[]

Bab 2 Bahasa Arab dan Kaum Salaf | ADA APA DENGAN BAHASA ARAB | PUSTAKA SYABAB

 Bab 2 Bahasa Arab dan Kaum Salaf >>> KEMBALI KE DAFTAR ISI Kisah p erjalanan ilmiah kaum Salaf tidak akan terlepas dari perhatia...

 Bab 2 Bahasa Arab dan Kaum Salaf




>>> KEMBALI KE DAFTAR ISI


Kisah perjalanan ilmiah kaum Salaf tidak akan terlepas dari perhatian mereka terhadap bahasa Arab. Bahkan, hal ini mereka lakukan sebelum atau beriringan saat mengkaji al-Qur`an dan tafsirnya, hadits dan syarahnya, dan kitab-kitab para pendahulunya. Hal ini tidak lain karena semua ilmu dalam Islam memerlukan bahasa Arab.

Imam asy-Sya’bi (w. 105 H) berkata:

النَّحْوُ فِي الْعِلْمِ كَالْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ لاَ يَسْتَغْنَى عَنْهُ

“Nahwu bagi ilmu bagaikan garam bagi makanan yang pasti dibutuhkan.”[1]

          Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

الْعِلْمُ بِهِ عِنْدَ الْعَرَبِ كَالْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ عِنْدَ أَهْلِ الْفِقْهِ

“Ilmu bahasa Arab bagi orang Arab seperti ilmu sunnah bagi ahli fiqih.”[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata:

إِنَّ اللّٰهَ تَعَالَى لَمَّا أَنْزَلَ كِتَابَهُ بِاللِّسَانِ العَرَبِي وَجَعَلَ رَسُوْلَهُ مُبَلِّغاً عَنْهُ لِلْكِتَابِ وَالحِكْمَةِ بِلِسَانِهِ العَرَبِي وَجَعَلَ السَّابِقِيْنَ إِلَى هَذَا الدِّيْنِ مُتَكَلِّمِيْنَ بِهِ، لَمْ يَكُنْ سَبِيْلٌ إِلَى ضَبْطِ الدِّيْنِ وَمَعْرِفَتِهِ إِلاَّ بِضَبْطِ اللِّسَانِ. وَصَارَتْ مَعْرِفَتُهُ مِنَ الدِّيْنِ، وَصَارَ اعْتِبَارُ التَكَلُّمِ بِهِ أَسْهَلَ عَلَى أَهْلِ الدِّيْنِ فِي مَعْرِفَةِ دِيْنِ اللّٰهِ وَأَقْرَبَ إِلَى إِقَامَةِ شَعَائِرِ الدِّيْنِ وَأَقْرَبَ إِلَى مُشَابَهَتِهِمْ لِلسَّابِقِيْنَ الْأَوَّلِيْنَ مِنَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَالْأَنْصَارِ فِي جَمِيْعِ أُمُورِهِمْ

“Sesungguhnya Allah ta’ala ketika menurunkan Kitab-Nya dengan bahasa Arab dan menjadikan Rasul-Nya menyampaikan al-Kitab dan as-Sunnah dengan bahasa Arab serta menjadikan orang-orang terdahulu masuk Islam berbicara dengan bahasa ini, maka tidak ada jalan untuk mendalami agama ini dan mengenalnya kecuali dengan mendalami bahasa ini. Jadilah mempelajarinya bagian dari agama dan jadilah mempraktikkan berbicara dengannya lebih mempermudah ahli agama dalam mempelajari agama Allah, lebih dekat kepada menegakkan syiar-syiar agama, dan lebih dekat kepada menyerupai orang-orang terdahulu yang masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dalam semua aspek urusan mereka.”[3]

          Syaikh al-Albani (w. 1420 H) berkata, “Al-Kitab dan as-Sunnah tidak mungkin bisa dipahami, begitu pula cabang dari keduanya, kecuali lewat jalan bahasa Arab.”

Mereka mengetahui di antara sumber kesesatan adalah ketika seorang penuntut ilmu tidak memulai dengan bahasa Arab, kemudian dia pun memahami nash bukan dengan arahan bahasa Arab sehingga pemahamannya rusak dan sesat. Apa yang Allah inginkan dalam firman-Nya dan apa yang Rasul-Nya inginkan dalam sabdanya tidak bisa dijangkau oleh mereka, karena keduanya berbahasa Arab. Hal ini semakin berat saat mereka memilih untuk tidak mengikuti bimbingan kaum Salaf dalam memahaminya. Maka, muncullah firqah-firqah sesat lagi menyimpang: Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Jabariyah, Mu’tazilah, dan Asy’ariyah.

Abu az-Ziyad berkata:

مَا تَزَنْدَقَ مَنْ تَزَنْدَقَ بِالْمَشْرِقِ إِلَّا جَهْلًا بِكَلَامِ الْعَرَبِ وَعُجْمَةِ قُلُوبِهِمْ

“Tidaklah seseorang bersifat zindiq di daerah timur melainkan karena jahil bahasa Arab dan berhati ajam.”[4]

1. Perhatian Kaum Salaf Terhadap Bahasa Arab

          Dalam pembahasan ini, Penulis akan membawakan beberapa bentuk perhatian kaum Salaf terhadap bahasa Arab. Berikut pembahasannya.

          Di antara bentuk perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah mereka mendahulukan bahasa Arab sebelum ilmu-ilmu yang lain.

Imam Abu Bakar al-Baihaqi (w. 458 H) berkata:

وَيَنْبَغِي لِمَنْ أَرَادَ طَلَبَ العِلْمِ وَلَمْ يَكُنْ مِنْ أَهْلِ لِسَانِ العَرَبِ أَنْ يَتَعَلَّمَ اللِّسَانَ أَوَّلًا وَيَتَدَرَّبَ فِيهِ

“Sepatutnya bagi seseorang yang ingin menuntut ilmu sementara dia bukan ahli berbahasa Arab untuk pertama kalinya dengan mempelajari bahasa Arab dan mempraktikannya.[5]

          Umar bin al-Khaththab (w. 23 H)  radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُواْ العَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ، وَتَعَلَّمُوا الفَرَائِضَ فَإِنَّهَا مِنْ دِيْنِكُمْ

“Pelajarilah bahasa Arab karena ia bagian dari agama kalian, dan pelajarilah faraidh karena ia bagian dari agama kalian.” Setelah membawakan atsar ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) menjelaskan:

وَهَذَا الَّذِي أَمَرَ بِهِ عُمَرُ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ مِنْ فِقْهِ الْعَرَبِيَّةِ وَفِقْهِ الشَّرِيْعَةِ يَجْمَعُ مَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، لِأَنَّ الدِّيْنَ فِيْهِ أَقْوَالٌ وَأَعْمَالٌ. فَفِقْهُ الْعَرَبِيَّةِ هُوَ الطَّرِيْقُ إِلَى فِقْهِ أَقْوَالِهِ وَفِقْهُ السُّنَّةِ هُوَ فِقْهُ أَعْمَالِهِ

“Apa yang diperintahkan Umar radhiyallahu ‘anhu berupa mendalami bahasa Arab dan mendalami syari’at, telah mencakup semua perkara yang dibutuhkan. Sebab, agama mencakup ucapan dan perbuatan. Mendalami bahasa Arab merupakan jalan untuk memahami ucapan-ucapan, sementara mendalami sunnah merupakan fiqih perbuatan.”[6]

Namun, bukan berarti hal ini disikapi sangat kaku. Terkadang seseorang lebih membutuhkan sentuhan rohani lebih banyak daripada kebutuhannya kepada bahasa Arab, bisa jadi karena lingkungan jelek yang menuntut hal itu atau keadaan jiwa yang cenderung suka menyimpang agar tidak menimpa apa yang menimpa sebagian anak Harun ar-Rasyid, atau digabungkan kedua-duanya bila memungkinkan.

