[]

Bab 1 Bahasa Arab dan Sejarahnya | ADA APA DENGAN BAHASA ARAB | PUSTAKA SYABAB

 Bab 1 Bahasa Arab dan Sejarahnya >>> KEMBALI KE DAFTAR ISI Kini saatnya bagi Pembaca untuk mengenal lebih dalam bahasa Arab yang m...

 Bab 1 Bahasa Arab dan Sejarahnya



>>> KEMBALI KE DAFTAR ISI

Kini saatnya bagi Pembaca untuk mengenal lebih dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa Islam dan kaum Muslimin. Orang-orang mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Maka, pertama Penulis akan mengenalkan kepada Pembaca tentang sejarah bahasa Arab, kemudian disusul pembahasan nahwu dan sharaf yang merupakan bagian penting dari bahasa Arab, kemudian disusul pembahasan mengenai keutamaan bahasa Arab. Semuanya dikemas dalam bab pertama ini.

1. Sejarah Bahasa Arab dan Bahasa Dunia

Tidak ragu lagi bahwa segala sesuatu selain Allah adalah makhluk. Sesuatu dikatakan makhluk karena dia diciptakan dan tidak ada yang mencipta kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.

               

“Dan tidaklah Kami menciptakan langit-langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan kebenaran (tidak sia-sia).”[1]

Firman Allah, “... dan apa yang ada di antara keduanya ...” menunjukkan bahwa semua bahasa adalah ciptaan Allah. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan sebagian ilmuan dan pakar bahasa dari Barat yang mengatakan bahwa asal-muasal bahasa ciptaan dari suatu komunitas manusia tertentu.

Penulis telah membaca beberapa tulisan tentang asal-usul bahasa. Ternyata mereka terombang-ambing menjadi beragam pendapat. Di antaranya Teori Tekanan Sosial, Teori Ekotik, Teori Interjeksi, Teori Nativistik, Teori Yo-He-Ho, Teori Isyarat, Teori Permainan Vokal, Teori Alami, Teori Konvensi, dan lain-lain. Tetapi kemudian, hati Penulis lebih tentram dengan merujuk kepada pemberitaan dari Allah dalam al-Qur`an yang mudah dipahami dengan penjelasan para ulama yang mu’tamad (terpercaya), meskipun tidak terperinci.

Kita kaum Muslimin menyakini bahwa bahasa Arab begitu juga bahasa lainnya diciptakan oleh Allah bukan tanpa kesengajaan sebagaimana persangkaan orang-orang yang terombang-ambing. Allah berfirman:

                             

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran Allah) adalah penciptaan langit-langit dan bumi, dan perbedaan bahasa-bahasa kalian dan warna-warna kulit kalian. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.”[2]

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menyebutkan bahasa-bahasa yang Allah ciptakan berikut keberadaan bahasa lainnya yang tidak diketahui manusia. Al-Hafizh berkata, “Ada yang berbahasa Arab, Tartar, Georgia, Romawi, Eropa, Barbar, Ethiopia, India, Sevilla, Armennia, Cina, Kurdi, dan bahasa-bahasa manusia lainnya yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.”[3]

Adam ‘alaihis salam yang merupakan manusia pertama yang Allah ciptakan, Allah jadikan bahasa Arab sebagai bahasanya. Allah mengajarinya nama-nama semuanya yang nantinya digunakannya sebagai bahasa lisannya. Allah berfirman:

     

“Allah mengajari Adam nama-nama semuanya.”[4]

Mujahid bin Jabr (w. 104 H) berkata:

عَلَّمَهُ اسْمَ كُلِّ دَابَّةٍ وَكُلِّ طَيْرٍ وَكُلِّ شَيْءٍ

“Dia mengajarinya nama semua dabbah[5], burung, dan segala sesuatu.”[6]

Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata:

الصَحِيْحُ أَنَّهُ عَلَّمَهُ أَسْمَاءَ الأَشْيَاءِ كُلِّهَا: ذَوَاتِهَا وَأَفْعَالِهَا

“Tafsir yang benar adalah Dia mengajarinya nama-nama segala sesuatu seluruhnya baik dzatnya maupun perbuatannya.” Al-Hafizh menguatkan pendapatnya dengan sebuah hadits bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«يَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُونَ: لَوِ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا، فَيَأْتُونَ آدَمَ فَيَقُولُونَ: أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللّٰهُ بِيَدِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلِّ شَىْءٍ، فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّكَ حَتَّى يُرِيحَنَا مِنْ مَكَانِنَا هَذَا. فَيَقُولُ: لَسْتُ هُنَاكُمْ. وَيَذْكُرُ ذَنْبَهُ فَيَسْتَحِى»

