[PDF] SEMUA POSISI ADA UJIANNYA | Alloh Cinta yang Profesional - Arfandi Al Kubary dan Nor Kandir
Muqoddimah
﷽
Segala puji
bagi Alloh ﷻ
yang telah menetapkan dunia sebagai darul ibtila` (negeri ujian dan
cobaan) dan menjadikan Akhiroh sebagai darul jaza` (negeri balasan).
Dialah Robb semesta alam yang membagi-bagikan rizqi, kedudukan, dan peran di
antara para hamba-Nya dengan keadilan dan hikmah yang maha sempurna.
Sholawat
serta salam semoga senantiasa tercurah kepada tauladan utama kita, Nabi
Muhammad ﷺ,
yang telah membimbing umat ini menuju jalan taqwa, mengajarkan hakikat amanah,
dan memberikan teladan terbaik dalam bersikap profesional di setiap lini
kehidupan.
Amma ba’du:
Kehidupan
di dunia ini tidak pernah lepas dari sunnatulloh yang bernama ujian. Seringkali
manusia menyangka bahwa ujian hanyalah berupa kemiskinan, sakit, atau
kegagalan. Padahal, kedudukan yang mapan, jabatan yang tinggi, serta posisi
pekerjaan yang nyaman pun merupakan bentuk ujian yang tidak kalah beratnya.
Tidak ada satu pun posisi di dunia ini yang 100% bersih dari beban dan tanggung
jawab. Ketika seorang hamba memahami bahwa setiap posisi yang diembannya adalah
sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Alloh ﷻ,
maka ia akan berusaha menunaikannya dengan penuh rasa takut dan harap, serta
melaksanakannya secara itqon (profesional).
Buku ini
hadir untuk mengupas hakikat ujian di setiap lini posisi kehidupan dan
bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap profesional demi meraih kecintaan
Robbnya.
Bab 1: Tidak Ada
Posisi Nyaman 100%
1.1
Hakikat Dunia Sebagai Negeri Ujian
Banyak
manusia yang tertipu dengan fatamorgana kehidupan dunia. Mereka menghabiskan
waktu, tenaga, dan fikiran untuk mencari sebuah titik di mana mereka bisa
bersantai tanpa ada gangguan, beban, atau tekanan sedikit pun. Namun, kenyataan
pahit selalu membangunkan mereka dari mimpi tersebut. Kenyataannya, tidak ada
satu pun posisi di dunia ini yang benar-benar 100% nyaman. Mengapa demikian?
Karena Alloh ﷻ
memang tidak mendesain dunia ini sebagai tempat beristirahat. Dunia adalah
medan perjuangan, tempat menanam benih, dan laboratorium ujian bagi iman
manusia.
Alloh ﷻ
telah menegaskan dalam firman-Nya mengenai batasan beban yang diberikan kepada
setiap jiwa:
﴿لَا
يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا﴾
“Alloh
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqoroh: 286)
Ayat yang
mulia ini memberikan kita sebuah pemahaman mendalam. Di satu sisi, ayat ini
mengabarkan bahwa beban kehidupan, tugas, dan ujian pasti akan datang
menghampiri setiap manusia selama ia masih bernyawa. Namun di sisi lain, ada rohmat
dan keadilan yang agung dari Alloh ﷻ, di mana Dia tidak akan
pernah meletakkan sebuah beban di atas pundak seorang hamba melainkan beban
tersebut berada dalam batas kemampuan, daya pikul, dan kesanggupan hamba
tersebut. Oleh karena itu, keluhan yang sering terlontar dari lisan manusia
mengenai beratnya pekerjaan atau posisi mereka sebenarnya hanyalah akibat dari
ketidaksiapan mental dan kurangnya rasa tawakkal, bukan karena ujian tersebut
benar-benar melewati batas kemampuan mereka.
Setiap
manusia telah ditetapkan garis takdirnya masing-masing, termasuk dalam urusan
pekerjaan, keahlian, dan posisi sosial mereka di masyarakat. Rosululloh ﷺ bersabda:
«اعْمَلُوا
فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ»
“Beramallah,
masing-masing dari kalian akan dimudahkan menuju apa yang telah ditakdirkan
untuknya.” (HR.
Al-Bukhori no. 4949 dan Muslim no. 2647)
Hadits ini
memotong akar dari segala bentuk kecemburuan sosial dan rasa tidak puas
terhadap posisi yang sedang diyakini saat ini. Ketika seorang Muslim mendapati
dirinya dimudahkan untuk menjadi seorang guru, pengusaha, pegawai, atau bahkan
seorang pekerja kasar, ia harus sadar bahwa di situlah medan ujian yang telah
Alloh ﷻ
pilihkan untuknya. Kemudahan dalam menjalankan suatu profesi atau peran
bukanlah tanda bahwa posisi tersebut bebas dari ujian, melainkan isyarat bahwa
di sanalah tempat ia harus memaksimalkan potensinya demi beribadah kepada Alloh
ﷻ.