Alhasil, hendaklah seseorang memperhatikan dirinya apakah sudah baik ibadah wajibnya kepada Allah dan bagaimana aqidahnya. Jika telah baik maka hendaklah mulai mempelajari bahasa Arab dan bersungguh-sungguh mempelajarinya sampai mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk mendalami ilmu syar’i yang lain. Jika keadaanya tidak demikian, dia bisa menggabungkan antara mempelajari bahasa Arab dengan mempelajari apa yang perlu diketahui dan diyakini dari kewajiban-kewajiban dan aqidah pokok Ahli Sunnah.

Al-Hafizh Ibnu Jauzi (w. 597 H) berkata, “Perkara pertama yang seharusnya didahulukan adalah muqaddimah tentang akidah beserta dalilnya untuk mengenal Allah. Hal ini tidak boleh tidak. Kemudian mempelajari kewajiban-kewajiban. Kemudian menghafal al-Qur`an, kemudian menghafal hadits. Juga dia harus mempelajari muqaddimah tentang nahwu untuk meluruskan bahasanya. Fiqih adalah intisari semua ilmu.”[7]

Di antara bentuk perhatian mereka terhadap bahasa Arab adalah bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya dan mengirim anak-anak mereka ke ahli bahasa.

Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu berkata:

تَعَلَّمُوا العَرَبِيَّةَ كَمَا تَعَلَّمُونَ حِفْظَ الْقُرْآنِ

“Pelajarilah bahasa Arab seperti kalian mempelajari hafalan al-Qur`an.”[8]

          Atsar ini menunjukkan bahwa para shahabat sangat memperhatikan bahasa Arab. Telah diriwayatkan dari Ibnu Ma’sud radhiyallahu ‘anhu bahwa para shahabat menghafal al-Qur`an per lima ayat-lima ayat. Ini menunjukkan bahwa Ubay radhiyallahu ‘anhu menghendaki bahasa Arab dipelajari dengan sungguh-sungguh dan tidak tergesa-gesa sehingga berhasil mencapai apa yang diinginkan. Juga berdasarkan surat Umar radhiyallahu ‘anhu kepada gubernurnya Abu Musa al-Asy’ari untuk mendalami bahasa Arab.

Kebanyakan khalifah-khalifah Abbasiyah memanggil para ahli bahasa untuk mendidik bahasa anak-anaknya secara privat sebagaimana yang dilakukan Harun ar-Rasyid. Hanya saja, sebagian anak-anak Harun ar-Rasyid terlena dengan bahasa dan meninggalkan ilmu kaum Salaf. Akhirnya, saat mereka menduduki jabatan kekhalifahan menggantikan ayahnya mereka mengkampayekan al-Qur`an adalah makhluk atas hasutan para menteri dan qadhi yang berpaham Mu’tazilah. Bahkan akidah ini bertahan sampai tiga periode kekhalifahan yaitu masa al-Makmun bin Harun ar-Rasyid, al-Mu’tashim bin Harun ar-Rasyid, dan al-Watsiq bin al-Mu’tashim. Selama tiga kepemimpinan inilah Imam Ahmad bin Hanbal disiksa hingga kepemimpinan digantikan oleh putra al-Mu’tashim yang cinta ilmu dan mengikuti kaum Salaf. Dia adalah al-Mutawakkil Billah. Akhirnya bendera Ahli Sunnah berkibar kembali.

          Di antara bentuk perhatian mereka kepada bahasa Arab adalah memperingatkan orang yang lahn agar memperbaiki bahasanya dan mengecam siapa dari mereka yang berani berbicara tentang agama.

Abdul Malik bin Marwan berkata:

اللَّحْنُ فِي الرَّجُلِ السِّرِّيُ كَالْجُدَرِي فِي الوَجْهِ

“Lahn yang tersembunyi pada seseorang bagaikan penyakit cacar pada wajah.”[9]

          Mereka benar-benar mengetahui bahwa kesesatan dalam agama dimulai dari orang-orang dungu yang tidak paham seluk-beluk bahasa lalu menafsirkan nash sesuai dengan seleranya. Untuk itu mereka benar-benar memperingatkan umat darinya dan mengecamnya.

          Mujahid bin Jabr (w. 104 H) berkata:

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَاليَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يَتَكَلَّمَ فِي كِتَابِ اللّٰهِ إِذَا لَمْ يَكُنْ عَالِماً بِلُغَاتِ العَرَبِ

“Tidak halal bagi siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berbicara tentang Kitabullah, apabila dia tidak memiliki ilmu bahasa Arab.”[10]

Imam Malik bin Anas (w. 179 H) berkata:

لَا أُوْتِىَ بِرَجُلٍ يُفَسِّرُ كِتَابَ اللّٰهِ غَيْرَ عَالِمٍ بِلُغَةِ العَرَبِ إِلاَّ جَعَلْتُهُ نَكَالاً

“Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang menafsirkan Kitabullah padahal tidak tahu bahasa Arab melainkan akan aku hukum dia dengan berat.”[11]

Lafazh (نَكَالاً) digunakan untuk hukuman yang berat sebagaimana firman Allah ta’ala:

                            

“Dan laki-laki dan perempuan yang mencuri, potonglah kedua tangan mereka berdua sebagai balasan atas perbuatannya sebagai hukuman berat dari Allah.”[12]

          Di antara perhatian mereka yang paling agung adalah mereka menganjurkan dengan anjuran yang tegas agar berbicara dengan bahasa Arab, meskipun bukan di negeri Arab.