“Orang-orang Mukmin pada hari Kiamat berkata, ‘Mari kita meminta syafaat kepada Rabb kita,’ lalu mereka mendatangi Adam lalu berkata, ‘Engkau adalah ayah manusia. Allah menciptakanmu dengan Tangan-Nya dan menjadikan para malaikat bersujud kepadamu serta mengajarimu nama-nama segala sesuatu. Maka, berilah kami syafaat di sisi Rabb-mu agar kami terbebas dari tempat ini.’ Adam menjawab, ‘Aku bukan orangnya,’ lalu dia menyebutkan dosanya dan merasa malu.”[7] Lanjutnya, “Ini menunjukkan bahwa Dia mengajarinya seluruh nama-nama makhluk.”[8]

Asy-Sya’rawi (w. 1418 H) berkata, “Jika kita runtut silsilah bahasa, maka kita akan menemukan muaranya pada nenek moyang kita Adam. Allah-lah yang telah mengajari bahasa kepadanya, yaitu ketika Dia mengajarinya semua nama-nama. Kemudian nama-nama ini digunakan oleh Adam dan keturunannya sepeninggalnya sehingga mereka saling mengerti.”[9]

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana bahasa-bahasa bisa ada?” Maka jawabanya: saat Allah membinasakan umat Nabi Nuh ‘alaihis salam, Allah tidak menyisakan manusia dipermukaan bumi kecuali Nuh dan orang-orang yang di kapalnya saja serta binatang-binatang sepasangan. Dari keturunan inilah manusia sekarang bernasab. Imam Qatadah (w. 118 H) berkata:

النَّاسُ كُلُّهُمْ ذُرِّيَّةُ مَنْ أَنْجَى اللّٰهُ فِي تِلْكَ السَّفِيْنَةِ

“Seluruh manusia adalah keturunan orang-orang yang Allah selamatkan di kapal tersebut.”[10]

Seiring berjalannya waktu, keturunan mereka semakin banyak lalu berpencar-pencar lalu terjadilah perbedaan logat dalam pengucapan. Kemudian, Allah mengilhamkan mereka bahasa sebagaimana Allah memberi ilham kepada lebah untuk membuat sarangnya. Allah berfirman:

                                  

“Dan Rabb-mu mengilhamkan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, pohon-pohon, dan rumah-rumah yang dibuat manusia.[11]

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Penjelasan mengenai wahyu telah berlalu bahwa ia terkadang bermakna ilham, yaitu apa yang Allah ciptakan/bisikkan di dalam hati tanpa ada sebab yang tampak.”[12]

Yang jelas, semuanya terjadi atas kehendak Allah dan Dia berbuat sesuatu dengan apa yang Dia inginkan. Itu mudah bagi Allah dan Dia mahakuasa atas segala sesuatu.

Apakah bahasa Adam adalah bahasa Arab? Tidak ada nash yang secara tegas menunjukkan demikian. Yang ada hanyalah pendapat sebagian kalangan, dan pendapat ini masih perlu dikaji ulang. Yang jelas, bahasa diciptakan Allah, dan Nabi Adam sudah berbahasa dengan baik ketika diturunkan ke bumi dan Adam diajari Allah nama-nama di bumi.

Sebagian ulama berpandangan bahasa langit adalah bahasa Arab. Muqatil bin Hayyan berkata:

كَلامُ أَهْلِ السَّماءِ العَرَبِيَّةُ -ثُمَّ قَرَأَ-:                                            

Bahasa penduduk langit adalah bahasa Arab.” Kemudian dia membaca ayat, Hâ Mîm. Demi al-Kitab yang jelas. Sesungguhnya Kami telah menjadikannya berupa al-Qur`an dengan berbahasa Arab agar kamu berakal. Sesungguhnya dia berada di Lauhul Mahfuzh di sisi Kami yang benar-benar tinggi dan penuh hikmah.”[13] [14]

2. Asal Penamaan Nahwu dan Sharaf

a. Asal Penamaan Nahwu

Nahwu secara etimologi minimal memiliki dua makna. Makna yang pertama adalah jihah (arah). Makna ini ditunjukkan dalam sebuah atsar bahwa al-Bara` bin Azib radhiyallahu ‘anhu berkata:

صَلَّيْنَا مَعَ النَّبِىِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ أَوْ سَبْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، ثُمَّ صَرَّفَهُ نَحْوَ الْقِبْلَةِ

“Kami dahulu shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap ke arah Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan, kemudian beliau memalingkannya ke arah qiblat.”[15]

Dan juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata:

قَامَ النَّبِىُّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيبًا فَأَشَارَ نَحْوَ مَسْكَنِ عَائِشَةَ فَقَالَ: «هُنَا الْفِتْنَةُ -ثَلاَثًا- مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ»

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri berkhutbah lalu menunjuk ke arah rumah Aisyah lalu bersabda, ‘Di sanalah fitnah –sebanyak tiga kali– dari tempat muculnya tanduk setan.’[16]

Dari makna ini, batallah anggapan agama Syiah yang menuduh bahwa fitnah tersebut muncul dari rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha, karena lafazh nahwu di sini digunakan untuk arah sehingga maknanya fitnah tersebut muncul di tempat yang searah dengan rumah Aisyah, bukan di rumah Aisyah radhiyallahu ‘anha, yakni Iraq.

Makna kedua adalah mitsal (seperti/contoh). Makna ini ditunjukan oleh sebuah hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوْئِى هَذَا  ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ»

“Barangsiapa berwudhu seperti atau mencontoh wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat dengan khusyu’, maka dosanya yang telah lalu diampuni.”[17]

Dengan makna ini, kata nahwu sering dipakai oleh sebagian pakar bahasa Arab saat membawakan contoh sebuah pembahasan pada kitab-kitab mereka.

Adapun secara terminologi, al-Jurjani[18] (w. 816 H) mendefinisikan:

النَّحْوُ هُوَ عِلْمٌ بِقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ التَّرَاكِيبِ العَرَبِيَّةِ مِنَ الْإِعْرَابِ وَالْبِنَاءِ وَغَيْرِهِمَا

“Nahwu adalah ilmu tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan susunan kalimat bahasa Arab baik i’rabnya, bina`nya, atau selainnya.”[19]

Apa hubungan lafazh ini dengan bahasa Arab sehingga salah satu disiplin ilmu ini disebut ilmu nahwu? Berikut jawabannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) berkata, “Ilmu nahwu bukan termasuk ilmu nubuwwah (kenabian) tetapi ilmu yang didapat dengan hasil istinbat (kesimpulan). Ia merupakan wasilah (sarana) untuk memahami bahasa al-Qur`an. Pada zaman tiga Khulafa’ ar-Rasyidin belum terjadi lahn[20] sehingga belum membutuhkan ilmu tersebut. Diriwayatkan bahwa ketika Ali radhiyallahu ‘anhu menetap di Kufah dan di sanalah terjadi pencampuran bahasa, beliau berkata kepada Abu al-Aswad ad-Du`ali:

الكَلَامُ: اسْمٌ وَفِعْلٌ وَحَرْفٌ، انْحُ هَذَا النَّحْوَ!

‘Kalam (kata) terbagi menjadi: isim, fi’il, dan huruf. Ikutilah arah (contoh/pedoman) ini!’

Maka, dia pun perlu segera melaksanakannya. Begitu pula orang-orang setelah Ali mulai merintis pemakaian jenis huruf, tanda titik, syakal (tanda baca), tanda mad (intonasi panjang), tasydid, dan semisalnya karena kebutuhan. Setelah itu ilmu nahwu berkembang di negeri Kufah dan Bashrah, sementara al-Khalil merintis ilmu arudh[21].[22]

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abu al-Aswad ad-Du`ali (w. 69 H) diperintahkan untuk mengembangkan kaidah-kaidah bahasa Arab yang sebelumnya telah dibuat Ali bin Abi Thalib (w. 40 H). Setelah selesai, diperlihatkannya rumusan-rumusan kaidah bahasa Arab itu kepada Ali, lalu Ali memuji rumusannnya:

مَا أَحْسَنَ هَذَا النَّحْوَ الَّذِي نَحَوْتَ!

“Alangkah bagusnya nahwu yang kamu rumuskan ini!”

Dari sinilah mengapa disiplin ilmu bahasa Arab ini disebut nahwu.[23]

Perumusan kaidah-kaidah nahwu semakin mendesak untuk dilaksanakan, yaitu saat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mendapat laporan dari Abul Aswad ad-Du`ali tentang beberapa orang yang lahn dalam berbahasa Arab dan membaca al-Qur`an. Di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Sha’sha’ah bin Shuhan berkata, “Orang Arab datang kepada Ali bin Abi Thalib lalu berkata, ‘Assalamualaika wahai Amirul Mukminin, bagaimana Anda membaca ayat ini (لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطُونَ)[24]? Demi Allah, padahal setiap orang melangkah.’ Ali radhiyallahu ‘anhu tersenyum dan berkata, ‘Hai orang Arab bacalah (لَا يَأْكُلُهُ إِلَّا الْخَاطِئُونَ)[25].’ Dia berkata, ‘Demi Allah, Anda benar wahai Amirul Mukminin. Allah pasti menyelamatkan hamba-Nya.’ Kemudian Ali pergi menemui Abul Aswad ad-Daili[26] lalu berkata, ‘Sesungguhnya orang-orang ajam banyak yang masuk Islam, maka rumuskanlah sesuatu untuk manusia yang digunakan untuk meluruskan bahasa mereka.’ Dari sini dirumuskan rafa`, nashab, dan khafadz/jer.”[27]

b. Diriwayatkan Abul Aswad ad-Du’ali mendengar seorang qari membaca ayat:

«أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ»

Dengan mengkasrahkan huruf lam yang seharusnya didhammah. Sehingga artinya berubah, “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya.” Hal ini menyebabkan arti dari kalimat tersebut menjadi rusak. Seharusnya kalimat tersebut dibaca:

            

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”[28] [29]

Dalam riwayat lain terjadi pada masa kekhalifahan Umar radhiyallahu ‘anhu. Ibnu Abi Malikah berkata, “Orang Arab datang ke Madinah pada masa Umar lalu berkata, ‘Siapakah kiranya yang mau membacakan kepadaku apa yang telah diturunkan kepada Muhammad?’ Lalu seorang lelaki membacakan kepadanya surat Bara’ah:

«أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ»

Orang Arab itu berkata, ‘Sungguh Allah berlepas diri dari Rasul-Nya. Bila Allah berlepas dari dari Rasul-Nya maka aku pun berlepas diri darinya.’ Ucapan ini sampai kepada Umar lalu Umar memanggilnya dan bertanya, ‘Hai orang Arab, apakah kamu berlepas diri dari Rasul-Nya?’ Dia berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, aku mendatangi orang-orang musyrik tanpa sepengetahuanku lalu aku meminta siapa yang mau membacakan untukku lalu seseorang membacakan untukku surat ini (أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ), lalu aku berkata, ‘Sungguh Allah berlepas diri dari Rasul-Nya. Bila Allah berlepas diri dari Rasul-Nya maka aku pun berlepas diri darinya.’ Umar berkata, ‘Bukan seperti itu wahai orang Arab.’ Dia bertanya, ‘Lantas bagaimana yang sebenarnya wahai Amirul Mukminin?’ Umar menjawab, ‘(أَنَّ اللّٰهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ).’ Orang Arab itu berkata, ‘Demi Allah, aku akan berlepas diri kepada siapa yang Allah dan Rasul-Nya berlepas diri.’ Kemudian Umar melarang membaca al-Qur`an kecuali siapa yang berilmu bahasa Arab.”[30]

c. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Abul Aswad ad-Du`ali (w. 69 H) menemui putri-putrinya di rumah lalu seorang dari mereka berkata:

يَا أَبَتِ، مَا أَحْسَنُ السَّمَاءِ. فَقَالَ: يَا بُنَيَّة نُجُومُهَا. فَقَالَتْ لَهُ: إِنِّي لَمْ أُرِدْ أَيْ شَيْءٍ مِنْهَا أَحْسَنَ، إِنَّمَا تَعَجَّبْتُ مِنْ حُسْنِهَا. فَقَالَ: إِذَنْ فَقُولِي مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ

“Wahai ayahanda, ‘Apa yang paling indah di langit.’” Dia menjawab, “Wahai ananda, bintang-bintangnya.” Putrinya berkata, “Bukan maksudku mana yang paling indah, tetapi aku takjub akan keindahannya.” Dia berkata, “Kalau begitu ucapkan (مَا أَحْسَنَ السَّمَاءَ) betapa indah langit itu!”[31]

Sebagaimana kisah Musa ‘alaihis salam berputar-putar dengan tongkatnya, Yusuf ‘alaihis salam dengan bajunya, dan Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam dengan al-Qur`annya, maka nahwu berputar-putar dengan i’rabnya: marfu’, manshub, majrur, dan majzum. Ilustrasi mudahnya seperti ini:

Muhammad datang

جاءَ مُحَمَّدٌ

Aku melihat Muhammad

رَأَيْتُ مُحَمَّدًا

Aku melewati Muhammad

مَرَرْتُ بِمُحَمَّدٍ

Dari contoh di atas, ternyata lafazh «مُحَمَّد» terdapat tiga variasi bacaan: marfu’ (dhammah), manshub (fathah), dan majrur (kasrah). Inilah yang disebut i’rab dan dipelajari dalam ilmu nahwu (gramatika).

