[]

Bab 4 Bahasa Arab dan Ilmu | ADA APA DENGAN BAHASA ARAB | PUSTAKA SYABAB

 Bab 4 Bahasa Arab dan Ilmu >> KEMBALI KE DAFTAR ISI Ilmu diibaratkan para ulama sebagai gudang yang tertutup rapat pintunya. Adapun...

 Bab 4 Bahasa Arab dan Ilmu


>> KEMBALI KE DAFTAR ISI

Ilmu diibaratkan para ulama sebagai gudang yang tertutup rapat pintunya. Adapun kuncinya adalah bahasa Arab. Oleh karena itu, manfaat ilmu bisa diraih jika tersedia kunci bahasa Arab. Maka, beruntunglah orang yang mencari kunci itu. Namun, kata orang-orang bahasa Arab itu susah, sementara yang lain mengatakan mudah. Manakah yang benar?

1. Benarkah Bahasa Arab Itu Mudah?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa agama itu mudah berikut mempelajari dan mengamalkannya. Beliau bersabda:

«إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ»

“Sesungguhnya agama itu mudah.”[1]

Oleh karena itu, mempelajari bahasa Arab itu mudah karena bahasa Arab adalah bagian dari agama. Dalil untuk hal ini adalah perkataan Umar Radhiyallahu ‘anhu:

تَعَلَّمُوا اللَّحْنَ وَالْفَرَائِضَ فَإِنَّهُ مِنْ دِينِكُمْ

“Pelajarilah lahn dan faraidh karena ia termasuk agama kalian.”[2]

          Allah yang maha menepati janji-Nya menegaskan dalam firman-Nya:

   

“Dan sungguh Kami telah memudahkan al-Qur`an itu dengan bahasamu.”[3]

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Yakni Kami jelaskan al-Qur`an dengan bahasamu Arab dan menjadikannya mudah bagi yang mentadaburi dan merenungi. Ada yang berpendapat, ‘Kami menurunkannya kepadamu dengan bahasa Arab agar mudah dipahami.’”[4]

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Maksudnya, Kami mudahkan al-Qur`an ini yang Kami turunkan semudah-mudahnya, sejelas-jelasnya, seterang-terangnya, dan segamblang-gamblangnya dengan bahasamu yang merupakan bahasa paling agung, indah, dan tinggi.”[5]

Syaikh as-Sa’di (w. 1376 H) berkata, “Maksudnya, Kami telah mudahkan ia dengan bahasamu yang merupakan bahasa yang paling fasih secara mutlak dan paling agung, sehingga karenanya kamu dimudahkan lafazhnya dan kamu dimudahkan maknanya.”[6]

Jika ada yang bertanya, “Jika benar mudah, mengapa banyak orang yang mengeluh susah saat masa-masa mempelajarinya?” Penulis jawab, “Anda harus yakin bahwa Allah tidak akan menyalahi janji-Nya. Kemudian, Anda bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya, sabar, dan tidak lupa meminta pertolongan kepada Allah karena manusia adalah hamba yang lemah. Dengan begitu, Allah akan benar-benar menunaikan janji-Nya. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللّٰهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ»

“Orang Mukmin yang kuat lebih baik dan dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah dalam apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allah dan jangan lemah.”[7]

Syaikh Fuad Abdul Baqi menjelaskan, “Yang dimaksud kuat di sini adalah kemauan jiwa yang kuat dan tinggi dalam urusan Akhirat, sehingga orang yang memiliki sifat ini kebanyakan berada di garda depan saat jihad melawan musuh dan bersegera menyongsongnya dan lari menerjangnya. Dia sangat kuat keinginannya untuk beramar ma’ruf nahi mungkar dan bersabar atasnya, memikul penderitaan di jalan Allah, sangat rindu untuk shalat, puasa, dzikir, dan semua ibadah. Dia rajin melaksanakannya dan menjaganya.” Lanjutnya, “Maksud bersemangat adalah dalam ketaatan kepada Allah dan bersemangat untuk mendapatkan apa yang ada di sisi-Nya. Dia meminta pertolongan kepada Allah dalam melaksanakannya, tidak lemah, dan tidak malas dalam meminta ketaatan dan pertolongan.”[8]

Fadhilatusy Syaikh al-Utsaimin (w. 1421 H) berkata, “Pada awalnya, nahwu itu sulit tetapi pada akhirnya mudah. Ia diumpamakan seperti sebuah rumah rotan dan pintunya besi. Yakni, masuknya memang sulit tetapi setelah Anda masuk akan mudah segala sesuatunya bagi Anda. Oleh karena itu, semestinya bagi seseorang untuk bersungguh-sungguh saat awal-awal mempelajarinya sehingga akan mudah baginya di sisanya. Tidak perlu memperhatikan ucapan seseorang, ‘Nahwu itu sulit!’ karena hanya akan menjadikan pelajar merasa minder. Ini tidaklah benar, tetapi sukar di awal dan mudah bagi Anda di sisanya.

Perkataan seseorang, ‘Nahwu itu sukar dan panjang tangganya...’ ini tidaklah benar. Kami tidak sependapat dengan ini, bahkan kami katakan, ‘Nahwu itu mudah dan tangganya pendek serta pendakiannya mudah dari awalnya, insya Allah. Maka pahamilah.’”[9]

Mempelajari bahasa Arab akan lebih mudah bila berguru langsung kepada ahlinya yang akan mendekatkan sesuatu yang jauh, memperjelas sesuatu yang tersamar, menunjukkan jalan-jalan yang mudah, dan menghemat waktu. Allahu a’lam.

2. Kitab yang Direkomendasikan

Banyak para ulama yang mengarang kitab tentang kaidah bahasa Arab. Ada yang berupa mandhumah maupun mantsurah, yang singkat maupun yang panjang lebar. Di antara yang paling masyhur dan lengkap pembahasannya adalah Alfiyah Ibnu Mâlik berisi 1.000 bait syair lebih dengan syarahnya oleh Ibnu Aqil. Sementara yang ringan dan ringkas adalah al-Ajurrumiyah karya ash-Shanhaji. Di antara kitab bahasa Arab yang beredar dan banyak di pakai di pesantren dan lembaga pendidikan Islam adalah: Durûsul Lughah Lighairin Nâthiqîn Bihâ 3 jilid oleh Prof. Dr. Abdurrahim, al-Arâbiyyah Baina Yadaik 6 jilid, Nahwul Wâdhih 3 jilid oleh Ali Jarim dan Musthafa Amin, al-Mulakhkhash, Tashriful ‘Izzi, dan al-Amtsilah at-Tashrîfiyyah.

Masing-masing kitab memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri sehingga menurut sebagian orang kitab A lebih mudah baginya dari pada kitab B, tetapi tidak untuk yang lain. Hanya saja, Penulis pribadi lebih condong kepada pendapatnya Syaikh al-Utsaimin yang merekomendasikan kitab al-Ajurrumiyah untuk dihafal dan dipelajari[10]. Kitabnya kecil sekitar 10 halaman sehingga hanya membutuhkan 10 hari saja untuk menghafalnya. Barangkali ini berlaku bagi mereka yang memiliki tekad yang kuat atau telah akrab dan terbiasa dengan bahasa Arab. Namun bagi pemula, akan lebih baik mempelajari dulu Durûsul Lughah atau al-Arabiyyah baina Yadaik agar lebih menyenangkan, mudah, dan mengakrabkan lisan dengan percakapan. Penulis sendiri sudah menyusun dua modul bahasa Arab untuk orang awam dari nol bernama Bahasa Arab Metode Balik Tangan dan Bahasa Arob Khusus Untuk Memahami Quran dan Hadits, dan bisa dodonwload di www.terjemahmatan.com .

Adapun dalam ilmu sharaf, Penulis merekomendasikan al-Amtsilah at-Tashrifiyah untuk dihafal. Allahu a’lam.

Hamzah Abbas Lawadi berkata, “Satu hal yang juga penting diperhatikan dalam mempelajari bahasa Arab, khususnya bagi pemula yang belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya, yaitu dengan mempelajarinya secara bertahap. Pembelajaran hendaknya dimulai dari yang mudah terlebih dahulu, kemudian setelah itu baru mulai mempelajari yang lebih sulit.

Dalam hal ini, para pengajar hendaknya memperhatikan permasalahan tersebut secara lebih serius. Mereka hendaknya memilihkan materi pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka sekarang. Seorang pengajar hendaknya tidak mengajarkan apa yang mereka inginkan, namun lebih memilih apa yang sekarang ini mereka butuhkan dan mampu dipahami.

