[]

44 Faidah 10 Awal Dzulhijjah - Syaikh Muhammad Al-Munajjid - PUSTAKA SYABAB

 44 Faidah 10 Awal Dzulhijjah - Syaikh Muhammad Al-Munajjid - PUSTAKA SYABAB Download PDF or Word 44 Faidah 10 Awal Dzulhijjah 1. Allah men...

 44 Faidah 10 Awal Dzulhijjah - Syaikh Muhammad Al-Munajjid - PUSTAKA SYABAB


Download PDF or Word


44 Faidah 10 Awal Dzulhijjah

1. Allah menjadikan sebagian makhluk-Nya lebih utama dari makhluk lainnya, mengangkat kedudukan sebagian makhluk-Nya atas makhluk lainnya. Allah menjadikan sebagian hari dan bulan lebih utama dari selainnya, lalu menjadikan 10 awal Dzulhijjah lebih utama dari semua hari, lalu menjadikan hari terbaik adalah hari Nahr (hari Qurban/ Idul Adha/ 10 Dzulhijjah), dan menjadikan hari Jum’at sebagai hari terbaik dalam sepekan. Sementara malam terbaik adalah 10 akhir Romadhon, dan malam terbaik dari 10 tersebut adalah Lailatul Qodr (Malam Kemuliaan).

2. Pada hari-hari sepanjang tahun, Allah memiliki hari-hari istimewa yang dikaruniakan kepada hamba-hamba-Nya yang bertauhid, yaitu 10 awal Dzulhijjah, yang merupakan musim besar untuk ketaatan, yang orang-orang beriman mendekatkan dirinya kepada Allah, yang dirindukan oleh hamba-hamba Allah yang bertauhid, untuk menaikkan derajat, menutup kekosongan, mengisi kekurangan, dan mengganti apa yang terluput. Maka kita harus bersungguh-sungguh di hari-hari tersebut dan harus mencari rohmat Allah yang banyak.

3. Sepuluh awal Dzulhijjah merupakan hari terbaik sepanjang tahun secara mutlak. Disebutkan dalam hadits:

«مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ»

“Tidak ada hari-hari sepanjang tahun yang amal sholih lebih dicintai Allah pada hari-hari tersebut melebihi 10 awal Dzulhijjah?”

Para Shohabat bertanya: “Wahai Rosulullah, tidak pula jihad di jalan Allah?” Jawab beliau:

«وَلَا الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ»

“Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar berjihad membawa jiwa dan hartanya dan tidak ada yang kembali pulang[1].”[2]

Dalam riwayat lain: “Tidak ada amal yang paling utama.” Dalam riwayat lain: “... yang paling diharapkan pahalanya (أَرْجَى).” Dalam riwayat lain: “... yang lebih suci (أَزْكَى).”

4. Amal fardhu pada 10 hari ini lebih utama dari amal fardhu di hari selainnya, dan pelipatan pahalanya jauh lebih besar. Begitu juga amal sunnah di 10 hari ini lebih utama dari amal sunnah di hari selainnya. Akan tetapi amal sunnah tetap tidak bisa lebih utama dari amal fardhu, meskipun dikerjakan di 10 hari ini.

5. Maka sholat di 10 hari ini lebih utama dari sholat di hari manapun sepanjang tahun. Demikian pula puasa, membaca Al-Quran, berdzikir, berdoa, merendah kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali rahim, menyelesaikan hajat manusia, mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, berbuat baik kepada tetangga, memberi makan, dan amal-amal sosial lainnya.

6. Keutamaan 10 hari ini dan amal sholih di dalamnya, mencakup di siang hari maupun malam hari. Akan tetapi 10 akhir malam[3] Romadhon lebih utama dari 10 awal siang[4] Dzulhijjah, karena mengandung Laulatul Qodr. Sementara siang dari 10 awal Dzulhijjah lebih utama karena mengandung hari Nahr (hari ke-10), hari Arofah (ke-9), dan hari Tarwiyah (ke-8).

7. Pada 10 awal Dzulhijjah terkumpul berbagai jenis ibadah besar yang tidak ada pada hari-hari selainnya yaitu haji dan kurban, disamping sholat, puasa, dan sedekah.