Diriwayatkan dari Atha’ bin Abi Rabah (w. 114 H) bahwa dia berkata:

بَلَغَنِي أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ سَمِعَ رَجُلًا يَتَكَلَّمُ بِالْفَارِسِيَّةِ فِي الطَّوَافِ فَأَخَذَ بِعَضُدِهِ وَقَالَ: ابْتَغِ إِلَى الْعَرَبِيَّةَ سَبِيْلًا

“Sampai kabar kepadaku bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mendengar seseorang berbicara menggunakan bahasa Persia saat thawaf, lalu dia memegang lengannya dan berkata, Thowaflah dengan bahasa Arab.’”[13]

Syaikhul Islam (w. 728 H) berkata, “Adapun membiasakan berbicara dengan selain bahasa Arab --di mana ia merupakan syi’ar Islam dan bahasa al-Qur`an-- hingga menjadi kebiasaan di suatu negeri dan penduduknya, atau bagi anggota keluarga, atau seseorang dengan saudaranya, atau bagi orang-orang pasar, atau dalam kepemimpinan, atau dalam parlemen, atau bagi ahli fiqih, maka tanpa diragukan bahwa ini makruh karena menyerupai orang-orang ajam (non-Arab). Ini makruh sebagaimana penjelasan lalu.

Oleh karena itu, kaum Muslimin masa dulu saat menduduki negeri Syam dan Mesir yang bahasa keduanya Romawi, negeri Iraq dan Khurasan yang bahasa keduanya Persia, penduduk Maroko yang bahasanya Barbar, mereka membiasakan para penduduknya untuk berbahasa Arab, sehingga bahasa Arab menguasai penduduk negeri-negeri ini baik yang Muslim maupun yang kafir.”[14]

Atas jasa mereka ini, bahasa Arab tersebar ke berbagai negeri Islam yang dulunya bukan Arab. Sehingga ilmu al-Qur`an dan as-Sunnah berkembang pesat. Kemudian muncullah para ahli bahasa dan ahli hadits di negeri-negeri ajam ini. Hampir semua ahli ilmu Islam didominasi oleh orang-orang ajam bahkan sebagiannya adalah budak tawanan kaum Muslimin. Di antaranya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il (w. 256 H) pengarang kitab paling shahih setelah al-Qur`an berasal dari al-Bukhara, Imam Muslim (w. 261 H) dari Naisabur, Imam Abu Isa (w. 249 H), dari Tirmidz, Imam Abu Dawud (w. 275 H) dari Sijistan, Imam an-Nasa`i (w. 303 H) dari Nasa`, Imam Ibnu Majah (w. 273 H) dari Qazwain, Abu Nu’aim (w. 430 H) dari Asfahan, Ibnu Hazm dan Ibnu Abdil Barr dari Andalusia (Spanyol). Bahkan, kiblat bahasa Bashrah Sibawaih (w. 180 H) bukan asli orang Arab tetapi orang Persia.

Abu Thahir as-Silafi dengan sanadnya yang terkenal yang sampai ke Sa’id bin al-Musayyib (w. 94 H) bahwa dia berkata:

لَوْ أَنِّي لَمْ أَكُنْ مِنْ قُرَيْشٍ لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَكُونَ مِنْ فَارِس، ثُمَّ أَحْبَبْتُ أَنْ أَكُوْنَ مِنْ أَصْبَهَانَ

“Seandainya aku bukan orang Quraisy, aku suka menjadi orang Persia, kemudian aku suka menjadi orang Asfahan.” Dan dalam riwayat lain:

لَوْلاَ أَنِّي رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ لَتَمَنَّيْتُ أَنْ أَكُوْنَ مِنْ أَصْبَهَانَ، لِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَوْ كَانَ الدِّيْنُ مُعَلَّقاً بِالثُّرَيّاَ لَتَنَاوَلَهُ نَاسٌ مِنْ فَارِسٍ مِنْ أَبْنَاءِ الْعَجَمِ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِهَا فَارِسٌ وَأَصْبَهَانُ»

“Seandainya aku bukan orang Quraisy, aku berandai-andai menjadi orang Asfahan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seandainya agama ini digantung di bintang Tsurayya, niscaya akan diraih oleh seorang dari Persia dari keturunan orang ajam. Orang yang paling bergembira adalah orang Persia dan Asfahan.’”[15]

          Syaikhul Islam (w. 728 H) berkata, “Salman al-Farisi berasal dari Asfahan, begitu pula Ikrimah --ahli tafsir al-Qur`an-- budak Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan selain keduanya. Pengaruh Islam di Asfahan lebih nampak daripada di tempat lainnya, hingga al-Hafizh Abdul Qadir ar-Rahawi berkata, ‘Aku tidak melihat negeri setelah Baghdad yang lebih banyak haditsnya selain Asfahan.’”[16]

Nasab ajam tidak menghalangi mereka untuk menjadi imam dalam ilmu dan ketaqwaan. Mereka tekun mempelajari bahasa Arab hingga akhirnya Allah memudahkan ilmu-ilmu yang lain karenanya.

Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

مَا أَرَدْتُ بِهَا -يَعْنِي: العَرَبِيَّةَ وَالأَخْبَارَ- إِلاَّ لِلاِسْتِعَانَةِ عَلَى الفِقْهِ

“Aku tidak menghendakinya --yakni bahasa Arab dan hadits-- melainkan supaya membantuku dalam memahami fiqih.”[17]

Sungguh bahasa Arab dan hafal al-Qur`an adalah dua kenikmatan yang tidak ada bandingannya bagi penuntut ilmu. Siapa yang diberi Allah keduanya, berarti dia telah diberi bagian yang amat besar.

          Syaikh al-Muhaddits al-Albani (w. 1420 H) berkata, “Sesungguhnya nikmat yang Allah karuniakan kepadaku teramat banyak, tidak terhitung banyaknya. Namun kiranya yang terpenting ada dua: yang pertama hijrahnya orang tuaku ke Syam dan yang kedua diajarkannya aku kemampuan memperbaiki jam. Adapun yang pertama yaitu hijrahnya kami ke negeri Syam, dengan itu aku diberi kemudahan untuk mempelajari bahasa Arab. Jika seandainya kami tetap di Albania, niscaya aku tidak akan paham bahasa Arab walaupun satu huruf, padahal tidak ada jalan untuk memahami al-Qur`an dan as-Sunnah kecuali dengan jalan bahasa Arab. Adapun yang kedua yaitu keahlian memperbaiki jam, ini memberikanku waktu yang luas untuk menuntut ilmu, sehingga aku diberi kesempatan untuk senantiasa datang ke perpustakaan azh-Zhahiriyyah dan perpustakaan yang lain dan membaca di sana berjam-jam lamanya.”[18]

Hamzah Abbas Lawadi berkata, “Inilah salah satu kesaksian ulama zaman ini yang menyadarkan kita bahwa mempelajari bahasa Arab adalah nikmat yang besar. Bagaimana tidak? Bukankah merupakan satu kenikmatan yang besar jika kita mampu memahami terjemah al-Qur`an tanpa harus melihat mushaf terjemah? Bukankah satu kenikmatan besar jika kita mampu memahami terjemah suatu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa harus melihat terjemah buku-buku hadits Nabi? Bukankah satu kenikmatan besar jika kita bisa langsung membaca buku tafsir al-Qur`an dan syarah hadits yang ditulis para ulama dalam bahasa Arab, tanpa perlu melihat terjemah buku-buku tersebut? Bukankah satu kenikmatan yang besar jika kita mampu mendengarkan secara langsung dan memahami ceramah-ceramah para ulama Ahli Sunnah dalam bahasa Arab tanpa membutuhkan penerjemah?

