakikat amanah, dan memberikan teladan terbaik dalam bersikap profesional di setiap lini kehidupan.

Amma ba’du:

Kehidupan di dunia ini tidak pernah lepas dari sunnatulloh yang bernama ujian. Seringkali manusia menyangka bahwa ujian hanyalah berupa kemiskinan, sakit, atau kegagalan. Padahal, kedudukan yang mapan, jabatan yang tinggi, serta posisi pekerjaan yang nyaman pun merupakan bentuk ujian yang tidak kalah beratnya. Tidak ada satu pun posisi di dunia ini yang 100% bersih dari beban dan tanggung jawab. Ketika seorang hamba memahami bahwa setiap posisi yang diembannya adalah sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh , maka ia akan berusaha menunaikannya dengan penuh rasa takut dan harap, serta melaksanakannya secara itqon (profesional).

Buku ini hadir untuk mengupas hakikat ujian di setiap lini posisi kehidupan dan bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap profesional demi meraih kecintaan Robbnya.

 

Bab 1: Tidak Ada Posisi Nyaman 100%

1.1 Hakikat Dunia Sebagai Negeri Ujian

Banyak manusia yang tertipu dengan fatamorgana kehidupan dunia. Mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan fikiran untuk mencari sebuah titik di mana mereka bisa bersantai tanpa ada gangguan, beban, atau tekanan sedikit pun. Namun, kenyataan pahit selalu membangunkan mereka dari mimpi tersebut. Kenyataannya, tidak ada satu pun posisi di dunia ini yang benar-benar 100% nyaman. Mengapa demikian? Karena Alloh memang tidak mendesain dunia ini sebagai tempat beristirahat. Dunia adalah medan perjuangan, tempat menanam benih, dan laboratorium ujian bagi iman manusia.

Alloh telah menegaskan dalam firman-Nya mengenai batasan beban yang diberikan kepada setiap jiwa:

﴿لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqoroh: 286)

Ayat yang mulia ini memberikan kita sebuah pemahaman mendalam. Di satu sisi, ayat ini mengabarkan bahwa beban kehidupan, tugas, dan ujian pasti akan datang menghampiri setiap manusia selama ia masih bernyawa. Namun di sisi lain, ada rohmat dan keadilan yang agung dari Alloh , di mana Dia tidak akan pernah meletakkan sebuah beban di atas pundak seorang hamba melainkan beban tersebut berada dalam batas kemampuan, daya pikul, dan kesanggupan hamba tersebut. Oleh karena itu, keluhan yang sering terlontar dari lisan manusia mengenai beratnya pekerjaan atau posisi mereka sebenarnya hanyalah akibat dari ketidaksiapan mental dan kurangnya rasa tawakkal, bukan karena ujian tersebut benar-benar melewati batas kemampuan mereka.

Setiap manusia telah ditetapkan garis takdirnya masing-masing, termasuk dalam urusan pekerjaan, keahlian, dan posisi sosial mereka di masyarakat. Rosululloh bersabda:

«اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ»

“Beramallah, masing-masing dari kalian akan dimudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan untuknya.” (HR. Al-Bukhori no. 4949 dan Muslim no. 2647)

Hadits ini memotong akar dari segala bentuk kecemburuan sosial dan rasa tidak puas terhadap posisi yang sedang diyakini saat ini. Ketika seorang Muslim mendapati dirinya dimudahkan untuk menjadi seorang guru, pengusaha, pegawai, atau bahkan seorang pekerja kasar, ia harus sadar bahwa di situlah medan ujian yang telah Alloh pilihkan untuknya. Kemudahan dalam menjalankan suatu profesi atau peran bukanlah tanda bahwa posisi tersebut bebas dari ujian, melainkan isyarat bahwa di sanalah tempat ia harus memaksimalkan potensinya demi beribadah kepada Alloh .

1.2 Karakter Dasar Manusia dan Keluh Kesah

Sifat dasar manusia yang cenderung lemah dan tergesa-gesa membuatnya sering kali luput dalam melihat hikmah di balik ketidaknyamanan suatu posisi. Manusia sering kali memandang rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput di halamannya sendiri. Seorang bawahan memandang posisi atasan sangat enak karena memiliki wewenang besar dan gaji melimpah. Sebaliknya, sang atasan merasa sangat tertekan dengan target, manajemen, dan tanggung jawab yang berat, lalu berangan-angan andai saja ia menjadi staf biasa yang pulang kerja tanpa membawa beban fikiran. Ini adalah siklus keluh kesah yang tiada ujungnya.