1.2
Karakter Dasar Manusia dan Keluh Kesah
Sifat dasar
manusia yang cenderung lemah dan tergesa-gesa membuatnya sering kali luput
dalam melihat hikmah di balik ketidaknyamanan suatu posisi. Manusia sering kali
memandang rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput di halamannya
sendiri. Seorang bawahan memandang posisi atasan sangat enak karena memiliki
wewenang besar dan gaji melimpah. Sebaliknya, sang atasan merasa sangat
tertekan dengan target, manajemen, dan tanggung jawab yang berat, lalu
berangan-angan andai saja ia menjadi staf biasa yang pulang kerja tanpa membawa
beban fikiran. Ini adalah siklus keluh kesah yang tiada ujungnya.
Alloh ﷻ
menggambarkan watak asli manusia ini dalam Al-Qur’an:
﴿إِنَّ
الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا﴾
“Sungguh,
manusia diciptakan bersifat keluh kesah.” (QS. Al-Ma’arij: 19)
Apabila
manusia dibiarkan berjalan menuruti tabiat fithrohnya yang belum terdidik oleh
iman dan taqwa, maka ia akan senantiasa berada dalam kubangan keluh kesah.
Ketika ditimpa sedikit kesulitan dalam posisinya, ia langsung berputus asa, menyalahkan
keadaan, dan merasa menjadi orang yang paling menderita di dunia. Sebaliknya,
ketika ia mendapatkan kelapangan dan posisi yang menguntungkan, ia menjadi
kikir, sombong, dan lupa bahwa posisi tersebut adalah amanah yang harus
dipertanggungjawabkan. Hanya orang-orang yang mendirikan Sholat dengan khusyuk
dan menjaga keikhlasan yang mampu keluar dari lingkaran watak tercela ini.
“Istirahat
yang sempurna itu hanya di Surga. Adapun dunia adalah tempat ujian.”
Perkataan
ini laksana obat penawar bagi hati yang lelah karena mengejar kenyamanan di
dunia. Siapa yang mencari sebuah pekerjaan atau posisi yang di dalamnya tidak
ada masalah, tidak ada gesekan antar rekan kerja, tidak ada komplain dari
pelanggan, dan tidak ada keletihan fisik, maka sungguh ia sedang mencari
sesuatu yang tidak pernah Alloh ﷻ ciptakan di dunia ini.
Kenyamanan hakiki yang tanpa jeda, tanpa air mata, dan tanpa rasa lelah,
tiketnya hanya ada satu: melangkahkan kaki kanan di dalam Jannah.
Ali bin Abi
Tholib (40 H) rodhiyallohu ‘anhu memberikan pandangan yang sangat
realistis mengenai fluktuasi roda kehidupan:
الدَّهْرُ
يَوْمَانِ: يَوْمٌ لَكَ، وَيَوْمٌ عَلَيْكَ
“Hari
itu ada 2: hari untukmu, hari menentangmu.” (Al-Bashoir, Abu Hayyan At-Tauhidi, hal.
157)
Seorang
profesional yang cerdas tidak akan pernah terbuai ketika posisinya sedang
berada di atas angin, di mana semua urusan berjalan lancar dan pujian mengalir
deras. Ia tahu bahwa esok hari, bisa jadi roda berputar; ujian berupa krisis,
kesalahpahaman, atau penurunan performa bisa saja terjadi. Dengan memahami
bahwa hari-hari itu dipergilirkan, seorang Muslim akan memiliki mental yang
tangguh, tidak mudah jemawa saat sukses, dan tidak mudah remuk saat menghadapi
kegagalan di tempat kerja.
Bab 2: SETIAP
POSISI: PERAN + UJIAN MASING-MASING
2.1
Konsep Kepemimpinan dan Tanggung Jawab Universal
Setiap
manusia yang hidup di muka bumi ini, tanpa terkecuali, adalah seorang pemimpin.
Pemimpin di sini tidak melulu berarti presiden, raja, gubernur, atau direktur
utama sebuah perusahaan multinasional. Makna kepemimpinan dalam Islam jauh
lebih luas, mencakup setiap individu yang diberikan otoritas atau kendali atas
sesuatu, sekecil apa pun itu. Seorang suami adalah pemimpin di rumah tangganya,
seorang istri adalah pemimpin di dalam mengurus rumah suaminya, seorang pekerja
adalah pemimpin atas tugas-tugas yang didelegasikan kepadanya.