8. Di antara keutamaan 10 Dzulhijjah adalah Allah bersumpah dengan malam-malamnya yang utama:

﴿وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ

“Demi fajar[5] dan demi 10 malam (Dzulhijjah).” (QS. Al-Fajr: 1-2)

Yang dimaksud 10 malam adalah 10 malam Dzulhijjah, menurut pendapat jumhur (mayoritas) ulama Salaf dan ahli tafsir.

9. Termasuk keutamaan 10 Dzulhijjah adalah ayyāmul ma’lūmāt (hari-hari yang telah diketahui), penuh barokah yang Allah perintahkan untuk memperbanyak dzikir padanya, atas karunia kurban binatang ternak (unta, sapi, kambing), sebagaimana firman Allah:

﴿لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Agar mereka menyaksikan manfaat (karunia) Allah untuk mereka, dan agar mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari-hari yang sudah diketahui, atas binatang ternak yang dikaruniakan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28)

Yang dimaksud hari-hari yang diketahui adalah 10 awal Dzulhijjah, menurut jumhur (mayoritas) ulama dan ahli tafsir.

10. Sepuluh Dzulhijjah ini merupakan penutup bulan yang dimaklumi yaitu bulan haji, yang Allah berfirman:

﴿الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ

“Haji (dilaksanakan pada) bulan-bulan yang sudah dimaklumi.” (QS. Al-Baqoroh: 197)

Yaitu Syawwal, Dzulqo’dah, dan 10 Dzulhijjah[6], sebagaimana yang diriwayatkan dari banyak Shohabat, seperti Umar, Abdullah bin Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, dan lain-lain, dan ini pendapat mayoritas Tabiin[7].

11. Termasuk keutamaan 10 Dzulhijjah adalah terdapat hari Arofah, yang pada hari itu Allah menyempurnakan agama Islam dan menyempurnakan nikmat atas kaum Muslimin, sebagaimana firman-Nya:

﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا﴾

“Pada hari ini (Arofah, 9 Dzulhijjah) telah Aku sempurnakan agama untukmu, Aku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan Aku ridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)

12. Termasuk keutamaan 10 Dzulhijjah adalah terdapat hari Nahr (hari kurban), yaitu hari Haji Akbar, dan ia merupakan hari terbaik di sisi Allah, seperti disebutkan dalam hadits:

«إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ»

“Sungguh hari paling agung di sisi Allah adalah hari Nahr lalu hari Qorr[8].”[9]

13. Amal sholih pada 10 Dzulhijjah lebih utama dari selainnya, karena keutamaan waktu bagi manusia, dan keutamaan waktu dan tempat bagi jamaah haji di Baitul Harom.

14. Dahulu para Salaf sangat bersungguh-sungguh mengisi 10 Dzulhijjah dengan berbagai ketaatan. Mereka sangat mengagungkannya.

Sa’id bin Jubair $ apabila memasuki 10 Dzulhijjah sangat bersungguh-sungguh hingga hampir ia tidak mampu (menambah ibadah lagi). Ia mendorong orang-orang untuk mengisi 10 malam Dzulhijjah dengan berkata:

«لَا تُطْفِئُوا سُرُجَكُمْ لَيَالِي الْعَشْرِ»

“Kalian jangan memadamkan lampu pada malam-malam 10 Dzulhijjah.”[10]

Abu Utsman An-Nahdi $ berkata:

«كَانُوا يُعَظِّمُونَ ثَلَاثَ عَشَرَاتٍ: الْعَشْرُ الْأَخِيرُ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْعَشْرُ الْأُوَلُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَالْعَشْرُ الْأُوَلُ مِنَ الْمُحَرَّمِ»

“Dahulu orang-orang (di masa Shohabat) mengagungkan tiga yang 10 hari, yaitu 10 akhir Romadhon, 10 awal Dzulhijjah, dan 10 awal Muharrom.”[11]

15. Hendaknya Muslim bersegera memanfaatkan 10 Dzulhijjah ini baik siang maupun malamnya, dengan ibadah dan amal sholih, serta mengisi waktu-waktunya dengan berbagai ketaatan dan ibadah.

Aneh sekali, kita sangat semangat beramal pada Romadhon lalu malas beramal pada 10 Dzulhijjah, padahal ia lebih utama dari siang Romadhon, amal pada hari-hari itu lebih dicintai dan lebih agung di sisi Allah.

16. Waspadalah dari menyia-nyiakan waktu di 10 Dzulhijjah ini dengan tidur dan ngrumpi, serta disibukkan menyaksikan potongan video dan medsos, karena musim tersebut merupakan ghonimah (harta berharga) dan kesempatan yang tidak ada gantinya.

17. Amal terbaik di 10 Dzulhijjah adalah haji mabrur, dan:

«الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الجَنَّةُ»

“Tidak ada balasan atas haji mabrur selain Surga.”[12] Terutama jika itu haji wajib (haji pertama).

Ia telah melaksanakan amal sholih yang sempurna, baik berupa melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, ditambah dengan berbuat baik kepada manusia, menyebarkan salam, memberi makan, ditambah dengan banyak berdzikir kepada Allah serta mengeraskan bacaan ketika talbiyah dan menggiring binatang hadyu.

18. Disunnahkan memperbanyak dzikir kepada Allah, pada setiap waktu dan semua keadaan, baik dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring, berkendara maupun berjalan.

19. Hendaknya memperbanyak membaca tahlil (لاإله إلا الله), takbir (الله أكبر), dan tahmid (للهِ الحَمْدُ).[13] Nabi bersabda:

«فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنَ التَّهْلِيلِ، وَالتَّكْبِيرِ، وَالتَّحْمِيدِ»

“Perbanyaklah pada hari-hari itu membaca tahlil, takbir, dan tahmid.”[14]

Allah berfirman tentang jamaah haji Baitul Harom: “Agar mereka menyaksikan manfaat (karunia) Allah untuk mereka, dan agar mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari-hari yang sudah diketahui, atas binatang ternak yang dikaruniakan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28)

20. Takbir yang disertai tasbih, tahmid, dan tahlil merupakan bāqiyātus shōlihāt (amal sholih yang kekal pahalanya), tanaman Surga, kalimat yang paling Allah cintai, lebih dicintai Nabi dari apa yang matahari terbit atasnya (dunia dan seisinya). Dianjurkan mengeraskan dzikir pada hari-hari ini baik dalam keadaan berdiri maupun duduk, berkendara maupun berjalan, di rumah maupun di jalan, di pasar maupun di tempat kerja.

21. Dianjurkan bagi orang-orang yang ditokohkan maupun masyarakat awam untuk menampakkan takbir di perkumpulan, bus, dan rumah. Tidak mengapa mengumumkannya dengan bantuan alat elektronik (medsos) yang bisa menjangkau tempat-tempat yang berbeda.

22. Dahulu Ibnu Umar dan Abu Huroiroh keluar ke pasar pada 10 Dzulhijjah dengan bertakbir, lalu orang-orang ikut bertakbir mengikuti takbir keduanya.[15]

Maimun bin Mihron $ berkata:

“Aku menjumpai orang-orang bertakbir pada 10 Dzulhijjah, hingga aku menyerupakannya dengan gelombang karena saking banyaknya.”

23. Saat bertakbir di 10 Dzulhijjah ini, kita menghadirkan kegembiraan akan dekatnya pertolongan Allah. Dengan takbir, ditaklukannya Khoibar dan ditaklukannya kota lain, dikalahkannya musuh, dengan izin Allah.

24. Takbir ada dua, yaitu mutlak[16] dan muqoyyad.  Takbir mutlak bisa dilaksanakan pada setiap hari dari 10 Dzulhijjah dan berakhir pada akhir hari Tasyriq[17], boleh dilaksanakan kapanpun, bagaimanapun, dan di manapun. Di tempat manapun boleh berdzikir kepada Allah, dengan suara keras. Allah berfirman: “Agar mereka menyaksikan manfaat (karunia) Allah untuk mereka, dan agar mereka berdzikir (menyebut) nama Allah pada hari-hari yang sudah diketahui, atas binatang ternak yang dikaruniakan kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 28)

25. Takbir muqoyyad dilaksanakan setiap selesai sholat fardhu, dimulai dari fajar hari Arofah bagi selain jamaah haji[18] dan berakhir setelah Ashar[19] pada tanggal 13 Dzulhijjah.

26. Lafazh takbir mutlak maupun muqoyyad berdasarkan atsar yang beragam dari Shohabat Rosulullah dan ulama Salaf. Contoh lafazh yang terkenal berdasarkan atsar adalah:

«اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ»

Lafazh-lafazh takbir ada kelonggaran (boleh dengan lafazh selain ini, asal shohih).

27. Dianjurkan puasa 9 hari Dzulhijjah atau terserah berapa hari yang mudah baginya. Anjuran ini terdapat dalam beberapa hadits dan tsabit (ada riwayatnya) dari beberapa Salaf.

Puasa menghapus dosa-dosa, tameng dari Neraka dan dosa, dan:

«مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا»

“Siapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, maka Allah menjauhkan wajahnya dari Neraka sejarak 70 tahun.”[20]

28. Puasa Arofah, bagi selain jamaah haji, merupakan sunnah Nabi dan ghonimah agung. Ia menghapus dosa dua tahun:

«صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ»

“Aku berharap kepada Allah puasa Arofah menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya.”[21]

29. Yang lebih utama dalam puasa sunnah yang telah ditentukan ­—contohnya puasa Arofah— adalah berniat di malam hari, agar pahalanya sempurna, tanpa dikurangi.

30. Dianjurkan memerintahkan istri, anak, dan siapa saja yang di bawah kuasanya, agar berpuasa di hari Arofah. Dahulu Sa’id bin Jubair $ berkata:

«أَيْقِظُوا خَدَمَكُمْ يَتَسَحَّرُونَ لِصَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ»

“Bangunkan pembantu kalian agar sahur untuk puasa hari Arofah.”[22]

31. Berusaha agar dosa-dosanya ditenggelamkan pada hari Arofah bersama dengan tenggelamnya matahari.

32. Termasuk perdagangan menguntungkan pada 10 Dzulhijjah adalah menghatamkan Al-Quran 30 juz, disertai tadabbur dan memahami. Karena Allah memberi pahala pada tiap hurufnya sampai 10 kali lipatnya. Bahkan pelipatan pahala di hari-hari ini sangat banyak sekali dibanding hari-hari selainnya.

33. Sholat terbaik setelah sholat fardhu adalah sholat malam. Semestinya Muslim tidak membatasi semangatnya hanya pada 10 akhir malam Romadhon saja, tetapi juga menghidupkan 10 malam Dzulhijjah juga.

34. Hendaknya kamu memiliki kesempatan pada 10 Dzulhijjah seperti firman Allah:

﴿وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ﴾

“... dan orang-orang yang meminta ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imrōn: 17)

Dan firman-Nya:

﴿كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Mereka sedikit sekali tidur di malam hari. Mereka memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 18)

Waktu sahur (akhir malam) adalah waktu turunnya Allah, diterimanya istighfar, dijawabnya doa, diberinya permintaan. Ya Allah, janganlah Engkau halangi kami dari karunia-Mu.

35. Sedekah termasuk ketaatan paling mulia. Ia bukti iman pelakunya. Ia menjadi naungan untuk pelakunya pada hari Kiamat. Ia menjaga pelakunya dari bahaya. Ia menghapus dosa-dosa. Ia memadamkan murka Allah. Ia sebab barokahnya harta dan bertambahnya rizki. Allah akan mengganti sedekahnya. Sedekah di 10 Dzulhijjah lebih utama dari sedekah di hari-hari selainnya.

36. Termasuk amal yang dicintai Allah adalah memasukkan kebahagiaan kepada orang Islam, dengan silaturohim, sedekah, maupun membantu keperluannya. Lantas bagaimana (pahalanya) jika dilakukan di 10 Dzulhijjah?

37. Termasuk kebaikan adalah menjamu jamaah haji, berbuat baik kepada mereka, merawat anak-anaknya.

«مَنْ جَهَّزَ حَاجًّا أَوْ خَلَفَهُ فِي أَهْلِهِ كَانَ لَهُ مِثْلُ أُجُورِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ»

“Siapa yang menyiapkan bekal haji atau merawat keluarga yang ditinggalkannya, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya, tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.”[23]

38. Termasuk ibadah agung di 10 Dzulhijjah adalah sholat Id, lalu mendekatkan diri kepada Allah dengan berkurban. Keduanya termasuk sunnah petunjuk. Allah berfirman:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah (Id) kepada Allah dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

39. Pada 10 Dzulhijjah tidak memotong kuku bagi yang ingin berkurban, sebagai ibadah yang dimulai dari tenggelamnya matahari pada akhir bulan Dzulqo’dah. Disebutkan dalam hadits:

«إِذَا رَأَيْتُمْ هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ، وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ»

“Jika kalian melihat hilal (awal bulan) Dzulhijjah dan ingin berkurban, maka tahanlah dirinya dari memotong rambut/bulu atau kuku.”[24] Dalam riwayat lain ada tambahan: “... sampai ia menyembelih.”

40. Siapa yang mengenali apa yang ia buru maka akan mudah baginya meraihnya. Ketahuilah bahwa dagangan Allah itu mahal, dan dagangan Allah adalah Surga. Hendaknya kita bersegera beramal sholih, bertaubat kepada Allah dengan taubat  nasuha (jujur), dengan meninggalkan dosa dan maksiat, berhenti darinya, menyesalinya, dan bertekad kuat tidak mengulanginya. Tentunya disertai mengembalikan hak yang ia zolimi kepada pemiliknya, jika memang dosanya berkaitan dengan hak manusia. Kita berusaha menjadikan 10 Dzulhijjah sebagai babak baru berjanji kepada Allah:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang beriman, bertaubatlah kalian kepada Allah dengan taubat nasuha. Mudah-mudahan Rob kalian mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke Surga-Surga yang sungat-sungai mengalir di bawahnya (bawah istana dan tamannya).” (QS. At-Tahrīm: 8)

41. Termasuk tingginya pemahaman seorang Muslim adalah ia menggabungkan antara ibadah khusus seperti dzikir dan sholat, dengan ibadah sosial pada 10 Dzulhijjah, agar bertambah manfaat dan pahalanya.

42. Di samping beramal sholih pada 10 Dzulhijjah, juga meninggalkan maksiat. Hal ini akan mendidik seorang Muslim untuk mengagungkan syiar Allah, menjaga batasan-Nya, karena ia salah satu bulan harom[25] yang Allah firmankan:

﴿فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Maka janganlah kamu menzholimu dirimu sendiri pada bulan-bulan tersebut.” (QS. At-Taubah: 36)

Allah berfirman:

﴿وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka itu berasal dari taqwa hatinya.” (QS. Al-Hajj: 32)

Allah juga berfirman:

﴿وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

“Siapa yang mengagungkan harom-harom Allah[26] maka itu lebih baik baginya di sisi Rob-nya.” (QS. Al-Hajj: 30)

43. Beramal sholih pada 10 Dzulhijjah ditambah ketaatan dan kebaikan serta memanfaatkan kesempatan yang tidak berulang dalam setahun, merupakan didikan terbaik untuk jiwa agar di senantiasa atas ketaatan kepada Allah dan menambah iman, agar ia mendorongnya beramal sholih sepanjang tahun.

44. Istri dan anak-anak adalah amanah di lehar kita, sebagaimana dalam hadits:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kaian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.”[27]

Maka hendaknya kita bersungguh-sungguh mendidik anak-anak kita untuk mengagungkan 10 Dzulhijjah, memotifasinya beramal di dalamnya, melatihnya demikian, serta mengajari mereka keutamannya sebelum masuk bulan agar mereka bisa bersiap-siap, serta kita berusaha menjadi teladan bagi mereka dalam mengagungkannya.

Inilah ghonimah sejati dan hendaknya kita segera beramal sebelum ajal tiba.

Kita memohon kepada Allah agar memberi taufiq (pertolongan) kepada kita dan kaum Muslimin untuk memanfaatkan musim kebaikan ini, menolong kita untuk senantiasa mengingat-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah terbaik kepada-Nya.

Segala puji milik Allah Rob seluruh alam.[]

 



[1] Yakni hartanya dibawa untuk biaya perang dan dirinya mati syahid.

[2] HR. Al-Bukhori dan ini lafazh At-Tirmidzi no. 757.

[3] Awal malam tenggelamnya matahari dan berakhir sampai terbitnya fajar.

[4] Maksud siang di sini adalah dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.

[5] Yakni fajar hari Nahr, di mana orang-orang akan melaksanakan sholat Idul Adha.

[6] Dahulu orang-orang melakukan safar haji dari Syawwal, karena jauhnya perjalanan menggunakan unta atau jalan kaki. Adapun hari haji hanya lima hari yaitu tanggal 8 Dzulhijjah sampai 12 Dzulhijjah.

[7] Ulama dari generasi setelah Shohabat.

[8] Artinya menetap, yaitu hari-hari setelah hari kurban, yang bisa dikenal hari-hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah). Ia disebut qorr (menetap), karena jamaah haji menepat di Mina, setelah selesai Thowaf Ifadhoh, berkurban, dan beristirahat.

[9] HR. Abu Dawud no. 1765 dengan sanad shohih.

[10] Hilyatul Auliyā, 4/281, Abu Nu’aim.

[11] Mukhtashor Qiyāmil Lail, hal. 247, Muhammad Nashr Marwazi.

[12] HR. Al-Bukhori no. 1773 dan Muslim no. 1349.

[13] Tiga lafazh ini jika digabung maka menjadi takbiran yang kita kenal:

«اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ»

[14] HR. Ahmad no. 5444 dengan sanad shohih.

[15] Yakni mengajari orang-orang pasar agar bertakbir, bukan memipin takbir berjamaah. Takbiran dikerjakan sendiri-sendiri, meskipun berjamaah, dan tanpa dipimpin.

[16] Yakni tanpa terikat bilangan, waktu, dan tempat. Berbeda dengan muqoyyad yang ditentukan waktunya.

[17] Tenggelamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah.

[18] Adapun jamaah haji memulai dari waktu zuhur pada hari Nahr (kurban).

[19] Yakni tenggelamnya matahari, akhir Ashar.

[20] HR. Al-Bukhori no. 2840 dan Muslim no. 1153.

[21] HR. Muslim no. 1162.

[22] Hilyatul Auliyā, 4/281, Abu Nu’aim.

[23] HR. Ibnu Khuzaimah 2064 dengan sanad shohih.

[24] HR. Muslim no. 1977.

[25] Dzulqo’dah, Dzulhijjah, Muharrom, dan Rojab.

[26] Yaitu batasan-batasan Allah berupa menjauhi larangan-Nya.

[27] HR. Al-Bukhori no. 893.


Related

TERJEMAH FIQIH DAN USUL FIQIH 3970294214556058612

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

WAKAF MUSHAF

WAKAF MUSHAF

Admin Nor Kandir, ST., BA

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Raudlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfizh Qur'an Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan D2 LIPIA Surabaya, S1 Kulliyatul Ulum Mesir. Sekarang terdaftar sebagai mahasiswa D2 Akademi Zad Arab Saudi, D3 Universitas Murtaqo Kuwait, S1 Universitas Internasional Afrika, S1 Sekolah Tinggi Muad bin Jabal Mesir, S1 Mahad Ali Aimmah Mesir, S2 Syifaul Qulub Mesir. Sertifikat yang diperoleh: ijazah sanad Kutub Sittah (Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah) dari Majlis Sama' bersama Dr. Abdul Muhsin Al Qosim dan Syaikh Samir bin Yusuf Al Hakali, juga matan-matan 5 semester Dr. Abdul Muhsin Al Qosim seperti Arbain, kitab² Muhammad bin Abdul Wahhab, Aqidah Wasithiyyah, Thohawiyah, Jurumiyah, Jazariyah, dll. Juga sertifikat hafalan Umdatul Ahkam dari Markaz Huffazhul Wahyain bersama Syaikh Abu Bakar Al Anqori. Kesibukan hariannya adalah mengajar bahasa Arob, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis).

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item