Bagi seorang pemula, kami sarankan untuk tidak mempelajari kaidah-kaidah nahwu dan sharaf terlebih dahulu. Hal tersebut dikarenakan kaidah-kaidah tersebut akan terasa sulit dipahami dan dicerna bagi para pemula, terlebih jika mereka diminta untuk menghafalnya.

Kenyataan yang terjadi di dunia pembelajaran bahasa Arab, banyak sekali orang-orang yang belajar dengan materi ini di awal proses belajarnya. Sebagian besar, bahkan hampir seluruhnya berguguran di tengah jalan, sulit ditemukan seorang pembelajar yang dapat menyelesaikan pembelajarannya hingga tuntas. Oleh karena itu, muncullah di tengah-tengah masyarakat satu paradigma bahwa bahasa Arab itu sulit dipelajari, padahal tidak demikian.

Paradigma ini muncul karena sering kali para pembelajar, khususnya para pemula, terburu-buru untuk bisa segera mahir dalam bahasa Arab, yaitu dengan memilih ilmu nahwu dan sharaf sebagai materi awal pembelajarannya. Hal tersebut dilakukan dengan harapan agar mereka bisa lebih cepat mahir berbahasa Arab. Padahal tidak demikian, hal ini justru akan semakin menyulitkan mereka memahami pembelajaran bahasa.

Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti ilmu nahwu dan sharaf tidak perlu dipelajari, yang dianjurkan adalah memilih waktu yang tepat untuk mengajarkannya. Adapun waktu yang tepat menurut hemat Penulis adalah setelah mereka dibekali mufradat dan pendahuluan yang cukup sebagai bekal menghadapi pelajaran nahwu dan sharaf.

Inilah sistem pembelajaran bahasa Arab modern yang kami temukan dewasa ini. Hampir seluruh kurikulum pembelajaran bahasa Arab di perguruan-perguruan tinggi terkemuka di Timur Tengah memilih sistem ini. Mereka tidak memulai kurikulum nahwu dan sharaf di awal pembelajaran, tetapi mereka meletakkanya setelah masuk semester kedua atau pada tahun berikutnya.[11]

3. Hukum Mempelajari Bahasa Arab

a. Kewajiban Setiap Muslim

Hukum mempelajari bahasa Arab ada dua, fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Syaikhul Islam (w. 728 H) berkata:

إِنَّ نَفْسَ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ مِنَ الدِّينِ، وَمَعْرِفَتُهَا فَرْضٌ وَاجِبٌ، فَإِنَّ فَهْمَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَرْضٌ وَلَا يُفْهَمُ إِلاَّ بِفَهْمِ اللُّغَةِ الْعَرَبِيَّةِ، وَمَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ. ثُمَّ مِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلَى الْأَعْيَانِ وَمِنْهَا مَا هُوَ وَاجِبٌ عَلَى الْكِفَايَةِ

“Bahasa Arab itu bagian dari agama. Mempelajarinya adalah sangat diwajibkan, karena memahami al-Kitab dan as-Sunnah adalah wajib, dan keduanya tidak bisa dipahami kecuali dengan bahasa Arab. Kewajiban yang tidak bisa sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib. Kemudian, di antara bahasa Arab itu ada yang fardhu ‘ain dan ada yang fardhu kifayah.”[12]

Wajib bagi setiap Muslim untuk mempelajari bagian tertentu dari bahasa Arab sekedarnya untuk membantu pelaksanakan ibadah-ibadah yang Allah wajibkan kepadanya sehingga terhindar dari kekeliruan. Inilah fardhu ‘ain yang dimaksud.

Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

فَعَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَتَعَلَّمَ مِنْ لِسَانِ الْعَرَبِ مَا بَلَغَهُ جُهْدُهُ حَتَّى يَشْهَدَ بِهِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَيَتْلُوْا بِهِ كِتَابَ اللّٰهِ وَيَنْطِقَ بِالذِّكْرِ فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيهِ مِنَ التَّكْبِيرِ وَأُمِرَ بِهِ مِنَ التَّسْبِيحِ وَالتَّشَهُّدِ وَغَيْرِ ذَلِكَ، وَمَا ازْدَادَ مِنَ الْعِلْمِ بِاللِّسَانِ الَّذِي جَعَلَ اللّٰهُ لِسَانَ مَنْ خَتَمَ بِهِ نُبُوَّتَهُ وَأَنْزَلَ بِهِ آخِرَ كُتُبِهِ كَانَ خَيْراً لَهُ

Wajib bagi setiap Muslim belajar bahasa Arab dengan sungguh-sungguh agar benar dalam bersyahadat lâilaha illallâh dan muhammadun abduh wa rasûluh, membaca Kitabullah, melafazhkan dzikir yang diwajibkan atasnya seperti takbir, tasbih, tasyahhud, dan lain-lain. Jika dia berkenan lebih mendalami bahasa yang dijadikan Allah sebagai bahasa penutup para nabi-Nya dan bahasa kitab terakhir yang diturunkan-Nya ini, maka itu lebih baik baginya.”[13]

Pendapat ini dikuatkan dengan sebuah riwayat bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu dan kaumnya untuk mempelajari bahasa Arab, sementara hukum asal perintah adalah wajib.

Umar bin Zaid berkata:

كَتَبَ عُمَرُ إلَى أَبِي مُوسَى: أَمَّا بَعْدُ فَتَفَقَّهُوا فِي السُّنَّةِ وَتَفَقَّهُوا فِي الْعَرَبِيَّةِ وَأَعْرِبُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ عَرَبِيٌّ

“Umar menulis surat kepada Abu Musa, ‘Amma ba’du: pelajarilah as-Sunnah, pelajarilah bahasa Arab, pelajarilah i’rab al-Qur`an karena ia berbahasa Arab.[14]

Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ

“Pelajarilah bahasa Arab seperti kalian mempelajari hafalan al-Qur`an.”[15]

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«أَعْرِبُوا الْقُرْآنَ وَالْتَمِسُوا غَرَائِبَهُ»

“I’rablah al-Qur`an dan carilah kosa-kata asingnya.”[16]

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«تَعَلَّمُوا مِنَ الْعَرَبِيَّةِ مَا تُعْرِبُونَ بِهِ كِتَابَ اللّٰهِ»

“Pelajarilah bahasa Arab yang kalian gunakan untuk mengi’rab al-Qur`an.”[17]

Hukum mempelajari bahasa Arab yang kedua adalah fardhu kifayah. Jika telah ada sekelompok kaum Muslimin yang mempelajarinya maka telah mencukupi. Bagian bahasa Arab yang fardhu kifayah ini adalah yang bersifat pendalaman dan pelengkap seperti fan balaghah, insyiqaq, atau bagian bahasa Arab lainnya yang bersifat pendalaman.

Hukum ini lebih ditekankan lagi bagi penuntut ilmu, ahli ilmu, dai, dan pengajar. Para ulama telah sepakat bahwa di antara syarat yang harus dipenuhi bagi seorang mujtahid atau mufti adalah memahami bahasa Arab dan ilmu-ilmu yang terkait dengannya seperti nahwu, sharaf, balaghah, dan lain-lain. Allahu a’lam.

b. Mendahulukan Bahasa Arab atas Selainnya

Sepatutnya bagi penuntut ilmu untuk mendahulukan bahasa Arab atas bahasa lainnya dan ilmu lainnya. Jalan ini adalah jalan yang ditempuh oleh orang-orang terdahulu yang sukses dalam mendalami bidang ilmu Islam.