Rosululloh ﷺ memberikan garis panduan yang
sangat tegas mengenai hal ini:
«كُلُّكُمْ
رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Kalian
semua pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya...” (HR. Al-Bukhori no. 893 dan
Muslim no. 1829)
Hadits yang
agung ini meruntuhkan dinding pemisah yang sering dibuat manusia antara “orang
besar” dan “orang kecil”. Di hadapan Alloh ﷻ, timbangan kemuliaan dan
beratnya pertanggungjawaban diukur dari sejauh mana seseorang menunaikan amanah
pada posisi masing-masing. Seseorang yang bertugas sebagai pelayan kebersihan
di sebuah kantor akan ditanya oleh Alloh ﷻ tentang kebersihan area yang
menjadi tanggung jawabnya, tentang jam kerjanya yang jujur, dan tentang
peralatan kantor yang ia gunakan. Begitu pula sang direktur, ia akan ditanya
tentang kebijakan yang diputuskannya, keadilan dalam pembagian gaji, serta
bagaimana ia memperlakukan bawahannya. Tidak ada yang lolos dari audit ilahi
ini.
Oleh karena
itu, posisi yang lebih tinggi bukanlah alasan untuk menyombongkan diri,
melainkan alasan untuk memperbanyak istighfar dan getaran ketakutan di dalam
hati. Semakin besar wilayah kekuasaan atau cakupan kerja seseorang, maka
semakin panjang pula antrean pertanggung-jawabannya di hari Qiyamah kelak.
2.2
Bahaya Kezholiman dan Penyalahgunaan Wewenang
Salah satu
ujian terberat ketika seseorang diberikan sebuah posisi atau wewenang adalah
godaan untuk bersikap zholim, mempersulit urusan orang lain, atau bertindak
sewenang-wenang demi kepuasan pribadi atau golongan. Banyak orang yang ketika
menjadi staf biasa terlihat sangat ramah dan mudah membantu, namun ketika naik jabatan
menjadi manajer atau pejabat publik, wajahnya berubah menjadi kaku, birokrasi
dipersulit, dan pelayanan menjadi lambat kecuali jika ada “uang pelicin”.
Tindakan
mempersulit urusan kaum Muslimin dalam sebuah posisi atau jabatan adalah
perkara yang sangat berbahaya, karena pelakunya akan berhadapan langsung dengan
doa buruk dari Rosululloh ﷺ.
Nabi ﷺ
pernah memanjatkan doa yang sangat menggetarkan jiwa:
«اللهُمَّ،
مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ»
“Ya
Alloh, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu menyusahkan mereka, maka
susahkanlah dia.” (HR.
Muslim no. 1828)
Bayangkan
jika hidup seseorang disusahkan langsung oleh Alloh ﷻ akibat ia sengaja
menunda-nunda tanda tangan yang menentukan nasib hajat hidup orang banyak, atau
karena ia sengaja membuat aturan yang menjerat dan memeras bawahannya.
Kesengsaraan yang didapatkan tidak hanya berupa kesengsaraan di dunia seperti
hilangnya ketenangan hati, hancurnya keberkahan keluarga, namun juga siksaan
yang pedih di Akhiroh kelak.
Seorang
profesional Muslim sejati akan selalu berusaha menjadi solusi bagi orang lain,
mempermudah birokrasi yang sah, ramah dalam pelayanan, dan memastikan bahwa
keberadaannya di posisi tersebut membawa rohmat serta manfaat bagi lingkungan
sekitarnya.
Abul Qosim
Sa’dulloh (1435 H) berkata:
المَنْصَبُ
تَكْلِيفٌ لَا تَشْرِيفٌ
“Jabatan
itu beban, bukan kehormatan.” (Tarikh Al-Jazaair, 4/24)
Ketika
paradigma berpikir seseorang memandang jabatan sebagai “kehormatan” (tasyrif),
maka yang ada di fikirannya adalah fasilitas mewah, pengawalan ketat,
penghormatan dari bawahan, dan ruang kerja yang megah. Ia akan menghalalkan
segala cara untuk meraih dan mempertahankan posisi tersebut. Namun, jika
paradigma berpikirnya adalah “beban” (taklif), ia akan melihat
jabatan sebagai tumpukan kewajiban, malam-malam yang kurang tidur karena
memikirkan strategi kerja, dan kecemasan yang mendalam akan hari perhitungan di
hadapan Robb semesta alam.
Tauladan
terbaik dalam mengaplikasikan konsep taklif ini adalah Amirul Mu’minin,
Umar bin Khoththob (23 H). Meskipun beliau menguasai wilayah yang sangat luas
mencakup Jaziroh Arob, Syam, Mesir, hingga Persia, hati beliau tidak pernah
tenang dari rasa takut kepada Alloh ﷻ. Beliau pernah berucap:
لَوْ
عَثَرَتْ بَغْلَةٌ فِي العِرَاقِ؛ لَظَنَنْتُ أَنَّ اللهَ سَيَسْأَلُنِي عَنْهَا: لِمَ
لَمْ تُسَوِّ لَهَا الطَّرِيقَ يَا عُمَرَ
“Seandainya
keledai terpeleset di Irak, Aku menyangka Alloh akan tanya aku: ‘Kenapa tidak
kau ratakan jalannya wahai Umar?’” (Asyrotu-s Saa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 30)
Subhanalloh!