Alloh menggambarkan watak asli manusia ini dalam Al-Qur’an:

﴿إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا﴾

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

Apabila manusia dibiarkan berjalan menuruti tabiat fithrohnya yang belum terdidik oleh iman dan taqwa, maka ia akan senantiasa berada dalam kubangan keluh kesah. Ketika ditimpa sedikit kesulitan dalam posisinya, ia langsung berputus asa, menyalahkan keadaan, dan merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Sebaliknya, ketika ia mendapatkan kelapangan dan posisi yang menguntungkan, ia menjadi kikir, sombong, dan lupa bahwa posisi tersebut adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Hanya orang-orang yang mendirikan Sholat dengan khusyuk dan menjaga keikhlasan yang mampu keluar dari lingkaran watak tercela ini.

“Istirahat yang sempurna itu hanya di Surga. Adapun dunia adalah tempat ujian.”

Perkataan ini laksana obat penawar bagi hati yang lelah karena mengejar kenyamanan di dunia. Siapa yang mencari sebuah pekerjaan atau posisi yang di dalamnya tidak ada masalah, tidak ada gesekan antar rekan kerja, tidak ada komplain dari pelanggan, dan tidak ada keletihan fisik, maka sungguh ia sedang mencari sesuatu yang tidak pernah Alloh ciptakan di dunia ini. Kenyamanan hakiki yang tanpa jeda, tanpa air mata, dan tanpa rasa lelah, tiketnya hanya ada satu: melangkahkan kaki kanan di dalam Jannah.

Ali bin Abi Tholib (40 H) rodhiyallohu ‘anhu memberikan pandangan yang sangat realistis mengenai fluktuasi roda kehidupan:

الدَّهْرُ يَوْمَانِ: يَوْمٌ لَكَ، وَيَوْمٌ عَلَيْكَ

“Hari itu ada 2: hari untukmu, hari menentangmu.” (Al-Bashoir, Abu Hayyan At-Tauhidi, hal. 157)

Seorang profesional yang cerdas tidak akan pernah terbuai ketika posisinya sedang berada di atas angin, di mana semua urusan berjalan lancar dan pujian mengalir deras. Ia tahu bahwa esok hari, bisa jadi roda berputar; ujian berupa krisis, kesalahpahaman, atau penurunan performa bisa saja terjadi. Dengan memahami bahwa hari-hari itu dipergilirkan, seorang Muslim akan memiliki mental yang tangguh, tidak mudah jemawa saat sukses, dan tidak mudah remuk saat menghadapi kegagalan di tempat kerja.

 

Bab 2: SETIAP POSISI: PERAN + UJIAN MASING-MASING

2.1 Konsep Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Universal

Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini, tanpa terkecuali, adalah seorang pemimpin. Pemimpin di sini tidak melulu berarti presiden, raja, gubernur, atau direktur utama sebuah perusahaan multinasional. Makna kepemimpinan dalam Islam jauh lebih luas, mencakup setiap individu yang diberikan otoritas atau kendali atas sesuatu, sekecil apa pun itu. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya, seorang istri adalah pemimpin di dalam mengurus rumah suaminya, seorang pekerja adalah pemimpin atas tugas-tugas yang didelegasikan kepadanya.

Rosululloh memberikan garis panduan yang sangat tegas mengenai hal ini:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Kalian semua pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan Muslim no. 1829)

Hadits yang agung ini meruntuhkan dinding pemisah yang sering dibuat manusia antara “orang besar” dan “orang kecil”. Di hadapan Alloh , timbangan kemuliaan dan beratnya pertanggungjawaban diukur dari sejauh mana seseorang menunaikan amanah pada posisi masing-masing. Seseorang yang bertugas sebagai pelayan kebersihan di sebuah kantor akan ditanya oleh Alloh tentang kebersihan area yang menjadi tanggung jawabnya, tentang jam kerjanya yang jujur, dan tentang peralatan kantor yang ia gunakan. Begitu pula sang direktur, ia akan ditanya tentang kebijakan yang diputuskannya, keadilan dalam pembagian gaji, serta bagaimana ia memperlakukan bawahannya. Tidak ada yang lolos dari audit ilahi ini.