Kita jawab dan kita katakan tanpa ragu, ‘Ya, memahami bahasa Arab memang merupakan suatu kenikmatan besar.’ Seseorang yang memiliki kemampuan yang cukup dalam bahasa Arab bagaikan seorang (perenang handal) yang di hadapannya lautan. Ia memiliki kemampuan untuk berenang dari arah manapun yang ia sukai, baik di tepian pantai maupun di tengah samudra yang luas.

Seseorang yang paham bahasa Arab bagaikan pemegang kunci yang akan mengantarkannya ke lautan ilmu syar’i yang luas nan dalam. Ia mampu secara langsung menimba ilmu-ilmu Islam dari sumber-sumbernya yang terpercaya. Ia tidak akan tertipu dengan banyaknya salah penerjemahan, yang sekarang banyak kita temukan dalam buku-buku terjemahan.

Ia tidak akan terjebak dengan tipuan orang-orang yang berdusta ketika menerjemahkan ceramah dan nasihat para ulama. Bahkan ia mampu untuk menyampaikan semua itu kepada umat secara langsung dengan penuh ketelitian dan amanah.”[19]

2. Dua Pakar Nahwu dari Bashrah dan Kufah

a. Sibawaih al-Bahsri

Silsilah dan Kelahirannya

Dia adalah Abu Bisyr Amr bin Utsman bin Qanbar al-Farisi al-Bashri. Dia bukan orang Arab tetapi keturunan Persia. Tempat kelahirannya di kota Syiraz desa Baidha`, salah satu daerah di Iran sekarang pada tahun 148 H.

Dia adalah imam Bashrah dan hujjah bagi ahli nahwu sesudahnya serta peletak dasar pertama kaidah-kaidah nahwu. Terlebih lagi setelah dia menyelesaikan kitabnya yang legendaris al-Kitab yang menjadi rujukan orang-orang setelahnya.

Guru dan Muridnya

Di antara syaikh-syaikhnya yang termasyhur dalam bahasa dan nahwu adalah al-Khalil bin Ahmad (w. 160 H) , Yunus bin Habib (w. 182 H), Isa bin Umar (w. 149 H), dan Abul Khaththab al-Akhfasy[20] al-Kabir. Dia juga menghadiri majlis Hammad bin Salamah, imam ahli hadits dan bahasa serta guru imam Ahmad bin Hanbal.

Di antara murid-muridnya yang menonjol adalah al-Akhfasy[21] al-Ausath, an-Nasi, dan Quthrub.

Tidaklah berlebihan jika keilmuan Sibawaih menonjol karena kota Bashrah menjadi kediaman para ulama baik kalangan sahabat seperti Abu Musa al-Asy’ari dan Anas bin Malik, dari kalangan tabi’in seperti al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan Hammad bin Salamah, dari kalangan bahasa seperti al-Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib, al-Ashmu’i, al-Kisa`i, al-Yazidi, al-Farra`, al-Ahmar, Ibnu Sallam al-Jamha, dan masih banyak lagi.

Ibnu Nuthah berkata:

كُنْتُ عِنْدَ الْخَلِيْلِ بِنْ أَحْمَدَ فَأَقْبَلَ سِيبَوَيْه، فَقَالَ الْخَلِيْلُ: مَرْحَباً بِزَائِرٍ لَا يَمَلُّ

“Aku berada di sisi al-Khalil bin Ahmad lalu datang Sibawaih lalu al-Khalil berkata, ‘Selamat datang pengunjung yang tidak akan dikecewakan.’”[22]

Abu Umar al-Makhzumi --seorang yang selalu menghadiri majlis al-Khalil-- berkata:

مَا سَمِعْتُ الْخَلِيْلَ يَقُولُهَا لِأَحَدٍ إِلَّا لِسِيبَوَيْهَ

“Aku tidak penah mendengar al-Khalil berkata itu kepada seorang pun (di majlisnya) kecuali kepada Sibawaih.”[23]

Ciri Fisik dan Karakternya

Al-‘Isyi berkata:

كُنَّا نَجْلِسُ مَعَ سِيْبَوَيْهَ فِي المَسْجِدِ، وَكَانَ شَابّاً جَمِيلاً نَظِيفاً، قَدْ تَعَلَّقَ مِن كُلِّ عِلْمٍ بِسَبَبٍ، وَضَرَبَ بِسَهْمٍ مِن كُلِّ أَدَبٍ مَعَ حَدَاثَةِ سِنِّهِ

“Kami pernah duduk bersama Sibawaih di masjid. Dia seorang pemuda yang tampan dan rapi. Terkumpul baginya semua ilmu dan adab padahal usianya masih muda.”[24]

Ibrahim al-Harbi berkata:

سُمِّيَ سِيبَوَيه لِأَنَّ وَجْنَتَيْهِ كَانَتَا كَأَنَّهُمَا تُفَّاحَتَانِ، وَكاَنَ فِي غَايَةِ الْجَمَالِ، رَحِمَهُ اللّٰهُ تَعَالَى

“Dinamakan Sibawaih karena kedua pipinya seperti dua apel, dan dia sangat rupawan. Semoga Allah merahmatinya.”[25]

Ibnu Khalawaih berkata, “Setiap kali orang bertemu dengannya mencium bau harum. Oleh karena itu, dia dipanggil Sibawaih. Si artinya tiga puluh dan Bawaih artinya harum --dalam bahasa Persia--. Jadi, seakan-akan artinya tiga puluh aroma harum.”[26]

Sibawaih dan Keilmuannya

Awalnya dia belajar hadits dan fiqih. Dia sering menghadiri majlis Hammad bin Salamah. Suatu hari, Hammad menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

«لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِي إِلَّا لَوْ شِئْتُ أَخَذْتُ عَلَيْهِ، لَيْسَ أَبَا الدَّرْدَاءِ»

Kemudian Sibawaih menyanggah:

لَيْسَ أَبُو الدَّرْدَاءِ

Dia menyangka Abu Darda` sebagai isim laisa. Maka berkatalah gurunya, “Kamu telah melakukan lahn hai Sibawaih. Bukan itu yang aku maksud. Laisa di sini sebagai istitsna`. Sibawaih berkata, “Aku akan belajar bahasa dulu agar tidak terkena lahn lagi.” Lalu, dia bermulazamah kepada al-Khalil bin Ahmad.[27]

Yahya al-Barmaki seorang menteri Harun ar-Rasyid pernah mempertemukan Sibawaih dengan al-Kisa`i untuk berdebat saat kunjungannya ke Baghdad. Majlis itu dihadiri al-Farra`, Sa’id al-Akhfasy, dan lainnya. Mereka membahas masalah zunburiyah. Kemudian perdebatan dimenangkan oleh Sibawaih lalu diberi hadiah oleh al-Barmaki sebayak 10.000 dirham.[28]

Kisah ini secara lengkap dicantumkan oleh Yaqut al-Hamawi (w. 626 H) dalam kitab biografinya bahwa Abu al-Hasan Sa’id bin Mas’adah, al-Mubarrid, dan Tsa’lab berkata, “Sibawaih datang ke Iraq lalu disambut oleh Yahya bin Khalid al-Barmaki dan menanyakan kabarnya. Sibawaih berkata, ‘Datangkan dan pertemukan antara saya dan al-Kisa`i.’ Dia berkata, ‘Jangan lakukan. Dia adalah syaikhnya negeri ini dan syaikhul qura`nya, pengajar anak Amirul Mukminin, semua orang di negeri ini berpihak padanya dan menghormatinya.’ Dia pun enggan mempertemukan mereka berdua lalu kabar ini sampai ke Harun ar-Rasyid lalu memerintahkan agar mereka berdua dipertemukan di suatu hari yang telah ditentukan. Ketika datang hari itu, Sibawaih datang sendirian ke kediaman ar-Rasyid. Di sana dia menjumpai al-Farra`, al-Ahmar, Hisyam bin Muawiyah, dan Muhammad bin Sa’dan yang telah mendahuluinya. Al-Ahmar memberi 100 pertanyaan kepadanya dan tidaklah dijawab oleh Sibawaih melainkan dia berkata, ‘Kamu salah, wahai orang Bashrah!’ Sibawaih jengkel dan berkata, ‘Tak punya adab!’

Kemudian datanglah al-Kisa`i dengan antusias bersama sekelompok orang Arab. Ketika duduk, dia berkata, ‘Hai orang Bashrah, bagaimana pendapatmu tentang kalimat:

خَرَجْتُ وَإِذَا زَيْدٌ قَائِمٌ

Sibawaih menjawab, Boleh juga dibaca خَرَجْتُ فَإِذَا زَيْدٌ قَائِماً.’

Al-Kisa`i menyanggah, ‘Tidak boleh! Lalu bagaimana pendapatmu tentang kalimat:

قَدْ كُنْتُ أَظُنُّ أَنَّ الْعَقْرَبَ أَشَدُّ لَسْعَةً مِنَ الزُّنْبُوْرِ، فَإِذَا هُوَ هِيَ، أَوْ فَإِذَا هُوَ إِيَّاهَا؟

Sibawaih menjawab, ‘Yang benar هِي dan tidak boleh dimanshub.’ Al-Kisa`i berkata, ‘Kamu salah!’ Orang-orang ikut menyalahkan Sibawaih. Al-Kisa`i berkata, ‘Orang-orang Arab membolehkan dirafa’ dan dinashab.’ Sibawaih membantah pendapatnya lalu berkatalah Yahya bin Khalid, “Kalian berdua telah berselisih pendapat padahal kalian berdua adalah pembesar bahasa di negeri masing-masing. Lantas, siapakah yang akan diangkat menjadi penengah untuk masalah yang rumit ini?’ Al-Kisa`i berkata, ‘Orang-orang Arab yang berada di depan pintumu ini. Aku telah mendatangkan mereka dari segala penjuru. Mereka paling fasih di antara manusia, dan orang-orang di negeri-negeri telah ridha dengan mereka, orang-orang Kufah dan Bashrah mengambil bahasa mereka. Lalu mereka didatangkan dan dimintai pendapat. Di tengah mereka ada Abu Faq’as, Abu Datstsar, dan Abu Tsarwan. Mereka pun bertanya tentang permasalahan al-Kisa`i dan Sibawaih. Tetapi kemudian, mereka mengunggulkan al-Kisa`i.

Yahya mendatangi Sibawaih dan berkata, “Kamu telah mendengarnya, wahai orang Bashrah?” Majlis selesai dan Yahya memberi Sibawaih 10.000 dirham. Usai itu, dia kembali ke Persia.

Abul Husain Ali bin Sulaiman al-Akhfasy berkata, “Dalam masalah ini, para sahabat Sibawaih tidak berselisih bahwa jawaban yang benar sebagaimana pendapat Sibawaih, yaitu:

فَإِذَا هُوَ هِيَ، أَيْ فَإِذَا هُوَ مِثْلُهَا

Karena kedudukannya sebagai marfu` bukan manshub. Adapun kalimat:

خَرَجْتُ فَإِذَا زَيْدٌ قَائِمٌ

Boleh dimanshub. Iyyâ untuk manshub sementara hiyâ untuk marfu’. Untuk penjelasan kedua, lafazh qâiman dimanshub sebagai hâl karena nakirah, sementara iyyâ diidhafahkan dengan kata setelahnya yang ma’rifat. Hâl tidak boleh kecuali harus nakirah, sehinggga batallah iyyaha[29]. Kedudukan iyyahâ tidak boleh kecuali harus sebagai khabar. Khabar boleh nakirah dan ma’rifat, tetapi hâl tidak boleh kecuali harus nakirah. Lantas, bagaimana bisa iyyahâ yang ma’rifat berada di tempat yang tidak boleh kecuali harus nakirah?? Yang benar, iyyahâ harus marfu`.[30]

Kisah lain. Muhammad bin Salam berkata, “Sibawaih duduk di majlisnya di Bashrah. Dia mengajar sebuah hadits gharib dari Qatadah dan berkata, ‘Mereka tidak mendapatkan hadits ini kecuali dari Sa’id bin Abu al-Arubah. Di antara putra Ja’far bin Sulaiman bertanya, Apa maksud dua tambahan ini wahai Abu Bisyr? Dia menjawab, Memang seperti itu, karena makna al-Arubah adalah al-Jumuah. Siapa yang mengejanya Arubah --tanpa al-- maka dia telah keliru. Ibnu Salam berkata, Lalu hal itu aku laporkan kepada Yunus lalu dia berkata, ‘Dia benar dan biarkan saja dia.’”[31]

Demikianlah kisah-kisah Sibawaih yang mengagumkan. Bagi Penulis, ada satu lagi kisah yang paling mengagumkan dari Sibawaih. Dikisahkan bahwa ada seseorang yang datang dari tempat yang jauh untuk mendebat Sibawaih. Dia mendapat kabar tentang kepakaran Sibawaih dalam nahwu dan ingin membuktikannya. Akhirnya, tibalah dia di rumah Sibawaih, hanya saja yang di rumah hanya budaknya sementara Sibawaih sedang keluar. Dia pun menanyakan kapan kepulangan majikannya. Si budak menjawab:

فَاءَ إِلَى الْفَيْءِ فَإِنْ فَاءَ الْفَيْءُ فَاءَ

Maksudnya, majikannya sedang pergi ke suatu tempat dan akan pulang bila matahari sudah mulai tenggelam. Ajib! Untuk mengatakan ini si budak hanya menggunakan satu kata fâ`a! Orang itu pun terheran-heran dan kagum seraya berkata:

وَاللّٰهِ، إِنْ كَانَتْ هَذِهِ الْجَارِيَةَ فَمَاذَا يَكُونُ سَيدَهَا؟؟؟

“Demi Allah! Budaknya saja seperti ini, lantas bagaimana dengan tuannya???”[32]

Al-Kitab yang Legendaris

Kitab terbaik pertama tentang ilmu nahwu adalah al-Kitab yang dikarang oleh Sibawaih.  Belum ada kitab kedua yang menandinginya.