Perhatikan betapa tingginya standar tanggung jawab seorang Umar bin Khoththob
(23 H). Irak berada ribuan kilometer dari Madinah tempat beliau tinggal. Yang
dikhawatirkan pun bukanlah manusia, melainkan seekor keledai yang tergelincir
akibat jalanan rusak. Umar tahu betul bahwa setiap jengkal tanah yang berada di
bawah kekuasaannya adalah tanggung jawabnya. Bagaimana dengan para pemimpin dan
pemegang otoritas di zaman sekarang yang sering kali menutup mata dari
penderitaan bawahannya, atau mengabaikan fasilitas publik yang rusak hingga
menelan korban jiwa? Sungguh, kisah Umar ini adalah cambuk keras bagi siapa
saja yang memiliki posisi kekuasaan.
Nasihat
yang tidak kalah menggetarkan hati datang dari ulama tabi’in terkemuka, Fudhoil
bin Iyadh, ketika beliau menjelaskan tentang makna istirja (inna
lillahi wa innaa ilaihi roojiuun):
“Tahukah
engkau apa tafsirnya?” Lelaki itu berkata, “Tafsirkanlah untuk kami, wahai Abu
Ali.” Beliau berkata, “Ucapanmu ‘Sesungguhnya kami adalah milik Alloh’,
seolah engkau berkata: Aku adalah hamba milik Alloh dan aku akan kembali kepada
Alloh. Siapa mengetahui bahwa dirinya adalah hamba Alloh dan akan kembali
kepada-Nya, maka hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan diberhentikan. Siapa
mengetahui bahwa dirinya akan diberhentikan, maka hendaknya ia mengetahui bahwa
ia akan dimintai pertanggungjawaban. Dan siapa mengetahui bahwa dirinya akan
dimintai pertanggungjawaban, maka hendaknya ia mempersiapkan jawaban untuk
pertanyaan tersebut.” Lelaki itu bertanya, “Lalu apa solusinya?” Beliau
menjawab, “Mudah.” Lelaki itu bertanya lagi, “Apa itu?” Beliau menjawab, “Engkau
berbuat baik pada waktu yang tersisa, niscaya akan diampuni dosamu yang telah
lalu. Karena jika engkau berbuat buruk pada waktu yang tersisa, engkau akan
disiksa akibat dosa yang telah lalu dan dosa yang tersisa.” (Hilyatul
Awliya, Al-Ashbahani, 8/113)
Ini adalah
fase kepastian yang akan dilalui oleh setiap pemilik posisi di dunia ini. Tidak
peduli seberapa kuat bodyguard yang menjaganya, tidak peduli seberapa tebal
benteng hukum yang melindunginya di dunia, ia pasti akan mati. Setelah
kematian, ia akan dibangkitkan dari alam kubur. Di padang Mahsyar, langkah
kakinya akan diberhentikan, tidak boleh bergeser satu jengkal pun, sampai ia
disidang dan dimintai pertanggungjawaban secara detail atas setiap rupiah yang
ia dapatkan, setiap kebijakan yang ia putuskan, dan setiap amanah yang ia
pikul.
Bab 3: SOLUSINYA:
KERJA KARENA ALLOH + PROFESIONAL
3.1
Mengubah Pekerjaan Menjadi Ibadah
Setelah
kita memahami bahwa tidak ada posisi yang nyaman dan setiap posisi membawa
beban ujiannya masing-masing, lalu apa solusinya? Apakah kita harus
mengundurkan diri dari pekerjaan, mengisolasi diri di dalam Masjid, dan
meninggalkan seluruh urusan duniawi? Tentu saja tidak. Islam adalah agama yang syamil
(lengkap) dan mutakamil (sempurna), yang mengatur urusan Masjid
sekaligus urusan pasar dan tempat kerja. Solusi hakiki yang ditawarkan oleh
Islam adalah merombak total niat dan cara kita dalam memandang pekerjaan. Kita
harus mengubah setiap tetes keringat, setiap ketikan di komputer, dan setiap
keputusan rapat menjadi pundi-pundi pahala ibadah di sisi Alloh ﷻ.
Alloh ﷻ
mengingatkan kita tentang tujuan utama penciptaan seluruh makhluk hidup:
﴿وَمَا
خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴾
“Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini
tidak berarti bahwa manusia harus menghabiskan waktu 24 jam di atas sajadah
untuk ruku’ dan sujud saja. Makna ibadah dalam Islam sangat luas, mencakup
segala perkara yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh ﷻ, baik berupa perkataan maupun
perbuatan, yang dhohir maupun yang batin. Ketika seorang kepala keluarga
melangkahkan kakinya di pagi hari menuju tempat kerja dengan niat yang ikhlas
untuk menafkahi anak dan istrinya agar terhindar dari meminta-minta, menjaga
kehormatan dirinya, dan memberikan manfaat bagi kaum Muslimin, maka seluruh
aktivitas kerjanya dari pagi hingga sore hari dinilai sebagai ibadah yang agung
di sisi Alloh ﷻ.
Pekerjaan dunianya telah berubah menjadi jembatan emas menuju Akhiroh.