Imam al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ طَلَبَ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ لِسَانِ الْعَرَبِ أَنْ يَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ أَوَّلًا وَيَتَدَرَّبَ فِيهِ، ثُمَّ يَطْلُبَ عِلْمَ الْقُرْآنِ، ولَنْ يصِحَّ لَهُ مَعَانِي الْقُرْآنِ إِلَّا بِالْآثَارِ وَالسُّنَنِ، وَلَا مَعَانِي السُّنَنِ وَالْآثَارِ إِلَّا بِأَخْبَارِ الصَّحَابَةِ، وَلَا أَخْبَارُ الصَّحَابَةِ إِلَّا بِمَا جَاءَ عَنِ التَّابِعِينَ

“Sepatutnya bagi seseorang yang ingin menuntut ilmu sementara dia bukan ahli berbahasa Arab untuk pertama kalinya dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya, baru kemudian mempelajari ilmu al-Qur`an. Makna-makna al-Qur`an tidak akan benar baginya kecuali dengan atsar-atsar dan sunnah-sunnah, dan tidak akan benar makna-makna sunnah dan atsar kecuali dengan penjelasan para shahabat, dan tidak ada penjelasan para shahabat kecuali dengan apa yang datang dari para tabi’in.”[18]

Waki’ bin Jarrah (w. 197 H) guru besar Imam asy-Syafi’i berkata:

أَتَيْتُ الْأَعْمَشَ أَسْمَعُ مِنْهُ الْحَدِيْثَ وَكُنْتُ رُبَمَا لَحَنْتُ فَقَالَ لِي: يَا أَبَا سُفْيَانَ! تَرَكْتَ مَا هُوَ أَوْلَى بِكَ مِنَ الْحَدِيْثِ. فَقُلْتُ: يَا أَبَا مُحَمَّدٍ! وَأَيُّ شَيْءٍ أَوْلَى مِنَ الْحَدِيْثِ؟ فَقَالَ: النَّحْوُ. فَأَمْلَى عَلَيَّ الْأَعْمَشُ النَّحْوَ ثُمَّ أَمْلَى عَلَيَّ الْحَدِيْثَ

“Aku mendatangi al-A’masy untuk mendengarkan hadits darinya dan terkadang aku mengalami lahn, lalu dia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Sufyan! Kamu telah meninggalkan sesuatu yang lebih utama bagimu daripada hadits.’ Aku bertanya, ‘Wahai Abu Muhammad! Apa itu yang lebih utama daripada hadits?’ Dia menjawab, ‘Nahwu.’ Lalu al-A’masy mengajariku nahwu baru kemudian menyampaikan hadits kepadaku.”[19]

Syu’bah berkata:

مَنْ طَلَبَ الْحَدِيْثَ فَلَمْ يُبْصِرِ الْعَرَبِيَّةَ فَمَثَلُهُ مَثَلُ رَجُلٍ عَلَيْهِ بُرْنُسُ وَلَيْسَ لَهُ رَأْسٌ

“Barangsiapa mencari hadits tetapi tidak memahami bahasa Arab, maka perumpamaannya seperti seseorang yang memakai burnus (sejenis mantel) tetapi tidak memiliki kepala.”[20]

c. Hukum Mempelajari Selain Bahasa Arab

Hukum mempelajari bahasa lain selain bahasa Arab hukumnya mubah, bahkan menjadi wajib untuk urusan dakwah ilallah.

Dalil kebolehannya adalah sebuah riwayat bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتٍ مِنْ كِتَابِ يَهُودَ قَالَ: «إِنِّي واللّٰهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ» قَالَ: فَمَا مَرَّ بِي نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ. قَالَ: فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ، وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari tulisan-tulisan surat Yahudi. Beliau bersabda, ‘Demi Allah aku tidak akan percaya dengan surat Yahudi.’ Aku pun mempelajarinya dan tidaklah berlalu bagiku kecuali setengah bulan untuk menguasainya. Setelah aku mahir, bila beliau ingin menyurati Yahudi aku yang menulis dan bila beliau disurati aku yang membacakannya untuk beliau surat mereka.”[21]

Dari jalan lain, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari bahasa Suryani.”[22]

Fadhilatusy Syaikh al-Utsaimin (w. 1421 H) pernah ditanya tentang hukum mempelajari bahasa Inggris pada waktu sekarang? Beliau menjawab, “Mempelajarinya hanyalah sebagai wasilah (pelantara/alat), yaitu saat engkau memerlukannya sebagai alat untuk mengajak manusia kepada Allah. Namun, terkadang mempelajarinya menjadi wajib. Hanya saja, jika engkau tidak memerlukannya maka janganlah engkau menyibukkan waktumu untuk itu, tetapi sibukkanlah dengan pelajaran yang lebih penting dan lebih bermanfaat. Kebutuhan manusia itu berbeda-beda dalam mempelajari bahasa Inggris. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi. Maka, mempelajari bahasa Inggris hanyalah sebagai salah satu alat. Jika engkau memerlukannya maka boleh mempelajarinya, jika tidak perlu maka janganlah engkau sia-siakan waktumu untuk itu.”[23]

Beliau juga pernah ditanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris terutama untuk berdakwah mengajak manusia kepada Allah?” Beliau menjawab, “Kita melihat bahwa mempelajari bahasa Inggris hanyalah wasilah, tanpa diragukan. Bisa menjadi wasilah (pelantara) yang baik jika hal itu untuk tujuan yang baik dan bisa juga jelek jika tujuannya jelek. Akan tetapi sesuatu yang wajib dijauhi adalah menjadikannya sebagai pengganti dari bahasa Arab, maka ini tidak boleh. Kita telah mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab sehingga sebagian orang bodoh lagi rugi itu menjadikan mereka sebagai ekor bagi orang lain, mereka mengajari anak-anak mereka cara penghormatan orang-orang kafir. Mereka mengajarkan ucapan bye-bye ketika berpisah, dan yang serupa dengannya. Karena mengganti bahasa Arab yang merupakan bahasa al-Qur`an sebagai bahasa yang paling mulia adalah haram. Dan telah shahih dari kalangan Salaf tentang larangan berbicara dalam bahasa asing (selain Arab) padahal yang dilarang bukan orang Arab.

Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai wasilah bagi dakwah, maka tidak diragukan lagi bahwa hal itu terkadang menjadi wajib. Saya tidak mempelajarinya dan saya berandai-andai dulu mempelajarinya karena saya temukan dalam beberapa kesempatan bahwa saya amat membutuhkannya karena penerjemah tidak mungkin mengungkapkan apa yang ada di dalam hati saya secara sempurna.

Saya akan ceritakan sebuah kisah kepada kalian yang terjadi di masjid bandara di Jeddah beserta beberapa tokoh Islam. Kami berceramah setelah shalat Shubuh tentang madzhab Tijani dan itu adalah madzhab bathil dan kufur dalam Islam. Saya berbicara dengan apa yang saya ketahui tentang madzhab itu. Lalu datanglah seseorang dan berkata, ‘Saya ingin Anda mengizinkan saya untuk menerjemahkan dengan bahasa Husa.’ Lalu saya berkata, ‘Tidak apa-apa.’ Lalu dia menerjemahkannya. Lalu masuklah seorang laki-laki dengan tergesa-gesa lalu berkata, ‘Orang yang menerjemahkan ucapan Anda tadi memuji madzhab Tijaniyah!’ Saya pun tercengang dan bekata, ‘Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râjiûn, seandainya saya mengetahui bahasa ini maka saya tidak membutuhkan orang-orang penipu ini.’ Kesimpulannya, bahwa mengetahui bahasa lawan bicara --tanpa diragukan-- sangatlah penting dalam menyampaikan informasi. Allah ta’ala berfirman:

                  

‘Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun melainkan dengan bahasa kaumnya supaya dia menjelaskan kepada mereka.’”[24] [25]

d. Menyesal Karena Enggan Belajar Bahasa Arab

Penyesalan selalu datang belakangan. Ada yang menyesal disebabkan keengganan dan sibuk dengan urusan dunianya. Ada pula yang menyesal disebabkan dulu belum memaksimalkan waktunya, disibukkan dengan aktifitas dakwah, atau keluarga. Orang yang berbahagia adalah siapa yang Allah selamatkan dari dua jenis musibah ini.

Saat uban mulai tumbuh, saat kesibukan merangkul dari setiap penjuru, saat tertimpa musibah dan persoalan yang buntu, saat memutuskan menjadi ahli ilmu, maka saat itulah dia berteriak pilu karena tidak mampu menangis saat membaca al-Qur`an yang berbahasa Arab. Dia kesulitan mentadaburi lafazh-lafazhnya dan uslub-uslubnya. Dia terhalangi dari menikmati keindahan sastranya. “Andai dulu aku meluangkan waktu mempelajari bahasa Arab meski sepenggal waktu,” gumamnya. Semoga ini tidak terucap nanti.