Al-Jahizh berkata:

لَمْ يَكْتُبِ النَّاسُ فِي النَّحْوِ كِتَاباً مِثْلَهُ، وَجَمِيْعُ كُتُبِ النَّاسِ عَلَيْهِ عِيَالٌ

“Belum pernah ada manusia yang menulis kitab nahwu yang sepertinya. Semua kitab manusia berinduk kepadanya.”[33]

Imam adz-Dzahabi berkata, “Dia telah mengarang kitab besar yang tidak tertandingi.”[34]

Al-Jahizh berkata, “Aku pernah berkeinginan menemui Muhammad bin Abdul Malik az-Ziyad menteri Khalifah al-Mutashim, lalu aku memikirkan sebuah hadiah untuknya. Aku tidak mendapati hadiah yang paling berharga selain kitab Sibawaih. Saat aku bertemu dengannya, aku katakan padanya, ‘Aku tidak mendapati sesuatu yang bisa aku hadiahkan kepada Anda selain kitab ini. Aku membelinya dari peninggalan al-Farra`. Dia menjawab, ‘Demi Allah, tidak ada hadiah darimu untukku yang lebih aku sukai daripada ini.’[35]

Abu Ubaidah berkata, “Ketika Sibawaih wafat, dikatakan kepada Yunus bin Habib,’ Sibawaih telah mengarang sebuah kitab sebanyak seribu lembar dari ilmu al-Khalil.’ Yunus berkata, ‘Kapan Sibawaih mendengar semua ilmu al-Khalil ini? Coba datangkan kitabnya!’ Ketika mengamatinya dia melihat sesuai keyataan lalu berkata, ‘Lelaki ini benar-benar jujur dalam meriwayatkan apa yang datang dari al-Khalil sebagaimana dariku.’”[36]

Saatnya Berpisah

Al-Hafizh Ibnul Jauzi (w. 597 H) berkata, “Sibawaih meninggal pada tahun 194 H dan usianya 32 tahun. Dia dikebumikan di kota Sâwah.”[37]

Az-Zarkali[38] (w. 1396 H) menyebutkan bahwa Sibawaih lahir tahun 148 H dan meninggal tahun 180 H.[39] Penulis lebih cenderung kepada pendapat ini karena Yunus bin Habib masih hidup saat Sibawaih meninggal sementara Yunus meninggal pada tahun 182 H. Dari sini diperoleh umur Sibawaih ketika wafat adalah 180 - 148 = 32 tahun, sama dengan apa yang disebutkan al-Hafizh.

Ibnu Duraid berkata, “Sibawaih meninggal di Syîraz dan dikebumikan di sana. Allahu alam.”[40] Semoga Allah merahmatinya, mengampuninya, dan membalas jasa-jasanya.

b. Al-Kisa`i al-Kufi

Silsilah dan Kelahirannya

Nama lengkapnya Abul Hasan Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Bahman bin Fairuz al-Asadi al-Kufi. Dia dujuluki al-Kisa`i karena sering memakai kisa` (sejenis selendang). Dia ahli bahasa dan nahwu serta salah satu imam qiraah sab’ah.

Dia mengambil qiraah dari Ibnu Abi Laila dan Hamzah bin Habib bin Zayyat al-Kufi salah satu imam qiraah sab’ah, dan Isa bin Umar al-Muqri`. Dalam hadits, dia mengambil dari Ja’far ash-Shadiq, al-A’masy, dan Sulaiman bin Arqam.

Dalam ilmu nahwu, dia mengambil dari al-Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib, dan lain-lain. Al-Kisa`i telah menghabiskan 15 botol tinta besar dalam pengembaraannya untuk menulis ilmu baru selain apa yang dihafalnya.

Al-Kisa`i dan Keilmuannya

Al-Kisa`i secara khusus mendalami al-Qur`an dan qiraahnya dan berguru kepada beberapa syaikhul qurra sehingga menjadi pakar dan perawi qiraah sab’ah. Baru menginjak usia cukup tua, dia mendalami bahasa.

Al-Farra`(w. 207 H) berkata:

إِنَّمَا تَعَلَّمَ الكِسَائِيُّ النَّحوَ عَلَى كِبَرٍ، وَلَزِمَ مُعَاذاً الهَرَّاءَ مُدَّةً، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الخَلِيْلِ

“Al-Kisa`i belajar nahwu saat usia tua. Dia bermulazamah kepada Muadz al-Harra` dalam beberapa waktu lalu pergi berguru kepada al-Khalil.”[41]

Jika Sibawaih adalah pengibar bendera nahwu di Bashrah, maka al-Kisa`i adalah pengibar bendera nahwu di Kufah. Awalnya, majlis-majlis nahwu berkembang pesat dan terpusat di Bashrah hingga sekitar satu abad, baru kemudian merambah ke Kufah. Di antara penyebab vokumnya (tidak berkembangnya) majlis nahwu Kufah, karena orang-orang Kufah sibuk mendalami qiraah dan fiqih yang dipelopori oleh shahabat mulia Ibnu Mas’ud (w. 32 H) dan Imam Abu Hanifah (w. 150 H).

Bisa dikatakan bahwa nahwu Kufah diadopsi dari nahwu Bashrah. Al-Kisa`i sendiri pernah menghadiri majlis-masjlis ulama Bashrah seperti al-Khalil bin Ahmad, Yunus bin Habib, Umar bin Isa, dan lain-lain. Bahkan, al-Kisa`i pernah belajar al-Kitab langsung dari murid Sibawaih yang terpercaya al-Akhfasy al-Ausath.

Muhammad bin Salam berkata bahwa al-Akhfasy mengabarkan kepadanya bahwa ia membacakan kitab Sibawaih kepada al-Kisa`i dalam seminggu lalu memberi hadiah untuknya 70 dinar. Al-Kisa`i pernah berkata kepadaku, Kitab ini belum pernah aku dengar sebelumnya. Tolong tuliskan untukku. Aku pun melaksanakannya.” Al-Akhfasy mengajar anak al-Kisa`i.[42]

Pada akhirnya, al-Akhfasy al-Ausath hijrah ke Kufah dan menjadi pendukungnya. Dia bersama al-Kisa`i melakukan kajian ulang terhadap pendapat-pendapat Bashrah terutama Sibawaih. Al-Anbari mencantumkan dalam kitabnya al-Inshaf ada 121 masalah khilafiyah antara Bashrah dan Kufah.

Kepakarannya dalam nahwu tidak tersamar bagi orang-orang semasanya maupun sesudahnya. Imam asy-Syafi’i (w. 204 H) berkata:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَتَبَحَّرَ فِي النَّحوِ، فَهُوَ عِيَالٌ عَلَى الكِسَائِيِّ

“Barangsiapa yang ingin pakar nahwu, maka ia butuh ilmunya al-Kisa`i.[43]

Ibnu al-Anbari berkata:

اجْتَمَعَ فِيْهِ أَنَّهُ كَانَ أَعْلَمَ النَّاسِ بِالنَّحوِ، وَوَاحِدَهُم فِي الغَرِيْبِ، وَأَوحَدَ فِي عِلْمِ القُرْآنِ

“Orang-orang telah sepakat bahwa dia adalah orang yang paling berilmu dalam nahwu, satu-satunya yang paling berilmu dalam kosa kata sulit, dan nomor satu dalam ilmu al-Qur`an.”[44]

Kisah-kisah hidup al-Kisa`i yang dicantumkan para ahli sejarah banyak melibatkan Amirul Mukminin Harun ar-Rasyid al-Abbasi. Hal ini dikarenakan kedekatannya dengan Harun sebagai gurunya sekaligus pendidik dan pengajar dua putranya al-Amin dan al-Ma’mun.

Adz-Dzahabi berkata, “Al-Kisa`i memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Harun ar-Rasyid karena menjadi guru untuk anaknya yang bernama al-Amin. Sehingga dia memperoleh kehormatan dan harta yang melimpah.”[45]

Al-Kisa`i pernah didebat seorang ahli fiqih madzhab Hambali Muhammad bin al-Hasan al-Faqih:

مَا تَقُولُ فِيمَنْ سَهَا فِي سُجُودِ السَّهْوِ، هَلْ يَسْجُدُ مَرَّةً أُخْرَى؟ قاَلَ الْكِسَائِي: لاَ، قَالَ: لِمَاذَا؟ قَالَ: لِأَنَّ النُّحَاةَ تَقُولُ: التَّصْغِيْرُ لاَ يُصَغَّرُ

“Apa pendapatmu tentang orang yang lupa tidak sujud sahwi. Apakah dia harus sujud lagi?” Dia menjawab, “Tidak, karena para ahli nahwu berkata, ‘yang sudah diperkecil tidak bisa lagi dikecilkan lagi.’”[46]

Orang-orang Kufah berkata:

لَناَ ثَلَاثَةُ فُقَهَاءَ فِي نُسُقٍ، فَلَمْ يَرَ النَّاسُ مِثْلَهُمْ: أَبُو حَنِيفَةَ وَأَبُو يُوسُفَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ، وَلَنَا ثَلَاثَةُ نَحْوِيِّينَ كَذَلِكَ وَهُمْ: أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ حَمْزَةَ الْكِسَائِي وَأَبُو زَكَرِيَا يَحْيَى بِنْ زِيَّادٍ الْفَرَّاءِ وَأَبُو الْعَبَّاسِ أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى ثَعْلَبَ

“Kami memiliki tiga ahli fiqih yang manusia tidak melihat yang menyamai mereka: Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan Muhammad bin al-Hasan. Kami juga memiliki tiga ahli nahwu: Abul Hasan Ali bin Hamzah al-Kisa`i, Abu Zakaria Yahya bin Ziyat al-Farra`, dan Abul Abbas Ahmad bin Yahya Tsa’lab.”[47]

Al-Kisa`i berkata, “Aku, Abu Yusuf al-Qadhi[48], dan Harun ar-Rasyid pernah berkumpul. Abu Yusuf menghina nahwu sambil berkata, ‘Apa gunanya nahwu?’ Maka, aku pun menjawab untuk memperlihatkan kepadanya keutamaan nahwu, ‘Apa pendapatmu tentang seseorang yang berkata kepada orang lain:

أَنَا قَاتِلُ غُلاَمِكَ

Sementara yang lain berkata:

أَنَا قَاتِلٌ غُلَامَكَ

Mana di antara keduanya yang akan Anda beri hukuman?’

Dia menjawab, ‘Aku akan menghukum mereka semua.’ Harun berkata kepadanya, Anda tergesa-gesa. Dia itu pakar bahasa Arab.’ Abu Yusuf merasa malu dan berkata, ‘Lantas bagaimana?’ Al-Kisa`i berkata, ‘Yang berhak mendapat hukuman adalah yang berkata (أَنَا قَاتِلُ غُلاَمِكَ) karena perbuatannya telah terjadi. Adapun yang berkata (أَنَا قَاتِلٌ غُلَامَكَ) tidak dihukum karena perbuatannya akan datang dan belum terjadi. Hal ini sebagaimana firman Allah:

                         

“Dan janganlah kamu sekali-kali mengatakan, ‘Sesungguhnya aku akan melakukannya besok,’ kecuali jika Allah menghendaki.”[49] Seandainya tanwin tidak berfaidah untuk waktu besok, tentulah Allah telah membolehkannya. Setelah itu, Abu Yusuf memuji bahasa Arab dan nahwu.”[50]

Pada kesempatan lain, terjadi tanya jawab antara al-Kisa`i dengan al-Qadhi Abu Yusuf Ya’qub di majlisnya Harun ar-Rasyid. Al-Kisa`i berkata, “Apa pendapatmu tentang seorang lelaki yang berkata kepada istrinya, ‘Kamu dithalaq dithalaq dithalaq.’” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq atau dithalaq atau dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq kemudian dithalaq kemudian dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” “Kamu dithalaq dan dithalaq dan dithalaq.” Dia menjawab, “Satu thalaq.” Al-Kisa`i berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Ya’qub salah dua dan benar dua. Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq dithalaq dithalaq,’ jatuh satu thalaq karena yang lainnya hanya taukid, sebagaimana ucapan, ‘Kamu berdiri berdiri berdiri,’ atau, ‘Kamu mulia mulia mulia.’ Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq atau dithalaq atau dithalaq,’ mengandung keraguan sehingga jatuh satu. Adapun ucapan, ‘Kamu dithalaq kemudian dithalaq kemudian dithalaq,’ jatuh tiga thalaq karena masanya berurutan, begitu juga untuk ucapan, ‘Kamu dithalaq dan dithalaq dan dithalaq.’”[51]

Kitab-kitab yang berhasil dikarang al-Kisa`i banyak sekali. Di antaranya kitab Ma’ânil Qur`ân, Mukhtashar fin Nahwi, al-Qirâ’at, Kitabul Adad, an-Nawâdir al-Kabîr, an-Nawâdir al-Ausath, an-Nawâdir al-Ashghar, Ikhtilâful Adad, Kitabul Hijâ`, Maqthû’ul Qur’ân wa Maushûluh, Kitabul Mashâdir, Kitabul Hurûf, Asy’arul Mu’ayah wa Tharâiquhâ, dan al-Hâ’ât al-Mukna biha fil Qur`ân.