3.2
Menaikkan Kualitas dalam Bekerja (Itqon)
Islam tidak
hanya memerintahkan umatnya untuk sekadar bekerja atau asal-asalan dalam
menunaikan tugas. Islam adalah agama yang menuntut kualitas, kesempurnaan, dan
profesionalisme di dalam setiap perbuatan. Istilah profesional dalam khazanah
Islam dikenal dengan kata “itqon” atau “ihsan”. Seseorang yang
bekerja dengan itqon adalah mereka yang mengerahkan segala kemampuan
terbaiknya, memperhatikan detail-detail kecil, jujur, tepat waktu, dan tidak
melakukan kecurangan.
Rosululloh ﷺ menegaskan kecintaan Alloh ﷻ
terhadap hamba yang memiliki etos kerja seperti ini:
«إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ»
“Sesungguhnya
Alloh mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan,
dia melakukannya dengan profesional/itqon.” (Shohihul Jami’, no. 1880)
Mendapatkan
kecintaan dari makhluk adalah hal yang biasa, namun mendapatkan kecintaan dari
Sang Pencipta alam semesta adalah puncak dari segala kesuksesan. Bagaimana cara
meraihnya? Salah satu pintunya adalah lewat meja kerja kita. Ketika seorang
guru mempersiapkan materi pelajaran dengan matang sebelum masuk kelas, mengajar
dengan hati yang tulus, dan mengevaluasi muridnya dengan adil, maka ia telah
berbuat Itqon dan berhak mendapatkan kecintaan Alloh ﷻ. Sebaliknya, pekerja yang
datang terlambat, pulang lebih cepat, bekerja sambil bermain game, dan
membiarkan tugasnya terbengkalai, bukan hanya tidak profesional di mata
manusia, namun juga telah mengundang kemurkaan Alloh ﷻ.
Di sisi
lain, Islam juga sangat memperhatikan hak-hak para pekerja agar roda profesionalisme
ini dapat berjalan dengan seimbang dan berkeadilan. Pemberi kerja atau
perusahaan diwajibkan untuk menunaikan hak finansial karyawannya tepat waktu
tanpa menunda-nunda. Rosululloh ﷺ memberikan sabda yang sangat indah:
«أَعْطُوا
الْأَجِيرَ أَجْرَهُ، قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ»
“Berikanlah
upah pekerja sebelum keringatnya kering.” (HSR. Ibnu Majah no. 2443)
Hadits ini
menekankan pentingnya kecepatan, ketepatan, dan keadilan dalam memberikan
apresiasi atas keringat yang telah diperas oleh para pekerja. Menunda-nunda
pembayaran upah padahal perusahaan dalam kondisi mampu adalah sebuah kezholiman
yang nyata. Hubungan timbal balik yang sehat dalam Islam adalah: pekerja
menunaikan kewajiban kerjanya dengan Itqon (profesional), dan pengusaha membayarkan
hak gajinya dengan segera dan penuh.
3.3
Bahaya Kecurangan dan Makan Harta Harom
Ketika etos
kerja Itqon ditinggalkan, maka pintu-pintu kecurangan (tathfif) akan
terbuka lebar. Kecurangan dalam dunia kerja tidak hanya terbatas pada pedagang
yang mengurangi timbangan barang dagangannya di pasar. Bentuk kecurangan modern
jauh lebih variatif dan samar. Seorang karyawan yang memanipulasi laporan
keuangan (markup), memalsukan tanda tangan kehadiran, menggunakan
fasilitas kantor untuk kepentingan bisnis pribadi tanpa izin, atau sengaja
memperlambat pekerjaan agar mendapatkan uang lembur, semuanya masuk ke dalam
kategori orang-orang yang berbuat curang.
Alloh ﷻ
memberikan ancaman yang sangat keras bagi para pelaku kecurangan ini sejak awal
surah Al-Muthoffifin:
﴿وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ﴾
“Celakalah
bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthoffifin: 1)
Kata “wail”
dalam ayat ini bisa bermakna kehancuran, kecelakaan yang besar di dunia dan
Akhiroh, atau sebuah lembah yang sangat dalam dan bernanah di dalam Neraka
Jahannam yang disediakan khusus bagi mereka yang gemar berbuat curang. Sunggah
ironis, hanya demi mendapatkan tambahan materi yang sedikit atau kemudahan
sesaat di tempat kerja, seseorang rela menggadaikan keselamatan dirinya di
akhirat dan menghancurkan keberkahan hidupnya di dunia.