Oleh karena itu, posisi yang lebih tinggi bukanlah alasan untuk menyombongkan diri, melainkan alasan untuk memperbanyak istighfar dan getaran ketakutan di dalam hati. Semakin besar wilayah kekuasaan atau cakupan kerja seseorang, maka semakin panjang pula antrean pertanggung-jawabannya di hari Qiyamah kelak.

2.2 Bahaya Kezholiman dan Penyalahgunaan Wewenang

Salah satu ujian terberat ketika seseorang diberikan sebuah posisi atau wewenang adalah godaan untuk bersikap zholim, mempersulit urusan orang lain, atau bertindak sewenang-wenang demi kepuasan pribadi atau golongan. Banyak orang yang ketika menjadi staf biasa terlihat sangat ramah dan mudah membantu, namun ketika naik jabatan menjadi manajer atau pejabat publik, wajahnya berubah menjadi kaku, birokrasi dipersulit, dan pelayanan menjadi lambat kecuali jika ada “uang pelicin”.

Tindakan mempersulit urusan kaum Muslimin dalam sebuah posisi atau jabatan adalah perkara yang sangat berbahaya, karena pelakunya akan berhadapan langsung dengan doa buruk dari Rosululloh . Nabi pernah memanjatkan doa yang sangat menggetarkan jiwa:

«اللهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»

“Ya Alloh, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia.” (HR. Muslim no. 1828)

Bayangkan jika hidup seseorang disusahkan langsung oleh Alloh akibat ia sengaja menunda-nunda tanda tangan yang menentukan nasib hajat hidup orang banyak, atau karena ia sengaja membuat aturan yang menjerat dan memeras bawahannya. Kesengsaraan yang didapatkan tidak hanya berupa kesengsaraan di dunia seperti hilangnya ketenangan hati, hancurnya keberkahan keluarga, namun juga siksaan yang pedih di Akhiroh kelak.

Seorang profesional Muslim sejati akan selalu berusaha menjadi solusi bagi orang lain, mempermudah birokrasi yang sah, ramah dalam pelayanan, dan memastikan bahwa keberadaannya di posisi tersebut membawa rohmat serta manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Abul Qosim Sa’dulloh (1435 H) berkata:

المَنْصَبُ تَكْلِيفٌ لَا تَشْرِيفٌ

“Jabatan itu beban, bukan kehormatan.” (Tarikh Al-Jazaair, 4/24)

Ketika paradigma berpikir seseorang memandang jabatan sebagai “kehormatan” (tasyrif), maka yang ada di fikirannya adalah fasilitas mewah, pengawalan ketat, penghormatan dari bawahan, dan ruang kerja yang megah. Ia akan menghalalkan segala cara untuk meraih dan mempertahankan posisi tersebut. Namun, jika paradigma berpikirnya adalah “beban” (taklif), ia akan melihat jabatan sebagai tumpukan kewajiban, malam-malam yang kurang tidur karena memikirkan strategi kerja, dan kecemasan yang mendalam akan hari perhitungan di hadapan Robb semesta alam.

Tauladan terbaik dalam mengaplikasikan konsep taklif ini adalah Amirul Mu’minin, Umar bin Khoththob (23 H). Meskipun beliau menguasai wilayah yang sangat luas mencakup Jaziroh Arob, Syam, Mesir, hingga Persia, hati beliau tidak pernah tenang dari rasa takut kepada Alloh . Beliau pernah berucap:

لَوْ عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي العِرَاقِ؛ لَظَنَنْتُ أَنَّ اللهَ سَيَسْأَلُنِي عَنْهَا: لِمَ لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيقَ يَا عُمَرَ

“Seandainya keledai terpeleset di Irak, Aku menyangka Alloh akan tanya aku: ‘Kenapa tidak kau ratakan jalannya wahai Umar?’” (Asyrotu-s Saa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 30)

Subhanalloh! Perhatikan betapa tingginya standar tanggung jawab seorang Umar bin Khoththob (23 H). Irak berada ribuan kilometer dari Madinah tempat beliau tinggal. Yang dikhawatirkan pun bukanlah manusia, melainkan seekor keledai yang tergelincir akibat jalanan rusak. Umar tahu betul bahwa setiap jengkal tanah yang berada di bawah kekuasaannya adalah tanggung jawabnya. Bagaimana dengan para pemimpin dan pemegang otoritas di zaman sekarang yang sering kali menutup mata dari penderitaan bawahannya, atau mengabaikan fasilitas publik yang rusak hingga menelan korban jiwa? Sungguh, kisah Umar ini adalah cambuk keras bagi siapa saja yang memiliki posisi kekuasaan.

Nasihat yang tidak kalah menggetarkan hati datang dari ulama tabi’in terkemuka, Fudhoil bin Iyadh, ketika beliau menjelaskan tentang makna istirja (inna lillahi wa innaa ilaihi roojiuun):

“Tahukah engkau apa tafsirnya?” Lelaki itu berkata, “Tafsirkanlah untuk kami, wahai Abu Ali.” Beliau berkata, “Ucapanmu ‘Sesungguhnya kami adalah milik Alloh’, seolah engkau berkata: Aku adalah hamba milik Alloh dan aku akan kembali kepada Alloh. Siapa mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Alloh dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan diberhentikan. Siapa mengetahui bahwa dirinya akan diberhentikan, maka hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dan siapa mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggungjawaban, maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan tersebut.” Lelaki itu bertanya, “Lalu apa solusinya?” Beliau menjawab, “Mudah.” Lelaki itu bertanya lagi, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Engkau berbuat baik pada waktu yang tersisa, niscaya akan diampuni dosamu yang telah lalu. Karena jika engkau berbuat buruk pada waktu yang tersisa, engkau akan disiksa akibat dosa yang telah lalu dan dosa yang tersisa.” (Hilyatul Awliya, Al-Ashbahani, 8/113)

Ini adalah fase kepastian yang akan dilalui oleh setiap pemilik posisi di dunia ini. Tidak peduli seberapa kuat bodyguard yang menjaganya, tidak peduli seberapa tebal benteng hukum yang melindunginya di dunia, ia pasti akan mati. Setelah kematian, ia akan dibangkitkan dari alam kubur. Di padang Mahsyar, langkah kakinya akan diberhentikan, tidak boleh bergeser satu jengkal pun, sampai ia disidang dan dimintai pertanggungjawaban secara detail atas setiap rupiah yang ia dapatkan, setiap kebijakan yang ia putuskan, dan setiap amanah yang ia pikul.

 

Bab 3: SOLUSINYA: KERJA KARENA ALLOH + PROFESIONAL

3.1 Mengubah Pekerjaan Menjadi Ibadah

Setelah kita memahami bahwa tidak ada posisi yang nyaman dan setiap posisi membawa beban ujiannya masing-masing, lalu apa solusinya? Apakah kita harus mengundurkan diri dari pekerjaan, mengisolasi diri di dalam Masjid, dan meninggalkan seluruh urusan duniawi? Tentu saja tidak. Islam adalah agama yang syamil (lengkap) dan mutakamil (sempurna), yang mengatur urusan Masjid sekaligus urusan pasar dan tempat kerja. Solusi hakiki yang ditawarkan oleh Islam adalah merombak total niat dan cara kita dalam memandang pekerjaan. Kita harus mengubah setiap tetes keringat, setiap ketikan di komputer, dan setiap keputusan rapat menjadi pundi-pundi pahala ibadah di sisi Alloh .

Alloh mengingatkan kita tentang tujuan utama penciptaan seluruh makhluk hidup:

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini tidak berarti bahwa manusia harus menghabiskan waktu 24 jam di atas sajadah untuk ruku’ dan sujud saja. Makna ibadah dalam Islam sangat luas, mencakup segala perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh , baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dhohir maupun yang batin. Ketika seorang kepala keluarga melangkahkan kakinya di pagi hari menuju tempat kerja dengan niat yang ikhlas untuk menafkahi anak dan istrinya agar terhindar dari meminta-minta, menjaga kehormatan dirinya, dan memberikan manfaat bagi kaum Muslimin, maka seluruh aktivitas kerjanya dari pagi hingga sore hari dinilai sebagai ibadah yang agung di sisi Alloh . Pekerjaan dunianya telah berubah menjadi jembatan emas menuju Akhiroh.

3.2 Menaikkan Kualitas dalam Bekerja (Itqon)

Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk sekadar bekerja atau asal-asalan dalam menunaikan tugas. Islam adalah agama yang menuntut kualitas, kesempurnaan, dan profesionalisme di dalam setiap perbuatan. Istilah profesional dalam khazanah Islam dikenal dengan kata “itqon” atau “ihsan”. Seseorang yang bekerja dengan itqon adalah mereka yang mengerahkan segala kemampuan terbaiknya, memperhatikan detail-detail kecil, jujur, tepat waktu, dan tidak melakukan kecurangan.

Rosululloh menegaskan kecintaan Alloh terhadap hamba yang memiliki etos kerja seperti ini:

«إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»

“Sesungguhnya Alloh mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan profesional/itqon.” (Shohihul Jami’, no. 1880)

Mendapatkan kecintaan dari makhluk adalah hal yang biasa, namun mendapatkan kecintaan dari Sang Pencipta alam semesta adalah puncak dari segala kesuksesan. Bagaimana cara meraihnya? Salah satu pintunya adalah lewat meja kerja kita. Ketika seorang guru mempersiapkan materi pelajaran dengan matang sebelum masuk kelas, mengajar dengan hati yang tulus, dan mengevaluasi muridnya dengan adil, maka ia telah berbuat Itqon dan berhak mendapatkan kecintaan Alloh . Sebaliknya, pekerja yang datang terlambat, pulang lebih cepat, bekerja sambil bermain game, dan membiarkan tugasnya terbengkalai, bukan hanya tidak profesional di mata manusia, namun juga telah mengundang kemurkaan Alloh .

Di sisi lain, Islam juga sangat memperhatikan hak-hak para pekerja agar roda profesionalisme ini dapat berjalan dengan seimbang dan berkeadilan. Pemberi kerja atau perusahaan diwajibkan untuk menunaikan hak finansial karyawannya tepat waktu tanpa menunda-nunda. Rosululloh memberikan sabda yang sangat indah:

«أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ، قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ»

“Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.” (HSR. Ibnu Majah no. 2443)

Hadits ini menekankan pentingnya kecepatan, ketepatan, dan keadilan dalam memberikan apresiasi atas keringat yang telah diperas oleh para pekerja. Menunda-nunda pembayaran upah padahal perusahaan dalam kondisi mampu adalah sebuah kezholiman yang nyata. Hubungan timbal balik yang sehat dalam Islam adalah: pekerja menunaikan kewajiban kerjanya dengan Itqon (profesional), dan pengusaha membayarkan hak gajinya dengan segera dan penuh.

3.3 Bahaya Kecurangan dan Makan Harta Harom

Ketika etos kerja Itqon ditinggalkan, maka pintu-pintu kecurangan (tathfif) akan terbuka lebar. Kecurangan dalam dunia kerja tidak hanya terbatas pada pedagang yang mengurangi timbangan barang dagangannya di pasar. Bentuk kecurangan modern jauh lebih variatif dan samar. Seorang karyawan yang memanipulasi laporan keuangan (markup), memalsukan tanda tangan kehadiran, menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan bisnis pribadi tanpa izin, atau sengaja memperlambat pekerjaan agar mendapatkan uang lembur, semuanya masuk ke dalam kategori orang-orang yang berbuat curang.

Alloh memberikan ancaman yang sangat keras bagi para pelaku kecurangan ini sejak awal surah Al-Muthoffifin:

﴿وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ﴾

“Celakalah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthoffifin: 1)

Kata “wail” dalam ayat ini bisa bermakna kehancuran, kecelakaan yang besar di dunia dan Akhiroh, atau sebuah lembah yang sangat dalam dan bernanah di dalam Neraka Jahannam yang disediakan khusus bagi mereka yang gemar berbuat curang. Sunggah ironis, hanya demi mendapatkan tambahan materi yang sedikit atau kemudahan sesaat di tempat kerja, seseorang rela menggadaikan keselamatan dirinya di akhirat dan menghancurkan keberkahan hidupnya di dunia.

Nabi bersabda:

«أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»

“Sembahlah Alloh seolah-olah kamu melihat-Nya. Kalau tidak, yakinlah Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)

Ini adalah puncak dari pengawasan diri (muroqobah). Seorang profesional yang memiliki mental Ihsan tidak memerlukan kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di setiap sudut ruangan, ia tidak memerlukan sidik jari (fingerprint) yang ketat, dan ia tidak perlu terus-menerus diawasi oleh manajernya agar bekerja dengan baik. Mengapa? Karena di dalam hatinya ada sebuah keyakinan yang kokoh bahwa Alloh Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik jarinya, mendengar setiap obrolannya dengan konsumen, dan mengetahui niat terdalam di lubuk hatinya. Pengawasan ilahi inilah yang melahirkan kejujuran dan kualitas kerja yang konsisten, baik saat berada di depan bos maupun saat sedang sendirian di ruang kerja.

Standar tertinggi dari Itqon adalah kesesuaian pekerjaan tersebut dengan syari’at dan keridhoan Alloh . Membaguskan kerja berarti melaksanakannya dengan ilmu, keahlian yang mumpuni, dan etika yang luhur. Menyempurnakannya berarti menyelesaikannya hingga tuntas, tidak membiarkan ada cacat yang disengaja, dan menyerahkan hasil terbaik yang bisa diupayakan.

“Siapa ambil gaji tapi nggak kerja sesuai tuntutan, berarti dia ia memakan harta yang sebagiannya harom.”

Perkataan ini sangat menohok dan seharusnya membuat tubuh kita bergetar ketakutan. Banyak di antara kita yang menuntut perusahaan agar menaikkan gaji, memberikan bonus besar, dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lengkap. Namun di saat yang sama, kita mengabaikan kewajiban kita. Kita sering membolos tanpa alasan syar’i, menunda-nunda pekerjaan hingga merugikan perusahaan, dan bekerja dengan asal-asalan. Ketidakseimbangan antara hak yang diambil dengan kewajiban yang ditunaikan dapat merubah status harta yang kita terima menjadi “suhut” (harta harom atau kotor). Dan kita semua tahu, setiap daging yang tumbuh dari harta yang harom, maka api Neraka lebih berhak untuk membakarnya. Wal ‘iyadzu billah.

 

Bab 4: BUAH DARI KERJA IHSAN

4.1 Buah Pertama: Ketenangan Hati

Banyak manusia di zaman modern ini mengorbankan ketenangan jiwa demi mengejar kedudukan yang tinggi atau pundi-pundi materi yang melimpah. Mereka menyangka bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan, meskipun cara mendapatkannya dipenuhi dengan intrik, kecurangan, dan pengabaian terhadap amanah. Kenyataan membuktikan sebaliknya; betapa banyak orang yang memiliki posisi mentereng namun hidupnya diliputi kecemasan yang tiada putus, dihantui rasa bersalah karena memakan hak orang lain, dan selalu merasa kurang.

Islam memberikan sebuah jaminan bahwa ketenangan hati yang hakiki hanya akan didapatkan oleh mereka yang selalu menyertakan Alloh dalam setiap aktivitasnya, termasuk di tempat kerja:

﴿أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ro’d: 28)

Mengingat Alloh (dzikrulloh) di tempat kerja tidak sekadar melafalkan tasbih dan tahmid di sela-sela jam kantor. Bentuk dzikir yang paling tinggi bagi seorang pekerja adalah dengan menghadirkan rasa takut dan pengawasan Alloh (muroqobah) ketika ia hendak melakukan kecurangan, serta mengingat janji pahala dari Alloh ketika ia merasa lelah dalam menunaikan amanah. Ketika seorang profesional bekerja dengan landasan Ihsan, ia tidak akan terbebani oleh penilaian manusia. Jika ia dipuji, ia tidak menjadi sombong; jika ia dikritik atau tidak diapresiasi oleh atasannya, ia tidak akan patah arang karena ia tahu bahwa Alloh tidak pernah luput dalam menilai setiap detail kinerjanya. Kesadaran inilah yang melahirkan thuma’ninah (ketenangan hati) yang tidak bisa dibeli dengan materi seberapa pun banyaknya.

4.2 Buah Kedua: Keberkahan Rizqi

Buah kedua yang akan dipetik oleh seorang Muslim yang profesional adalah turunnya keberkahan dari langit dan bumi dalam kehidupannya. Berkah bukanlah tentang seberapa besar nominal angka yang tertera dalam slip gaji bulanan, melainkan tentang kecukupan, ketenangan, manfaat, dan keselamatan yang dilahirkan dari rizki tersebut. Harta yang berkah, meskipun jumlahnya sedikit, akan mencukupi kebutuhan seluruh keluarga, mendatangkan kesehatan, dan melahirkan anak-anak yang sholih. Sebaliknya, harta yang tidak berkah akan menguap begitu saja untuk biaya pengobatan penyakit yang kronis, perbaikan barang yang sering rusak, atau dihabiskan untuk maksiat.

Alloh menjanjikan pintu-pintu keberkahan ini bagi masyarakat atau individu yang mendasarkan aktivitas kehidupan mereka di atas iman dan taqwa:

﴿وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾

“Jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami limpahkan keberkahan dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)

Dalam konteks dunia kerja, ketaqwaan diwujudkan dengan kepatuhan total terhadap aturan-aturan syari’at. Karyawan yang bertaqwa tidak akan mau menerima suap (risywah), tidak akan memanipulasi data, dan tidak akan memakan harta riba. Ketika sebuah perusahaan atau lingkungan kerja diisi oleh orang-orang yang profesional sekaligus bertaqwa, maka Alloh akan membukakan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka dan melimpahkan keberkahan yang luas pada usaha tersebut.

Syaikh At-Tuwaijiri berkata:

البَرَكَةُ هِيَ جُنْدٌ خَفِيٌّ مِنْ جُنُودِ اللهِ

“Berkah itu tentara tersembunyi dari tentara Alloh.” (Mausuah Khozin Ulum, At-Tuwaijiri, 2/693)

Sebagai tentara tersembunyi, keberkahan bekerja tanpa terlihat oleh mata dhohir manusia. Ketika ia masuk ke dalam harta yang sedikit, ia akan meluaskannya sehingga terasa lapang dan mencukupi. Ketika ia masuk ke dalam waktu yang sempit, ia akan membuatnya menjadi sangat produktif sehingga banyak urusan besar yang bisa diselesaikan. Dan ketika ia masuk ke dalam tubuh yang lemah, ia akan memberikan kekuatan untuk terus beribadah dan memberikan manfaat. Seorang profesional Muslim yang ikhlas akan selalu memprioritaskan hadirnya “tentara tersembunyi” ini di dalam rumah tangganya daripada sekadar menumpuk nominal harta yang kosong dari nilai keberkahan.

4.3 Buah Ketiga: Meraih Kecintaan Alloh

Puncak dari segala pencapaian seorang hamba di dunia ini adalah ketika ia berhasil mengetuk pintu langit dan mendapatkan kecintaan dari Robbnya, Alloh . Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi di alam semesta ini selain menjadi kekasih Alloh . Dan Islam telah membentangkan jalan yang sangat lebar untuk meraih maqom (kedudukan) mulia tersebut lewat amalan Ihsan.

Alloh menegaskan dalam kitab-Nya yang suci:

﴿وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Dan Alloh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)

Orang yang berbuat Ihsan (al-muhsinin) dalam menjalankan posisinya adalah mereka yang selalu berusaha memberikan kualitas terbaik, melebihi standar minimal yang diminta. Jika standar jam kerja kantor adalah jam 8 pagi, ia sudah siap di meja kerjanya beberapa menit sebelumnya dengan rencana kerja yang matang. Jika standar pelayanan pelanggan adalah ramah, ia menambahkan keramahan tersebut dengan ketulusan untuk membantu memecahkan masalah pelanggan hingga tuntas. Ia berbuat baik bukan karena ingin dipuji oleh manusia atau demi mengejar bonus, melainkan karena ia tahu bahwa Alloh mencintai kebaikan dan mencintai orang-orang yang berbuat Ihsan. Sungguh, alangkah indahnya kehidupan seorang hamba yang setiap aktivitas profesionalnya di dunia menjadi asbab turunnya cinta dari Ar-Rohman.

“Kerja buat dunia sesuai lamamu di dunia, kerja buat Akhirat sesuai lamamu di Akhirat.”

Nasihat ini tidak bermaksud melarang kita untuk menjadi profesional yang sukses atau menduduki posisi-posisi strategis di dunia. Nasihat ini adalah kompas penunjuk arah agar kita tidak kehilangan orientasi yang hakiki. Berapa lama kita akan hidup di dunia ini? Paling hanya 60 hingga 70 tahun, atau sedikit lebih dari itu. Sedangkan kehidupan di Akhiroh adalah kekal abadi tanpa ada batas akhir. Oleh karena itu, sangat tidak logis jika seseorang mencurahkan 100% energi, fikiran, dan waktunya untuk membaguskan posisi dunianya, sementara posisi Akhirohnya dibiarkan hancur berantakan tanpa ada bekal amal sholih yang memadai. Seorang Muslim yang cerdas akan menggunakan posisi dunianya yang sementara ini sebagai ladang investasi untuk memanen kejayaan di Akhiroh yang abadi.

 

Bab 5: PENUTUP - CALL TO ACTION

5.1 Kewajiban Muhasabah Diri di Tempat Kerja

Setiap pergantian hari, setiap tugas yang selesai dikerjakan, dan setiap rupiah yang masuk ke dalam rekening kita seharusnya menjadi bahan perenungan yang mendalam. Sudahkah kita menjadi pekerja yang amanah? Ataukah kita masih sering mencuri-curi waktu kantor untuk urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan? Sudahkah kita memberikan pelayanan yang adil kepada masyarakat? Ataukah kita masih membeda-bedakan pelayanan berdasarkan status sosial dan ketebalan dompet mereka?

Alloh memberikan peringatan yang sangat tegas kepada orang-orang yang beriman untuk selalu mengaudit diri mereka sebelum menghadapi hari perhitungan yang akbar:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Hari esok yang dimaksud dalam ayat ini adalah hari Qiyamah. Ayat ini memerintahkan kita untuk melakukan perencanaan yang matang dan evaluasi yang jujur terhadap seluruh amal perbuatan kita. Di dalam dunia manajemen modern, kita mengenal istilah evaluasi kinerja berkala. Islam telah mengajarkan konsep ini jauh sebelum ilmu manajemen modern lahir, yang dikenal dengan istilah muhasabah.

Shohabat Nabi yang mulia, Umar bin Khoththob (23 H), pernah memberikan sebuah wasiat yang sangat masyhur mengenai pentingnya muhasabah ini:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” (HR. Tirmidzi no. 2459)

Bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita bekerja di dunia, lalu kita dipanggil oleh Alloh untuk mempertanggung-jawabkan seluruh lembar kerja kita. Apakah kita akan merasa percaya diri dengan hasil kerja yang kita serahkan, ataukah kita akan tertunduk malu dan ketakutan karena lembar kerja kita dipenuhi dengan catatan kecurangan, kemalasan, dan pengabaian amanah? Lakukanlah hisab mandiri setiap malam sebelum tidur. Jika mendapati ada hak orang lain yang terzholimi, segera minta maaf dan kembalikan. Jika mendapati ada kelalaian dalam jam kerja, tebuslah dengan meningkatkan kualitas kerja di hari esok dan memperbanyak sedekah.

5.2 Menjadikan Taqwa Sebagai Kemuliaan Hakiki

Sebagai penutup dari rangkaian pembahasan buku ini, marilah kita camkan baik-baik sebuah wasiat emas yang sarat akan makna dari salah satu imam mazhab yang agung, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H). Menjelang detik-detik akhir hayat beliau, beliau meninggalkan sebuah pesan yang sangat mendalam bagi seluruh umat Islam:

مَنْ لَمْ تُعِزُّهُ التَّقْوَى، فَلاَ عِزَّ لَهُ

“Siapa yang tidak dimuliakan dengan taqwa, maka tidak ada kemuliaan baginya.” (Siyar, Adz-Dzahabi, 1/97)

Banyak orang yang mencari kemuliaan (izzah) dari pangkat yang menempel di pundaknya, dari gelar akademis yang berderet di depan dan belakang namanya, atau dari besarnya saldo investasi yang dimilikinya. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa kemuliaan yang bersumber dari perkara duniawi bersifat semu dan sementara. Jabatan bisa dicopot dalam sekejap mata, harta bisa habis terbakar atau hilang karena krisis, dan gelar tidak akan dibawa masuk ke dalam liang kubur.

Kemuliaan yang hakiki, yang kokoh, dan yang akan terus menemani seorang hamba hingga melewati pintu kubur adalah kemuliaan yang lahir dari ketaqwaan kepada Alloh . Ketika seorang Muslim menduduki suatu posisi—apakah ia seorang direktur, staf administrasi, petugas keamanan, atau ibu rumah tangga—ia tidak melihat posisi tersebut sebagai alat untuk menyombongkan diri di hadapan manusia. Ia melihat posisi tersebut sebagai sarana untuk membuktikan ketaqwaannya kepada Alloh dengan cara bekerja secara jujur, profesional, dan penuh tanggung jawab.

Semoga Alloh senantiasa membimbing hati dan langkah kaki kita di manapun kita ditempatkan, menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang amanah, dan menggolongkan kita ke dalam kelompok orang-orang yang dicintai-Nya karena selalu berbuat Ihsan dan Itqon di setiap lini kehidupan.

﴿وَآخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾

Unduh PDF dan Word

Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url

Kuliah Online Gratis S1 dan S2 Dibuka!!!

Full Bahasa Arob!

Jika belum mahir bahasa Arob, klik sini