Atha` bin Abi Rabbah[26] rahimahullah (w. 114 H) berkata:

وَدِدْتُ أَنِّي أُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ

“Aku sangat ingin untuk memperbagus bahasa Arabku.”[27]

4. Tiga Pengaruh Agung Bahasa Arab Bagi Orang Mukmin

Bahasa Arab adalah bahasa al-Qur`an, sementara al-Qur`an adalah petunjuk yang lurus bagi manusia dan isinya tidak lain semuanya adalah ilmu. Dari sini kita bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan bahasa Arab sehingga digunakan sebagai wasilah yang dengannya al-Qur`an bisa terbaca dan dipahami? Setidaknya ada tiga hikmah diturunkannya al-Qur`an berbahasa Arab yang memiliki pengaruh agung bagi orang Mukmin. Berikut pembahasannya.

a. Pengaruh Spiritual

Al-Qur`an diturunkan Allah dengan berbahasa Arab agar manusia semakin bertakwa kepada-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

                               

“Dan demikianlah Kami menurunkan Kitab itu berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab dan Kami sebutkan ancaman secara berulang-ulang di dalamnya, supaya mereka bertaqwa atau menimbulkan kesadaran bagi mereka.”[28]

          Juga firman Allah ta’ala:

                

Al-Qur`an berbahasa Arab tanpa ada kebengkokan supaya mereka bertaqwa.”[29]

Orang yang membaca al-Qur`an akan terguncang hatinya karena indahnya uslub-uslub bahasanya, dalamnya makna kata yang dimilikinya, dan kesesuaian dalam pemilihan kata antara ghayah dan lafazh yang digunakannya. Ini semua tidak dimiliki oleh bahasa manapun, tetapi hanya ada dalam bahasa Arab karena kefasihan bahasanya dan ini hanya bisa dinikmati oleh ahlinya, tidak selainnya. Tentang kefasihan ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan:

                                                

“Dan sesungguhnya dia benar-benar diturunkan dari Rabb semesta alam. Dibawa turun oleh ar-Ruhul Amin kepada hatimu supaya kamu menjadi pemberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas (fasih).”[30]

Al-Qur`an menjadi kalam yang enak dibaca dan meninggalkan bekas yang sangat mendalam bagi pembacanya, sampai-sampai bergetar hati yang membacanya dan berlinang air matanya. Ini tidak lain adalah pengaruh makna-makna yang mendalam pada bahasa Arab yang dengannya al-Qur`an dibaca. Para shahabat adalah contoh nyata dalam hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala:

                                       

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu hanyalah orang-orang yang apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka, dan hanya kepada Rabb-nya mereka bertawakal.”[31]

Dari Abdullah bin Urwah bin Zubair bahwa dia bertanya kepada neneknya --Asma` binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma--:

كَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَرَءُوا الْقُرْآنَ؟ قَالَتْ: كَانُوا كَمَا نَعَتَهُمُ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ: تَدْمَعُ أَعْيُنُهُمْ وَتَقْشَعِرُّ جُلُودُهُمْ

“Bagaimana keadaan shahabat Rasulullah shallallau ‘alaihi wa sallam apabila mereka membaca al-Qur`an?” Dia menjawab, “Mereka seperti yang disifatkan Allah azza wa jalla, ‘Mata mereka berlinang air mata dan kulit-kulit mereka bergetar.’”[32]

Di sini Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa bacaan yang menggetarkan jiwa ini menghasilkan buah tawakal kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga bertambahlah rasa takut dan ketaqwaan mereka kepada-Nya.

Orang-orang yang bisa mentadaburi al-Qur`an dengan bantuan bahasa Arabnya memiliki tingkat spiritual yang tinggi kepada Rabb-nya. Hidupnya selalu bergantung kepada-Nya, sehingga lapang dadanya dan mendapat sebaik-baik bimbingan dan petunjuk. Adapun selain mereka, tidak bisa mengambil manfaat dari al-Qur`an kecuali hanya sedikit, sehingga sempit hidupnya dan banyak mengalami keraguan dan kegoncangan dalam hidupnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

                               ﯿ                                                                       

“Dan barangsiapa yang berpaling dari al-Qur`an-Ku, maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit dan kelak Kami akan menggiringnya pada hari Kiamat dalam keadaan buta. Dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau menggiringku dalam keadaan buta padahal dahulunya aku bisa melihat?’ Allah berfirman, ‘Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami lalu kamu melupakannya, dan demikian pula pada hari ini kamu pun dilupakan.’”[33]

Abdullah bin Mas’ud (w. 32 H) radhiyallahu ‘anhu berkata:

إِنَّ الْقُرْآنَ شَافِعٌ وَمُشَفَّعٌ وَمَاحِلٌ مُصَدِّقٌ فَمَنْ جَعَلَهُ أَمَامَهُ قَادَهُ إِلَى الْجَنَّةِ وَمَنْ جَعَلَهُ خَلْفَهُ سَاقَهُ إِلَى النَّارِ

“Sesunggunya al-Qur`an adalah pemberi syafaat yang diterima syafaatnya dan pendebat yang dibenarkan hujjahnya. Barangsiapa yang menaruhnya di depannya maka dia akan membimbingnya menuju Surga, dan barangsiapa yang menaruhnya di belakangnya maka dia akan mencampakkannya menuju Neraka.”[34]

b.  Pengaruh Intelijensi

Bahasa Arab akan menjadikan seseorang memiliki tingkat intelijensi yang tinggi. Allah yang mahatahu berfirman:

              

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab supaya kalian berakal.”[35]

          Juga firman Allah ta’ala:

              

“Sesungguhnya Kami menjadikan al-Kitab itu berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab supaya kalian berakal.”[36]

Hal ini terjadi karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih dan sangat mendalam makna kosa-katanya, dan bahasa yang paling mudah dihafal bagi yang menguasai kaidah-kaidahnya. Dikatakan cerdas apabila seseorang bisa mengungkapkan kalimat yang ringkas tapi sangat mendalam maknanya, dan juga banyak hafalannya. Dua keutamaan ini (kalimat ringkas dan banyak hafalan), sangat mungkin dicapai dengan bahasa Arab.

Bukti untuk yang pertama adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah lelaki yang berbahasa Arab dan memiliki intelijensi yang sangat mengagumkan dalam menyingkat kalimat, yang umum di kalangan ulama disebut sebagai jawami’ul kalim. Beliau bersabda:

«أُوْتِيْتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ»

“Aku telah diberi jawami’ul kalim.”[37]

Al-Qadhi Izzuddin  Abdul Aziz al-Kahari (w. 724 H) menulis kitab yang berisi 1.000 faidah dari sebuah hadits tentang kaffarat jima’ di bulan Ramadhan sebanyak dua jilid.[38]

Bukti untuk yang kedua adalah para Salafus shalih. Para Salafus shalih adalah orang-orang yang mendahulukan bahasa Arab, apabila sudah menguasai bahasa Arab baru mereka menghafal al-Qur`an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Syu’bah berkata:

إِذَا كَانَ الْمُحَدِّثُ لَا يَعْرِفُ النَّحْوَ فَهُوَ كَالْحِمَارِ يَكُونُ عَلَى رَأْسِهِ مِخْلَاةٌ لَيْسَ فِيهَا شَعِيرٌ

“Apabila seorang ahli hadits tidak mengetahui ilmu nahwu, maka ia seperti keledai yang terdapat muatan di atas kepalanya tetapi tidak berisi apapun.”[39]

Mereka memiliki hafalan yang luar biasa banyaknya dan luar biasa kuatnya. Ma’mar berkata:

اجْتَمَعْتُ أَنَا وَشُعْبَةُ وَالثَّوْرِيُّ وَابْنُ جُرَيْجٍ، فَقَدِمَ عَلَيْنَا شَيْخٌ، فَأَمْلَى عَلَيْنَا: أَرْبَعَةَ آلافِ حَدِيثٍ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ، فَمَا أَخْطَأَ إِلاَّ فِي مَوْضِعَيْنِ، لَمْ يَكُنِ الْخَطَأُ مِنَّا وَلا مِنْهُ، إِنَّمَا الْخَطَأُ مِنْ فَوْقِهِ، وَكَانَ الرَّجُلُ طَلْحَةُ بْنُ عَمْرٍو

“Aku pernah berkumpul bersama Syu’bah, ats-Tsauri, dan Ibnu Juraij. Kemudian, datanglah seorang syaikh kepada kami, lalu dia menyampaikan 4.000 hadits dari hafalannya. Dia tidak keliru kecuali di dua tempat, tetapi kesalahan itu bukan berasal dari kami dan bukan pula darinya. Kesalahan itu berasal dari perawi di atasnya. Lelaki itu adalah Thalhah bin Amr.”[40]

Abu Zur’ah ar-Razi berkata:

أَحْفَظُ مِائَتَيْ أَلْفِ حَدِيثٍ كَمَا يَحْفَظُ الإِنْسَانُ:           وَفِي الْمُذَاكَرَةِ ثَلاثُمِائَةِ أَلْفِ حَدِيثٍ

“Aku hafal 200.000 hadits seperti seseorang hafal surat al-Ikhlas, dan dalam mudzakarah (diskusi/murajaah/catatan) mencapai 300.000 hadits.”[41]

Dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal bahwa dia mendengar Abu Zur’ah ar-Razi berkata:

كَانَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ يَحْفَظُ أَلْفَ أَلْفِ حَدِيثٍ. فَقِيلَ لَهُ: وَمَا يُدْرِيْكَ؟ قَالَ: ذَاكَرْتُهُ، وَأَخَذْتُ عَلَيْهِ الأَبْوَابَ

“Ahmad bin Hanbal hafal satu juta hadits.” Ditanyakan  kepadanya, “Dari mana Anda tahu?” Dia menjawab, “Aku pernah belajar kepadanya dan mengambil beberapa bab darinya.”[42]

Inilah bahasa Arab. Tidak ada satupun bahasa yang mampu dihafal dengan hafalan yang banyak selain bahasa Arab. Kita melihat tidak ada satupun kitab berbahasa yang banyak dihafal selain al-Qur`an yang berbahasa Arab. Bukti ini sudah cukup untuk menunjukkan keutamaan bahasa Arab sebagai bahasa ilmu.

Dari sudut pandang inilah akan mucul tingkat intelijensi yang mengagumkan. Pasalnya, orang yang banyak hafalannya dan terbiasa dalam menghafal maka otaknya akan cerdas dan mudah menghafal satu informasi dalam sekejab. Dalam ilmu fisiologi, otak manusia terdiri dari ratusan milyar sel saraf yang saling terhubung satu sama lain, semakin banyak hafalannya maka jaring-jaring sel saraf akan semakin melebar dan kokoh. Berikut ini bukti konkretnya.

Abul Khaththab Qatadah bin Du’amah as-Sudusi (w. 118 H) berkata:

مَا سَمِعَتْ أُذُنَايَ شَيْئًا قَطُّ إِلا وَعَاهُ قَلْبِي

“Tidaklah kedua telingaku mendengar sesuatu melainkan akan dihafal oleh hatiku.”[43]

Hal ini tidaklah berlebihan, dengan seizin Allah. Bahkan, Allah menegaskan kecerdasan ini dalam firmannya:

                   

“Sebuah kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya secara terperinci dengan berbahasa Arab bagi kaum yang mengetahui.”[44]

Lafazh (يَعْلَمُونَ) seakan mengisyaratkan bahwa orang yang mahir  bahasa Arab lalu mampu mengambil faidah dari ayat-ayat al-Qur`an, akan terkumpul padanya ilmu[45] sehingga dia pun menjadi orang yang cerdas.

c. Pengaruh Emosional

Orang yang ahli dalam bahasa Arab memiliki tingkat kejiwaan yang stabil dan juga pandai bergaul dengan masyarakat. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

                                                            

“Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu al-Qur`an berbahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada penduduk Makkah dan negeri-negeri sekitarnya, dan supaya kamu memberi peringatan akan hari perkumpulan yang tidak diragukan lagi, di mana sebagian mereka di Surga dan sebagian lain di Neraka.”[46]

Ayat ini berbentuk perintah tetapi tidak menutup kemungkinan memiliki makna khabar, seperti hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ»

“Dan barangsiapa yang berdusta dengan sengaja atas namaku, maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[47]

Imam Ibnu Rajab berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas bentuknya amr/perintah tetapi maknanya adalah khabar/penjelasan bahwa barangsiapa yang berdusta terhadapku, berarti dia telah menyiapkan tempat duduknya di Neraka.”[48]

Dalam ayat ini Allah mengabarkan bahwa al-Qur`an diwahyukan  kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berbahasa Arab. Lalu pengaruhnya pun nampak pada diri beliau sehingga dikatakan bahwa al-Qur`an seluruhnya adalah akhlak beliau. Kemudian akhlak ini pun diketahui oleh orang-orang sehingga mereka mengagumi beliau, enggan menatap beliau dalam-dalam, mentaati perintahnya, dan rela berkorban demi membelanya. Dengan akhlak yang mulia ini, beliau diperintahkan untuk berdakwah kepada ummat yang ada di negeri Makkah dan negeri-negeri lain sekitar Makkah.

Umar (w. 23 H) radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُوا الْعَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا تُثَبِّتُ الْعَقْلَ وَتَزِيدُ فِي الْمُرُوءَةِ

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia mengokohkan akal dan menambah muruah (kewibawaan/norma).”[49]

Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ جَلَّ فِي عُيُوْنِ النَّاسِ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحَدِيْثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ النَّحْوَ هِيبَ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ

“Ketahuilah, barangsiapa mepelajari al-Qur`an maka dia menjadi begitu agung di mata manusia, barangsiapa mempelajari hadits maka kuat hujjahnya, barangsiapa mempelajari nahwu maka akan berwibawa, dan barangsiapa yang mempelajari bahasa Arab maka akan baik kepribadiannya.”[50]

Abdurrahman bin Mahdi (w. 198 H) berkata:

مَنْ طَلَبَ العَرَبِيَّةَ فَآخِرُهُ مُؤَدَّبٌ، وَمَنْ طَلَبَ الشِّعْرَ فَآخِرُهُ شَاعِرٌ يَهْجُو أَوْ يَمْدَحُ بِالبَاطِلِ، وَمَنْ طَلَبَ الكَلاَمَ فَآخِرُ أَمرِهِ الزَّنْدَقَةُ، وَمَنْ طَلَبَ الحَدِيْثَ فَإِنْ قَامَ بِهِ كَانَ إِمَاماً

“Barangsiapa belajar bahasa Arab, maka kesudahannya menjadi orang beradab. Barangsiapa belajar syair, maka kesudahannya menjadi ahli syair yang suka mencela atau memuji dengan kebatilan. Barangsiapa yang belajar ilmu kalam, maka kesudahannya menjadi orang zindiq (munafiq). Barangsiapa mencari hadits lalu mengamalkannya, maka dia akan menjadi imam.”[51]

Maka, jelaslah bagi kita siapa yang menginginkan energi emosional yang tinggi untuk mengumpulkan kewibawaan, adab, kepribadian, maka pelajarilah bahasa Arab.

Imam az-Zuhri (w. 124 H) berkata:

مَا أَحْدَثَ النَّاسُ مُرُوْءَةً أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ تَعَلُّمِ النَّحْوِ

“Tidak ada kewibawaan yang selalu diperbarui seseorang yang lebih aku cintai melebihi mempelajari nahwu.”[52]

Ibnu Syubrumah berkata:

مَا لَبِسَ الرِّجَالُ لِبَاسًا أَزْيَنَ مِنَ الْعَرَبِيَّةِ

“Tidak ada orang yang mengenakan pakaian lebih indah melebihi bahasa Arab.”[53]

          Secara lengkap tiga pengaruh agung ini dikumpulkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam ucapannya:

وَاعْلَمْ أَنَّ اعْتِيَادَ اللُّغَةِ يُؤَثِّرُ فِي الْعَقْلِ وَالْخُلُقِ وَالدِّيْنِ تَأْثِيْراً قَوِيّاً بَيِّناً، وَيُؤَثِّرُ أَيْضاً فِي مُشَابَهَةِ صَدْرِ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمُشَابَهَتُهُمْ تَزِيْدُ الْعَقْلَ وَالدِّيْنَ وَالْخُلُقَ

“Ketahuilah bahwa membiasakan bahasa Arab menimbulkan pengaruh pada akal (intelijensi), akhlak (emosional), dan agama (spiritual) dengan pengaruh yang jelas. Ia juga menimbulkan pengaruh untuk menyerupai inti umat ini shahabat dan tabi’in, sementara menyerupai mereka akan menambah akal, agama, dan akhlak.”[54]

          Pembaca yang budiman, Anda telah mengetahui tiga pengaruh agung bahasa Arab. Hanya saja tiga pengaruh agung ini tidak bisa diraih kecuali bagi orang Mukmin. Di sana banyak orang-orang yang mahir bahasa Arab, fasih lisannya, kuat hujjahnya, dan menyihir ucapannya tetapi bahasa Arab dan al-Qur`an tidak menambah mereka kecuali hanya kerugian. Mereka itulah orang-orang kafir dan munafik. Jika mereka berbicara, Anda akan tersihir karena fasih lisannya dan memikat pembicarannya. Allah berfirman:

                                                 ﭿ   

“Dan di antara manusia ada ucapannya tentang kehidupan dunia membuatmu takjub, dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.”[55] Dan juga firman-Nya:

                              

“Dan jika engkau melihat mereka, rupa mereka membuatmu takjub, dan jika mereka berkata engkau mendengarkan dengan seksama ucapan mereka, seolah-olah mereka adalah kayu yang disandarkan.”[56]

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Mereka adalah orang-orang yang indah rupanya seolah-olah kayu yang bersandar. Pemisalan mereka dengan kayu yang bersandar ke dinding karena mereka tidak mendengar dan berakal, hidup tanpa ruh, dan berjasad tanpa kedewasaan.”[57]

Orang-orang yang mahir bahasa Arab tetapi tidak mendapat hidayah sunnah dan mengikuti Salaf, cenderung memahami agama dengan akalnya. Akibatnya, dengan kepandaiannya dalam bahasa itu dia dipermainkan setan untuk berbicara tanpa ilmu dan petunjuk. Lihatlah Bisyr al-Marisi al-Mu’tazili yang mengkampayekan al-Qur`an adalah makhluk, hingga Imam asy-Syafi’i berkata, “Orang ini tidak akan beruntung selamanya.” Lihatlah al-Jahidz pakar bahasa kenamaan tetapi cacat agamanya, di mana Imam adz-Dzahabi berkata tentangnya, “Dia dungu, sedikit agamanya, dan memiliki banyak keanehan.” Bersamaan dengan itu al-Imam juga berkata, “Dia termasuk lautan ilmu bahasa dan banyak karyanya.”[58] Lihatlah Abu Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna asy-Syaibani pakar bahasa terkenal, ahli tafsir, dan ahli sastra, tetapi kemudian terpengaruh dengan paham Mu’tazilah sehingga Imam Ahmad mencelanya karena hal itu. Lihatlah Abul Qasim az-Zamakhsyari ghafarallahu lah seorang pakar bahasa dan menjadi rujukan di masanya tetapi dia memiliki akidah yang menyimpang yakni Mu’tazilah yang dia tuangkan di kitab tafsirnya al-Kasysyaf. Dia memiliki banyak karya, sibuk menulis, dan mengajar di jalan Allah hingga tidak sempat menikah. Semoga Allah mengampuninya mereka.

Di Indonesia ada kelompok sesat lagi menyesatkan yang menyebut dirinya dengan JIL[59] (Jaringan Islam Liberal). Dengan bahasa Arab ala kadarnya, mereka berhasil menyesatkan umat, bahkan sebagian dimurtadkan. Mereka menafsirkan al-Qur`an hanya mengandalkan bahasa dan akal mereka!

Demikian fakta yang banyak terjadi. Para pakar bahasa zaman dahulu yang berlebihan dalam bahasa dan melupakan ilmu kaum Salaf cenderung menyimpang dan mengikuti paham Muktazilah sesuai dengan kadar penyimpangannya.

5. Mengoreksi Bacaan al-Qur`an dengan Nahwu

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad ash-Shanhaji (w. 723 H) berkata saat mendefinisikan i’rab:

الإِعْرَابُ هُوَ تَغْيِيْرُ أَوَاخِرِ الْكَلِمِ لِاخْتِلاَفِ الْعَوَامِلِ الدَّاخِلَةِ عَلَيْهَا لَفْظاً أَوْ تَقْدِيْراً

“I’rab adalah perubahan akhir kalam karena perbedaan amil yang masuk padanya baik secara lafazh maupun perkiraan.”[60]

          Mudahnya, i’rab adalah perubahan akhir harakat atau huruf pada suatu kata sesuai dengan tarkib (kedudukan kalimat).       

Dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«تَعَلَّمُوا مِنَ الْعَرَبِيَّةِ مَا تُعْرِبُونَ بِهِ كِتَابَ اللّٰهِ»

“Pelajarilah bahasa Arab yang kalian gunakan untuk mengi’rab al-Qur`an.”[61]

Ummu ad-Darda` berkata:

إِنِّي لَأُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَهُ كَمَا أُنْزِلَ يَعْنِي إعْرَابَ الْقُرْآنِ

“Sungguh aku ingin membaca al-Qur`an seperti saat diturunkan, yaitu mengi’rab al-Qur`an.”[62]

Berikut adalah delapan contoh tentang perbandingan bacaan i’rab yang benar dan yang salah dalam sebagian ayat al-Qur`an:

Pertama: QS. Al-Kafirun [109]: 2

                  

“Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah.’”

Seandainya lafazh (لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ) dibaca (لَأَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ) dengan lafazh dibaca pendek, maka artinya berubah menjadi, “Katakanlah, ‘Wahai orang-orang kafir! sungguh aku akan menyembah apa yang kalian sembah.’”

Penjelasan:

Yang pertama adalah lâ nafi yang berfungsi meniadakan perkerjaan, sedang yang kedua adalah lam taukid yang berfungsi menguatkan atau menegaskan pekerjaan setelahnya.

Kedua: QS. Fatir [35]: 28

            

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ulama.”

Seandainya lafazh (اللّٰهَ) dibaca (اللّٰهُ) dengan didhammah dan (الْعُلَمَاءُ) dibaca (الْعُلَمَاءَ) dengan difathah,  maka artinya berubah menjadi, “Sesungguhnya yang takut kepada para ulama dari kalangan para hamba adalah Allah.”

Penjelasan:

Lafazh Allah pada bacaan pertama menjadi maf’ul bih dengan alamat manshubnya berupa fathah, sementara lafazh Allah pada bacaan kedua menjadi fa’il dengan alamat marfu’nya berupa dhammah.

Ketiga: QS. An-Nisa` [4]: 164

          

“Dan Allah berbicara kepada Musa dengan sebenarnya.”

Seandainya lafazh (اللّٰهُ) dibaca (اللّٰهَ) dengan difathah, maka artinya berubah menjadi, “Dan Musa berbicara kepada Allah dengan sebenarnya.”

Penjelasan:

Lafazh Allah pada bacaan pertama menjadi fa’il dengan alamat marfu’nya berupa dhammah, sementara lafazh Allah pada bacaan kedua menjadi maf’ul bih dengan alamat manshubnya berupa fathah. Lalu di mana maf’ul bih untuk bacaan yang pertama dan fa’il untuk bacaan yang kedua? Jawabannya adalah lafazh Musa. Musa berupa isim maqsur sekaligus isim mamnu’ minash sharfi sehingga marfu’ dan manshubnya muqaddarah (diperkirakan atau tidak mengalami perubahan harakat secara zhahir)

Tanbih:

Bacaan kedua adalah bacaan kaum Mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara langsung dengan Musa ‘alaihis salam. Mereka mengedepankan akalnya dalam memahami ayat ini sehingga bacaannya harus dirubah. Mereka beranggapan bahwa Allah terlalu mulia untuk berbicara langsung dengan Musa ‘alaihis salam.

Adapun Ahli Sunnah mengimani zhahir ayat bahwa Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa ‘alaihis salam. Hal ini juga didukung oleh banyak hadits, di antaranya perkataan manusia saat di padang mahsyar kepada Nabi Musa ‘alaihis salam:

«يَا مُوسَى! أَنْتَ رَسُولُ اللّٰهِ، فَضَّلَكَ اللّٰهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ عَلَى النَّاسِ، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ! أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟»

“Hai Musa! Engkau adalah Rasulullah. Allah telah memuliakanmu dengan kerasulan dan dengan kalam-Nya atas seluruh manusia. Maka, berilah kami syafa’at kepada Rabb-mu. Tidakkah engkau melihat kesulitan kami ini?”[63]

Maksud “dengan kalam-Nya” adalah beliau diajak berbicara langsung oleh Allah sehingga beliau dijuluki Kalimullah “orang yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah.”

Allah ta’ala berfirman:

                                                                             

“Lalu tatkala Musa mendatanginya dia diseru, ‘Hai Musa! Sesungguhnya Aku adalah Rabb-mu, maka lepaskanlah sandalmu. Sesungguhnya kamu berada di lembah Thuwa yang suci, dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.’”[64]

          Sebenarnya takwil mereka ini batal dengan sendirinya bila mereka mau adil. Sebab mereka mati kutu dan tidak bisa mentakwil ayat yang jelas di bawah ini:

                                                 

“Apakah telah datang kepadamu kisah Musa. Yaitu ketika dia dipanggil oleh Rabb-nya di lembah suci Thuwa, ‘Pergilah kami kepada Fir’aun. Sesungguhnya dia melampaui batas.’”[65]

Dhamir di sini tidak bisa merujuk kecuali kepada Musa, dan rabbuhû tidak bisa dijadikan kecuali fâ’il dari nâdâ. Mereka tidak memiliki pilihan kecuali ini.

Keempat: QS. Taubah [9]: 3

            

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”

Seandainya lafazh (رَسُولُهُ) dibaca (رَسُولِهِ) dengan dikasrah, maka artinya akan berubah menjadi, “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya.”

Penjelasan:

Lafazh (رَسُولُهُ) menjadi mubtada’ yang alamat marfu’nya dhammah dan khabarnya mahdzuf (dibuang) taqdirannya adalah barîun minhum aidhan.[66]

Sementara bacaan (رَسُولِهِ) menjadi ma’thuf dari musyrikin dengan i’rab majrur alal kasrah.

Kelima: QS. Al-Maidah [5]: 6

                                      

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu berdiri hendak shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu, dan usaplah kepalamu dan (basuhlah) kakimu hingga ke mata kaki.”

Seandainya lafazh (أَرْجُلَكُمْ) dibaca (أَرْجُلِكُمْ) maka hukum kaki tidak dibasuh tetapi cukup diusap.

Penjelasan:

Bacaan pertama menjadi ma’thuf dari wa aidiyakum, sementara bacaan kedua menjadi ma’thuf dari bi rû-ûsikum.

Tanbih:

Apakah dampak dari bacaan yang kedua ini? Dampaknya amat besar, yaitu diancam Neraka. Tidak main-main, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mengancamnya.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

تَخَلَّفَ عَنَّا النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى سَفْرَةٍ سَافَرْنَاهَا، فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقَتْنَا الصَّلاَةُ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ، فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا، فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ: «وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ!» مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاَثًا

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu safar kami. Kemudian beliau berhasil menyusul kami saat masuk waktu shalat sementara kami sedang berwudhu. Saat kami mulai mengusap kaki-kaki kami, beliau berteriak dari kejauhan, ‘Celakalah tumit-tumit dari Neraka!’ Sebanyak dua atau tiga kali.”[67]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para shahabat yang hanya mengusap kakinya karena yang benar adalah membasuhnya. Sebagian ahli fikih mengatakan bahwa dikatakan mengusap jika hanya dipercikkan air lalu dilap (al-mas-hu bit takhfif) dan dikatakan membasuh jika dicuci dengan air secara merata dan sempurna (al-ghuslu bit taghlizh).

Ini diperkuat dengan hadits Utsman bin Affan. Diriwayatkan bahwa Humran maula Utsman menceritakan tata cara wudhu Utsman bin Affan. Di antara yang dia sebutkan:

ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ ثَلاَثَ مِرَارٍ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Kemudian dia membasuh kedua kakinya tiga kali sampai ke siku-siku.”[68]

Keenam: QS. Ali Imran [3]: 7

                                                                                                              

“Dialah yang telah menurunkan kepadamu al-Kitab. Di antaranya berupa ayat-ayat muhkamat yaitu Ummul Kitab dan di antaranya pula berupa ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyimpangan akan mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang tahu takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang dalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman terhadapnya. Semuanya dari sisi Rabb kami Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

Penjelasan:

Seandainya wawu pada lafazh (وَالرَّاسِخُونَ) dijadikan wawu athaf bukan wawu ibtida`, maka akan berubah maknanya, yaitu yang mengerti takwil ayat-ayat mutasyabihat tidak hanya Allah tetapi juga orang-orang yang mendalam ilmunya.

Tanbih:

Tentang ayat-ayat mutasyabihat, Ibnu Katsir berkata:

وَقِيْلَ: هِيَ الْحُرُوْفُ الْمُقَطَّعَةُ فِي أَوَائِلِ السُّوَرِ، قَالَهُ مُقَاتِلُ بْنُ حَيَّانٍ

“Ada yang berpendapat bahwa maksudnya adalah huruf-huruf muqaththa’ah (huruf-huruf potongan/tunggal) yang berada di awal surat. Ini pendapat Muqatil bin Hayyan.”[69]

Ulama yang menjadikan wawu di sini sebagai wawu ibtida` berpandangan bahwa takwil huruf-huruf muqaththa’ah hanya Allah saja yang mengetahui. Sementara ulama yang menjadikannya sebagai wawu athaf berpandangan bahwa huruf-huruf muqatha’ah bisa ditakwil. Al-Hafizh berkata:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: الم، قَالَ: أَنَا اللّٰهُ أَعْلَمُ

Dari Ibnu Abbas, dia berkata tentang makna alif lam mim, Aku adalah Allah yang Mahatahu.’”[70]

Wallahu a’lam mana dari dua jenis wawu ini yang rajih. Yang nampak bagi Penulis, bacaan wawu athaf adalah bacaan yang diterima dengan alasan cukup banyak atsar dari para shahabat yang mentakwil huruf-huruf ini, jika memang telah shahih riwayatnya. Hanya saja Penulis lebih condong kepada pendapatnya Ibnul Jauzi.

Al-Hafizh Ibnul Jauzi berkata, “Apakah orang-orang yang dalam ilmunya mengetahui takwilnya apa tidak? Ada dua pendapat.

Pertama, mereka tidak mengetahui takwilnya. Thawus telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia membacanya:

«وَيَقُولُ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ آمَنَّا بِهِ»

Qiraah ini dijadikan dalil oleh Ibnu Mas’ud, Ubai bin Ka’ab, Ibnu Abbas, Urwah, Qatadah, Umar bin Abdul Aziz, al-Farra`, Abu Ubaidah, Tsa’lab, Ibnul Anbari, dan Jumhur.

Ibnul Anbari berkata, ‘Dalam qiraah Abdullah bin Mas’ud (إِنْ تَأْوِيْلِهِ إِلاَّ عِنْدَ اللّٰهِ وَالرَّاسِخُوْنَ فِي الْعِلْمِ), dan qiraah Ubai dan Ibnu Abbas (وَيَقُوْلُ الرَّاسِخُونَ), terdapat penjelasan bahwa Allah menurunkan banyak hal di dalam kitab-Nya yang Dia sembunyikan ilmunya, seperti firman Allah ta’ala:

          

‘Katakanlah, ‘Sesungguhnya ilmu tersebut hanya di sisi Allah.’[71] Begitu pula firman Allah ta’ala:

      ﮐﮑ 

‘Dan umat-umat yang banyak di antara mereka.’[72] Allah menurunkannya secara mujmal (global) agar orang Mukmin beriman dengan gembira dan orang kafir ingkar dengan celaka.

Kedua, mereka mengetahui takwilnya. Mereka termasuk yang dikecualikan. Mujahid meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata:

أَنَا مِمَّنْ يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ

‘Aku termasuk yang mengetahui takwilnya.’ Ini pendapatnya Mujahid dan ar-Rabi’ serta dipilih oleh Ibnu Qutaibah dan Abu Sulaiman ad-Dimasyqi.’ Sayang Ibnu al-Anbari berkata, ‘Yang meriwayatkan pendapat ini dari Mujahid adalah Ibnu Abi Najih, sementara  riwayat tafsirnya dari Mujahid tidak sah.’”[73] Dari sini, sepertinya Ibnul Jauzi menguatkan pendapat yang pertama. Allahu a’lam.

Ketujuh: QS. Al-Baqarah [2]: 124

                  

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji oleh Rabb-nya dengan beberapa kalimat lalu dia melaksanakannya dengan sempurna.”

Penjelasan:

Jika lafazh (إِبْرَاهِيمَ) dibaca (إِبْرَاهِيمُ) dengan didhammah dan lafazh (رَبُّهُ) dibaca (رَبَّهُ) dengan difathah, maka artinya akan berubah menjadi, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim menguji Rabb-nya dengan beberapa kalimat lalu Dia melaksanakannya dengan sempurna.” Mahasuci Allah. Ini adalah bacaan yang bathil dan sesat.

Kedelapan: QS. Thaha [20]: 121

          

“Dan Adam bermaksiat kepada Rabb-nya sehingga dia sesat.”

Penjelasan:

Jika lafazh (آدَمُ) dibaca (آدَمَ) dengan difathah dan lafazh (رَبَّهُ) dibaca (رَبُّهُ) dengan didhammah, maka artinya akan berubah menjadi, “Dan Adam dimaksiati oleh Rabb-nya sehingga Dia sesat.” Mahasuci Allah. Ini adalah bacaan yang bathil dan sesat.

Sungguh amatlah banyak dalam al-Qur`an kesalahan-kesalahan fatal hanya sekedar sedikit salah baca. Dengan yang sedikit ini, mudah-mudahan bisa menambah kehati-hatian kita dalam membaca al-Qur`an.

Dulu kaum Salaf, sangat perhatian dalam memilih imam shalat mereka. Jika mereka cacat nahwunya dan sering lahn, maka dia pun ditinggal.

Diriwayatkan dari Idris --dia termasuk manusia terbaik pada masanya-- bahwa dia berkata:

قِيلَ لِلْحَسَنِ: إِنَّ لَنَا إِمَامًا يَلْحَنُ، قَالَ: أَخِّرُوهُ!

“Ditanyakan kepada al-Hasan, ‘Kami memiliki imam shalat yang lahn.’ Dia menjawab, ‘Akhirkan dia!’”[74]

Ini menunjukkan bahwa dalam memilih seorang imam, hendaknya diperhatikan tentang kefasihannya dalam membaca ayat-ayat al-Qur’an.

Hal ini sangatlah tersamar kecuali bagi ahli ilmu yang benar-benar menguasai bahasa Arab. Untuk itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللّٰهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا»

“Yang menjadi imam bagi suatu kaum adalah yang paling aqra`[75] di antara mereka terhadap Kitabullah. Jika mereka sama dalam bacaan, maka yang menjadi imam mereka adalah yang paling berilmu tentang sunnah. Jika mereka sama dalam sunnah, maka yang yang paling dahulu hijrahnya. Jika mereka dalam hijrah sama, maka yang paling dahulu masuk Islam.”[76]

/


 



[1] Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 39) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[2] Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (no. 30546) dalam al-Mushannaf. Maksudnya, pelajarilah bahasa Arab agar kalian terhindar dari lahn.

[3] QS. Maryam [19]: 97 dan ad-Dukhân [44]: 58.

[4] Tafsîr al-Qurthubî (XI/162).

[5] Tafsîr Ibnu Katsîr (VII/263).

[6] Tafsîr as-Sa’dî (hal. 774).

[7] Shahih: HR. Muslim (no. 2664), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[8] Ta’lîq Shahîh Muslim (IV/2052) oleh Abdul Baqi.

[9] Syarah al-Jurrumiyah (hal. 6) oleh Syaikh al-Utsaimin.

[10] Lihat Kitâbul Ilmi (hal. 111) oleh Syaikh al-Utsaimin.

[11] Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 103-105) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[12] Iqtidha` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/527) oleh Syaikhul Islam.

[13] Ar-Risâlah (hal. 48-49) oleh Imam asy-Syafi’i.

[14] HR. Ibnu Abi Syaibah (no. 30534) dalam al-Mushannaf.

[15] Telah berlalu takhrijnya.

[16] HR. Ibnu Abi Syaibah (no. 30532) dalam al-Mushannaf. Diriwayatkan dari Ibnu Idris dari Maqburiy dari kakeknya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[17] HR. Al-Baihaqi (no. 1594) dalam Syu’abul Iman. Dia berkata, “Abu Ja’far al-Mustamli mengabarkan kepadaku, Muhammad bin Muhammad bin Sinan an-Nahwi mengabarkan kepadaku, al-Hasan bin Sufyan mengabarkan kepadaku, Humaid bin Zanjawaih mengabarkan kepadaku, Utsman bin Shalih mengabarkan kepadaku, Ibnu Lahi’ah mengabarkan kepadaku, dari Atha`, dari Abu Hurairah.” Ibnu Lahi’ah didha’ifkan setelah kitab-kitabnya terbakar.

[18] Telah berlalu takhrijnya.

[19] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 1078) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[20] Ibid (no. 1080).

[21] Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2715).

[22] Hasan Shahih: HR. At-Tirmidzi (no. 2715). Dinilai hasan shahih oleh al-Albani dan at-Tirmidzi.

[23] Kitâbul Ilmi (hal. 139, pertanyaan ke-18) oleh Syaikh al-Utsaimin.

[24] QS. Ibrâhîm [14]: 4.

[25] Kitâbul Ilmi (hal. 155-156, pertanyaan ke-33) oleh al-Utsaimin.

[26] Imam dan mufti Masjidil Haram, berguru kepada 200 shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, imam dan guru para tabi’in.

[27] As-Siyar (V/87). Adz-Dzahabi berkata, “Pada hari itu umurnya 90 tahun!”

[28] QS. Thâhâ [20]: 113.

[29] QS. Az-Zumar [39]: 28.

[30] QS. Asy-Syuarâ` [26]: 192-195.

[31] QS. Al-Anfâl [8]: 2.

[32] Diriwayatkan Sa’id bin Manshur (no. 95) dalam Sunannya.

[33] QS. Thâhâ [20]: 124-126.

[34] Shahih: HR. Abdurrazzaq (no. 6010) dalam al-Mushannaf. Lihat Thabarani (no. 8655) dalam al-Mu’jam al-Kabîr.

[35] QS. Yûsûf [12]: 2.

[36] QS. Az-Zukhrûf [43]: 3.

[37] Shahih: HR. Ahmad (no. 7403) dalam al-Musnad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Maksudnya, kalimat yang ringkas tapi padat dan sarat makna.

[38] Lihat at-Ta’rif bima Ufrida Minal Ahadits (hal. 164) oleh Yusuf al-Athiq.

[39] Syu’abul Iman (no. 1566) oleh Imam al-Baihaqi.

[40] Al-Hatstsu ‘ala Hifzil Ilmi (hal. 72) oleh Ibnul Jauzi.

[41] Ibid (hal. 76).

[42] Ibid (hal. 53).

[43] Ibid (hal. 89).

[44] QS. Fushshilat [41]: 3.

[45] (عِلْمٌ) adalah mashdar dari (عَلِمَ) è (يَعْلَمُ)/( يَعْلَمُوْنَ) è (عِلْماً).

[46] QS. Asy-Syûra [42]: 7.

[47] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 110) dan Muslim (no. 3) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[48] Lihat Jâmi’ul Ulûm wal Hikam (I/498).

[49] Syu’abul-Iman (no. 1556) oleh Imam al-Baihaqi dan Mu’jamul Udabâ` (I/3) oleh Yaqut al-Hamawi.

[50] Hilyatul Auliyâ` (IX/123) oleh Abu Nu’aim al-Ashfahani.

[51] As-Siyar (IX/199) oleh adz-Dzahabi.

[52] Mu’jamul Udabâ` (I/3) oleh Yaqut al-Hamawi.

[53] Syu’abul Iman (no. 1564) oleh al-Baihaqi.

[54] Iqtidha` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/527) oleh Syaikhul Islam.

[55] QS. Al-Baqarah [2]: 204.

[56] QS. Al-Munâfiqûn [63]: 4.

[57] Tafsir al-Qurthubî (VIII/125).

[58] As-Siyar (XI/527) oleh adz-Dzahabi.

[59] Sebagian orang yang geram dengan mereka memplesetkan menjadi Jaringan Iblis Laknatullah.

[60] Al-Hâsyiyah al-Jaliyyah ‘alâ Matnil Jurrumiyyah (hal. 12) oleh Abu Anas Malik bin Salim al-Muhdziri.

[61] Telah berlalu takhrijnya.

[62] Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (no. 30543) dalam al-Mushannaf.

[63] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4712) dan Muslim (no. 194) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[64] QS. Thâhâ [20]: 11-14.

[65] QS. An-Nâzi’ât [79]: 15-17.

[66] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/103).

[67] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 60) dan Muslim (no. 241).

[68] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 159) dan Muslim (no. 226). Hadits ini merupakan dalil yang paling shahih dan lengkap tentang tata cara wudhu.

[69] Tafsîr Ibnu Katsîr (II/7).

[70] Ibid (I/157).

[71] QS. Al-A’râf [7]: 187.

[72] QS. Al-Furqan [25]: 38.

[73] Zâdul Masîr (I/301) oleh Ibnul Jauzi.

[74] Diriwayatkan Sa’id bin Manshur (no. 40) dalam Sunannya.

[75] Muhammad Fuad Abdul Baqi berkata, “Yang paling banyak hafalannya dan paling baik bacaan tajwidnya.” [Ta’lîq Sunan Ibnu Mâjah (I/313)]

[76] Shahih: HR. Muslim (no. 673), dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu.


Related

Ada Apa dengan Bahasa Arab 7209119689896751547

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

Tentang Admin

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Radlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfiz Quran Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan LIPIA Surabaya (cabang Universitas Al Imam di Riyadh KSA). Kesibukan hariannya adalah imam Rowatib, mengajar bahasa Arab, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis) serta tidak merubah isi kecuali ada kesalahan secara ejaan dan kesalahan syar'i. .

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item