Nabi ﷺ bersabda:
«أَنْ
تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ»
“Sembahlah
Alloh seolah-olah kamu melihat-Nya. Kalau tidak, yakinlah Dia melihatmu.” (HR. Muslim no. 8)
Ini adalah
puncak dari pengawasan diri (muroqobah). Seorang profesional yang
memiliki mental Ihsan tidak memerlukan kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di
setiap sudut ruangan, ia tidak memerlukan sidik jari (fingerprint) yang
ketat, dan ia tidak perlu terus-menerus diawasi oleh manajernya agar bekerja
dengan baik. Mengapa? Karena di dalam hatinya ada sebuah keyakinan yang kokoh
bahwa Alloh ﷻ
Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar senantiasa mengawasi setiap gerak-gerik
jarinya, mendengar setiap obrolannya dengan konsumen, dan mengetahui niat
terdalam di lubuk hatinya. Pengawasan ilahi inilah yang melahirkan kejujuran
dan kualitas kerja yang konsisten, baik saat berada di depan bos maupun saat
sedang sendirian di ruang kerja.
Standar
tertinggi dari Itqon adalah kesesuaian pekerjaan tersebut dengan syari’at dan
keridhoan Alloh ﷻ.
Membaguskan kerja berarti melaksanakannya dengan ilmu, keahlian yang mumpuni,
dan etika yang luhur. Menyempurnakannya berarti menyelesaikannya hingga tuntas,
tidak membiarkan ada cacat yang disengaja, dan menyerahkan hasil terbaik yang
bisa diupayakan.
“Siapa
ambil gaji tapi nggak kerja sesuai tuntutan, berarti dia ia memakan harta yang
sebagiannya harom.”
Perkataan
ini sangat menohok dan seharusnya membuat tubuh kita bergetar ketakutan. Banyak
di antara kita yang menuntut perusahaan agar menaikkan gaji, memberikan bonus
besar, dan menyediakan fasilitas kesehatan yang lengkap. Namun di saat yang
sama, kita mengabaikan kewajiban kita. Kita sering membolos tanpa alasan syar’i,
menunda-nunda pekerjaan hingga merugikan perusahaan, dan bekerja dengan
asal-asalan. Ketidakseimbangan antara hak yang diambil dengan kewajiban yang
ditunaikan dapat merubah status harta yang kita terima menjadi “suhut”
(harta harom atau kotor). Dan kita semua tahu, setiap daging yang tumbuh dari
harta yang harom, maka api Neraka lebih berhak untuk membakarnya. Wal ‘iyadzu
billah.
Bab 4: BUAH DARI
KERJA IHSAN
4.1
Buah Pertama: Ketenangan Hati
Banyak
manusia di zaman modern ini mengorbankan ketenangan jiwa demi mengejar
kedudukan yang tinggi atau pundi-pundi materi yang melimpah. Mereka menyangka
bahwa kebahagiaan terletak pada banyaknya harta yang berhasil dikumpulkan,
meskipun cara mendapatkannya dipenuhi dengan intrik, kecurangan, dan pengabaian
terhadap amanah. Kenyataan membuktikan sebaliknya; betapa banyak orang yang
memiliki posisi mentereng namun hidupnya diliputi kecemasan yang tiada putus,
dihantui rasa bersalah karena memakan hak orang lain, dan selalu merasa kurang.
Islam
memberikan sebuah jaminan bahwa ketenangan hati yang hakiki hanya akan
didapatkan oleh mereka yang selalu menyertakan Alloh ﷻ dalam setiap aktivitasnya,
termasuk di tempat kerja:
﴿أَلَا
بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾
“Ingatlah,
hanya dengan mengingat Alloh hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ro’d: 28)
Mengingat
Alloh ﷻ
(dzikrulloh) di tempat kerja tidak sekadar melafalkan tasbih dan tahmid di
sela-sela jam kantor. Bentuk dzikir yang paling tinggi bagi seorang pekerja
adalah dengan menghadirkan rasa takut dan pengawasan Alloh ﷻ (muroqobah)
ketika ia hendak melakukan kecurangan, serta mengingat janji pahala dari Alloh ﷻ
ketika ia merasa lelah dalam menunaikan amanah. Ketika seorang profesional
bekerja dengan landasan Ihsan, ia tidak akan terbebani oleh penilaian manusia.
Jika ia dipuji, ia tidak menjadi sombong; jika ia dikritik atau tidak
diapresiasi oleh atasannya, ia tidak akan patah arang karena ia tahu bahwa
Alloh ﷻ
tidak pernah luput dalam menilai setiap detail kinerjanya. Kesadaran inilah
yang melahirkan thuma’ninah (ketenangan hati) yang tidak bisa dibeli
dengan materi seberapa pun banyaknya.
4.2
Buah Kedua: Keberkahan Rizqi
Buah kedua
yang akan dipetik oleh seorang Muslim yang profesional adalah turunnya
keberkahan dari langit dan bumi dalam kehidupannya. Berkah bukanlah tentang
seberapa besar nominal angka yang tertera dalam slip gaji bulanan, melainkan
tentang kecukupan, ketenangan, manfaat, dan keselamatan yang dilahirkan dari
rizki tersebut. Harta yang berkah, meskipun jumlahnya sedikit, akan mencukupi
kebutuhan seluruh keluarga, mendatangkan kesehatan, dan melahirkan anak-anak
yang sholih. Sebaliknya, harta yang tidak berkah akan menguap begitu saja untuk
biaya pengobatan penyakit yang kronis, perbaikan barang yang sering rusak, atau
dihabiskan untuk maksiat.