Sebelum berpisah dengan al-Kisa`i, Penulis ingin membawakan sebuah kisah yang begitu berkesan bagi Penulis pribadi. Al-Kisa`i berkata, “Setelah selesai mengajar al-Qur`an kepada manusia aku bermimpi bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata kepadaku, ‘Kamu al-Kisa`i?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ ‘Ali bin Hamzah?’ Aku menjawab, ‘Benar wahai Rasulullah.’ ‘Yang kemarin mengajar al-Qur`an kepada umatku?’ Aku menjawab, ‘Benar, wahai Rasulullah.’ ‘Bacalah untukku.’ Lisanku seakan enggan kecuali membaca surat ash-Shaffat. Lalu aku pun membaca:

                  

Beliau menjawab, Bagus!’ Tetapi beliau melarangku idgham pada ayat pertama.[52]

Akhirnya Berpisah

Al-Kisa`i meninggal di Rayy pada masa kekhalifahan Harun ar-Rasyid di desa Aranbûyah pada tahun 189 H dalam usia 70 tahun. Harun ar-Rasyid sangat terpukul atas kematian al-Kisa`i. Dia berkata:

اليَوْمَ دُفِنَتِ الْفِقْهُ وَالنَّحْوُ

“Pada hari ini telah dikubur fiqih dan nahwu.”[53]

/




[1] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 1088) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[2] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.

[3] Iqtidhâ` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/449-450) oleh Syaikhul Islam.

[4] Syu’abul Iman (no. 1569) oleh al-Baihaqi.

[5] Ibid (III/187).

[6] Iqtidhâ` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/527-528) oleh Syaikhul Islam.

[7] Al-Hatstsu ‘ala Hifzhil Ilmi (hal. 47) oleh Ibnul Jauzi.

[8] Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (no. 30535) dalam al-Mushannaf.

[9] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwî (no. 1087) oleh al-Khathib al-Baghdadi. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa yang mengucapkannya adalah Abdullah bin al-Mubarak.

[10] Al-Itqân fî Ulûmil Qur`ân (II/477) oleh as-Suyuthi dan al-Burhân fî Ulûmil Qur`ân (I/292) oleh az-Zarkasyi.

[11] Al-Burhân fî Ulûmil Qur`ân (I/292) oleh az-Zarkasyi.

[12] QS. Al-Mâ`idah [5]: 38.

[13] Syu’abul Iman (no. 1557) oleh al-Baihaqi.

[14] Iqtidhâ` ash-Shirât al-Mustaqîm (I/526) oleh Syaikhul Islam.

[15] Ibid (I/450-451).

[16] Ibid (I/451).

[17] As-Siyar (X/75) oleh adz-Dzahabi dan Manâqib asy-Syafi’i (II/42) oleh al-Baihaqi.

[18] Lihat Hayâtul Albanî wa Atsâruhu wa Tsanâ`ul Ulamâ` alaih (hal. 47-48) oleh Muhammad bin Ibrahim asy-Syaibani.

[19] Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 67-70) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[20] Ada tiga ulama terkenal yang dijuluki al-Akhfasy:

1. Abdul Hamid bin Abdul Majid al-Akhfasy al-Kabir (w. 177 H), guru Sibawaih dan Abu Ubaidah.

2. Sa’id bin Mas’adah al-Akhfasy al-Ausath (w. 215 H), guru al-Kisa`i. Al-Ausath ini adalah satu-satunya murid Sibawaih yang dibacakan al-Kitab miliknya.

3. Ali bin Sulaiman al-Akhfasy ash-Shaghir (w. 315 H).

[21] Dijuluki al-Akhfasy karena memiliki mata yang kecil dan lemah pandangannya. Al-Akhfasy artinya kelelawar. Dia satu-satunya murid Sibawaih yang dibacakan langsung al-Kitab sehingga namanya mencuat ke berbagai negeri dan ahli bahasa berdatangan kepadanya seperti al-Jurmi, al-Mazini, al-Farra`, Tsa’lab, dan al-Kisa`i. Al-Mubarrid berkata, “Di antara murid-murid Sibawaih yang paling berilmu adalah al-Akhfasy, an-Nasi, dan al-Quthrub. Di antara ketiga ini yang paling berilmu adalah al-Akhfasy sehingga dia disebut-sebut sebagai Sibawaih kedua.”

[22] Mu’jâmul Udabâ` (III/643-644) Yaqut al-Hamawi.

[23] Ibid (III/644).

[24] As-Siyar (VIII/352) oleh adz-Dzahabi.

[25] Wafayâtul A’yân (III/465) oleh Ibnu Khallikan.

[26] Mu’jamul Udabâ` (II/228) Yaqut al-Hamawi.

[27] Tarîkhul Ulamâ` an-Nahwiyn (hal. 8) oleh at-Tanukhi.

[28] Lihat as-Siyar (VIII/352) oleh adz-Dzahabi.

[29] Karena dhamir berupa makrifat.

[30] Mu’jamul Udabâ` (II/229) oleh Yaqut al-Hamawi.

[31] Ibid (II/228).

[32] Lihat Majalah al-Hisbah (no. 98, hal. 81).

[33] Wafayâtul A’yân (III/643) oleh Ibnu Khallikan.

[34] As-Siyar (VIII/351) oleh adz-Dzahabi.

[35] Wafayâtul A’yân (III/643) oleh Ibnu Khallikan.

[36] Mu’jâmul Udabâ` (II/228) Yaqut al-Hamawi.

[37] Wafayâtul A’yân (III/464) oleh Ibnu Khallikan.

[38] Di antara ahli ilmu ada yang membacanya az-Zirakli.

[39] Al-A’lân (V/81) oleh az-Zarkali.

[40] Lihat Târîkhul Baghdâd (XII/195) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[41] As-Siyar (IX/134) oleh adz-Dzahabi.

[42] Mu’jamul Udabâ` (II/229) oleh Yaqut al-Hamawi.

[43] Siyar ‘Alâmin Nubalâ` (IX/132) oleh adz-Dzahabi.

[44] Ibid (IX/132).

[45] Ibid (IX/134).

[46] Wafayâtul A’yân (III/296) oleh Ibnu Khallikan dan Tarîkhhul Baghdâd (XIV/151) oleh al-Khathib al-Baghdadi.

[47] Mu’jamul Udabâ` (I/212) oleh Yaqut al-Hamawi.

[48] Dia adalah Ya’qub Abu Yusuf al-Hanafi murid utama Abu Hanifah, ahli fiqih, dan disebut-sebut sebagai orang pertama yang menggunakan istilah al-Qadhi, semacam hakim agung yang memutuskan perkara pengadilan.

[49] QS. Al-Kahfi [18]: 23-24.

[50] Mu’jamul Udabâ` (II/66) oleh Yaqut al-Hamawi.

[51] Inbâhul Ruwât ala Anbâhin Nuhât (II/261) oleh al-Qifthi.

[52] Ibid (II/265).

[53] Ibid (II/269).


Related

Ada Apa dengan Bahasa Arab 7932047048243590727

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

Tentang Admin

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Radlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfiz Quran Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan LIPIA Surabaya (cabang Universitas Al Imam di Riyadh KSA). Kesibukan hariannya adalah imam Rowatib, mengajar bahasa Arab, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis) serta tidak merubah isi kecuali ada kesalahan secara ejaan dan kesalahan syar'i. .

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item