Alloh ﷻ
menjanjikan pintu-pintu keberkahan ini bagi masyarakat atau individu yang
mendasarkan aktivitas kehidupan mereka di atas iman dan taqwa:
﴿وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ
السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ﴾
“Jika
penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami limpahkan keberkahan dari
langit dan bumi.” (QS.
Al-A’rof: 96)
Dalam
konteks dunia kerja, ketaqwaan diwujudkan dengan kepatuhan total terhadap aturan-aturan
syari’at. Karyawan yang bertaqwa tidak akan mau menerima suap (risywah),
tidak akan memanipulasi data, dan tidak akan memakan harta riba. Ketika sebuah
perusahaan atau lingkungan kerja diisi oleh orang-orang yang profesional
sekaligus bertaqwa, maka Alloh ﷻ akan membukakan jalan keluar
dari arah yang tidak disangka-sangka dan melimpahkan keberkahan yang luas pada
usaha tersebut.
Syaikh
At-Tuwaijiri berkata:
البَرَكَةُ
هِيَ جُنْدٌ خَفِيٌّ مِنْ جُنُودِ اللهِ
“Berkah
itu tentara tersembunyi dari tentara Alloh.” (Mausuah Khozin Ulum, At-Tuwaijiri, 2/693)
Sebagai
tentara tersembunyi, keberkahan bekerja tanpa terlihat oleh mata dhohir
manusia. Ketika ia masuk ke dalam harta yang sedikit, ia akan meluaskannya
sehingga terasa lapang dan mencukupi. Ketika ia masuk ke dalam waktu yang
sempit, ia akan membuatnya menjadi sangat produktif sehingga banyak urusan
besar yang bisa diselesaikan. Dan ketika ia masuk ke dalam tubuh yang lemah, ia
akan memberikan kekuatan untuk terus beribadah dan memberikan manfaat. Seorang
profesional Muslim yang ikhlas akan selalu memprioritaskan hadirnya “tentara
tersembunyi” ini di dalam rumah tangganya daripada sekadar menumpuk nominal
harta yang kosong dari nilai keberkahan.
4.3
Buah Ketiga: Meraih Kecintaan Alloh
Puncak dari
segala pencapaian seorang hamba di dunia ini adalah ketika ia berhasil mengetuk
pintu langit dan mendapatkan kecintaan dari Robbnya, Alloh ﷻ.
Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi di alam semesta ini selain menjadi
kekasih Alloh ﷻ.
Dan Islam telah membentangkan jalan yang sangat lebar untuk meraih maqom
(kedudukan) mulia tersebut lewat amalan Ihsan.
Alloh ﷻ
menegaskan dalam kitab-Nya yang suci:
﴿وَاللَّهُ
يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ﴾
“Dan
Alloh mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. Ali ‘Imron: 134)
Orang yang
berbuat Ihsan (al-muhsinin) dalam menjalankan posisinya adalah mereka
yang selalu berusaha memberikan kualitas terbaik, melebihi standar minimal yang
diminta. Jika standar jam kerja kantor adalah jam 8 pagi, ia sudah siap di meja
kerjanya beberapa menit sebelumnya dengan rencana kerja yang matang. Jika
standar pelayanan pelanggan adalah ramah, ia menambahkan keramahan tersebut
dengan ketulusan untuk membantu memecahkan masalah pelanggan hingga tuntas. Ia
berbuat baik bukan karena ingin dipuji oleh manusia atau demi mengejar bonus,
melainkan karena ia tahu bahwa Alloh ﷻ mencintai kebaikan dan
mencintai orang-orang yang berbuat Ihsan. Sungguh, alangkah indahnya kehidupan
seorang hamba yang setiap aktivitas profesionalnya di dunia menjadi asbab
turunnya cinta dari Ar-Rohman.
“Kerja
buat dunia sesuai lamamu di dunia, kerja buat Akhirat sesuai lamamu di Akhirat.”
Nasihat ini
tidak bermaksud melarang kita untuk menjadi profesional yang sukses atau
menduduki posisi-posisi strategis di dunia. Nasihat ini adalah kompas penunjuk
arah agar kita tidak kehilangan orientasi yang hakiki. Berapa lama kita akan
hidup di dunia ini? Paling hanya 60 hingga 70 tahun, atau sedikit lebih dari
itu. Sedangkan kehidupan di Akhiroh adalah kekal abadi tanpa ada batas akhir.
Oleh karena itu, sangat tidak logis jika seseorang mencurahkan 100% energi,
fikiran, dan waktunya untuk membaguskan posisi dunianya, sementara posisi
Akhirohnya dibiarkan hancur berantakan tanpa ada bekal amal sholih yang
memadai. Seorang Muslim yang cerdas akan menggunakan posisi dunianya yang
sementara ini sebagai ladang investasi untuk memanen kejayaan di Akhiroh yang
abadi.
Bab 5: PENUTUP -
CALL TO ACTION
5.1
Kewajiban Muhasabah Diri di Tempat Kerja
Setiap
pergantian hari, setiap tugas yang selesai dikerjakan, dan setiap rupiah yang
masuk ke dalam rekening kita seharusnya menjadi bahan perenungan yang mendalam.
Sudahkah kita menjadi pekerja yang amanah? Ataukah kita masih sering
mencuri-curi waktu kantor untuk urusan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan
pekerjaan? Sudahkah kita memberikan pelayanan yang adil kepada masyarakat?
Ataukah kita masih membeda-bedakan pelayanan berdasarkan status sosial dan
ketebalan dompet mereka?
Alloh ﷻ
memberikan peringatan yang sangat tegas kepada orang-orang yang beriman untuk
selalu mengaudit diri mereka sebelum menghadapi hari perhitungan yang akbar:
﴿يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ﴾
“Wahai
orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap orang
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Hari esok
yang dimaksud dalam ayat ini adalah hari Qiyamah. Ayat ini memerintahkan kita
untuk melakukan perencanaan yang matang dan evaluasi yang jujur terhadap
seluruh amal perbuatan kita. Di dalam dunia manajemen modern, kita mengenal
istilah evaluasi kinerja berkala. Islam telah mengajarkan konsep ini jauh
sebelum ilmu manajemen modern lahir, yang dikenal dengan istilah muhasabah.
Shohabat
Nabi yang mulia, Umar bin Khoththob (23 H), pernah memberikan sebuah wasiat
yang sangat masyhur mengenai pentingnya muhasabah ini:
حَاسِبُوا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah
dirimu sebelum kamu dihisab.” (HR. Tirmidzi no. 2459)
Bayangkan jika
hari ini adalah hari terakhir kita bekerja di dunia, lalu kita dipanggil oleh
Alloh ﷻ
untuk mempertanggung-jawabkan seluruh lembar kerja kita. Apakah kita akan
merasa percaya diri dengan hasil kerja yang kita serahkan, ataukah kita akan
tertunduk malu dan ketakutan karena lembar kerja kita dipenuhi dengan catatan
kecurangan, kemalasan, dan pengabaian amanah? Lakukanlah hisab mandiri setiap
malam sebelum tidur. Jika mendapati ada hak orang lain yang terzholimi, segera
minta maaf dan kembalikan. Jika mendapati ada kelalaian dalam jam kerja,
tebuslah dengan meningkatkan kualitas kerja di hari esok dan memperbanyak
sedekah.
5.2
Menjadikan Taqwa Sebagai Kemuliaan Hakiki
Sebagai
penutup dari rangkaian pembahasan buku ini, marilah kita camkan baik-baik
sebuah wasiat emas yang sarat akan makna dari salah satu imam mazhab yang
agung, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H). Menjelang detik-detik akhir
hayat beliau, beliau meninggalkan sebuah pesan yang sangat mendalam bagi
seluruh umat Islam:
مَنْ
لَمْ تُعِزُّهُ التَّقْوَى، فَلاَ عِزَّ لَهُ
“Siapa
yang tidak dimuliakan dengan taqwa, maka tidak ada kemuliaan baginya.” (Siyar, Adz-Dzahabi, 1/97)
Banyak
orang yang mencari kemuliaan (izzah) dari pangkat yang menempel di
pundaknya, dari gelar akademis yang berderet di depan dan belakang namanya,
atau dari besarnya saldo investasi yang dimilikinya. Namun, sejarah telah
membuktikan bahwa kemuliaan yang bersumber dari perkara duniawi bersifat semu
dan sementara. Jabatan bisa dicopot dalam sekejap mata, harta bisa habis
terbakar atau hilang karena krisis, dan gelar tidak akan dibawa masuk ke dalam
liang kubur.
Kemuliaan
yang hakiki, yang kokoh, dan yang akan terus menemani seorang hamba hingga
melewati pintu kubur adalah kemuliaan yang lahir dari ketaqwaan kepada Alloh ﷻ.
Ketika seorang Muslim menduduki suatu posisi—apakah ia seorang direktur, staf
administrasi, petugas keamanan, atau ibu rumah tangga—ia tidak melihat posisi
tersebut sebagai alat untuk menyombongkan diri di hadapan manusia. Ia melihat posisi
tersebut sebagai sarana untuk membuktikan ketaqwaannya kepada Alloh ﷻ
dengan cara bekerja secara jujur, profesional, dan penuh tanggung jawab.
Semoga
Alloh ﷻ
senantiasa membimbing hati dan langkah kaki kita di manapun kita ditempatkan,
menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang amanah, dan menggolongkan kita ke dalam
kelompok orang-orang yang dicintai-Nya karena selalu berbuat Ihsan dan Itqon di
setiap lini kehidupan.
﴿وَآخِرُ
دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾