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, dia berkata:

كَانُوْا الحُرُوْفَ الثَّلَاثَةَ. قُلْنَا: وَمَا الحُرُوْفُ الثَّلَاثَةُ؟ قَالَ: الجَرُّ وَالرَّفْعُ وَالنَّصْبُ

(I’rab) itu ada tiga huruf.’ Kami bertanya, “Apa tiga huruf itu?” Dia menjawab, “Jarr, rafa’, dan nashab.[32]

b. Asal Penamaan Sharaf

Sharaf (baca: shorof) atau sharf secara etimologi artinya berpaling atau berpindah. Selain sharaf, dikenal pula istilah tashrif. Ibnu Manzhur berkata:

الصَّرْفُ رَدُّ الشَيْءِ عَنْ وَجْهِهِ

“Sharaf adalah membalik sesuatu dari wajahnya/asalnya.”[33]

Allah Ta’ala berfirman[34]:

                                                  

Maksudnya, mereka balik berpaling dari tempat pembicaraan. Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata, “Ayat ini merupakan pemberitaan dari Allah tentang orang-orang munafik, bahwa apabila satu surat diturunkan kepada Rasulullah mereka saling menoleh dengan mengatakan, ‘Apakah ada orang (dari kaum Muslimin) yang melihatmu?’ Kemudian mereka berpaling dari kebenaran. Di dunia mereka tidak teguh dalam memegang kebenaran, tidak menerimanya, dan tidak memahaminya.”[35] Sebagai balasannya, Allah memalingkan hati mereka kepada kesesatan dan memberikan keluasan padanya, dari keadaan mengucapkan keimanan sebelumnya.

Sedang secara terminologi, al-Jurjani (w. 816 H) mendefinisikan:

الصَّرْفُ عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ أَحْوَالُ الْكَلِمِ مِنْ حَيْثُ الْإِعْلاَلِ

“Sharaf adalah ilmu untuk mengetahui keadaan kalam dari sisi i’lal.”[36]

Mengenai awal penamaan ini, Penulis belum menemukan penjelasan yang bisa dirujuk. Yang jelas, disiplin ilmu ini disebut ilmu sharaf karena mempelajari kosa kata-kosa kata yang dipalingkan/dikembangkan atau dibuat dari satu akar kata.

Ilustrasinya seperti ini. Ada kata تَحْمِيْد، مُحَمَّد، حَامِد، حَمْد، أَحْمَدُ، مَحْمُوْدٌ. Ternyata semua kata ini dipalingkan atau dibuat dari satu akar kata حَمِدَ. Dari sinilah mengapa disiplin ilmu ini disebut sharaf, karena mempelajari bentuk-bentuk kejadian suatu kata (morfologi).

Demikianlah sejarah penamaan nahwu dan sharaf. Dua disiplin ilmu ini amat penting dalam bahasa Arab yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh ditinggal oleh penuntut ilmu bahasa. Ada yang berpendapat, jumlah keseluruhan fan/disiplin bahasa Arab ada 12, yaitu al-lughât (kosa-kata), an-nahwu (gramatika), ash-sharf (morfologi), al-isytiqâq (pecahan kata), al-ma’ani (semantik), al-bayan, al-arudh (prosadi), al-qâfiyah, al-qardhu ays-syi’ri, al-khat (kaligrafi), al-insya’ (karang-mengarang), dan al-muhadharah (ceramah).[37] Allahu a’lam.

3. Keutamaan Bahasa Arab

Keutamaan bahasa Arab amatlah banyak. Di sini Penulis mencukupkan diri hanya menyebutkan dua poin saja. Poin pertama keutamaan secara internal dan poin kedua keutamaan secara eksternal.

a. Bahasa Arab Mengungguli Seluruh Bahasa

Allah berfirman:

                       

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk diunggulkan-Nya atas semua agama.”[38]

Al-Jahidz berkata, “Dan keindahan bahasa hanya ada pada bahasa Arab, karena itulah ia merupakan bahasa yang menggungguli semua bahasa.”[39]

Keunggulan ini ada beberapa macam. Di antaranya unggul dalam kemunculan, unggul dalam kosa-kata, unggul dalam pengucapan, dan unggul dalam makna.

1) Unggul dalam Kemunculan

Memang tidak ada nash yang tegas menunjukkan bahasa Arab bahasa pertama dunia, tetapi bisa kita katakan bahasa Arab jauh lebih lama usianya daripada bahasa-bahasa yang ada hari ini.

Karena ia lebih lama kemunculannya dari lainnya, bahasa Arab banyak diserap ke dalam bahasa lainnya. Misalnya dalam bahasa Inggris kita menjumpai sugar, cotton, dan cat (baca: ket) yang diserap dari sukkar, quthn, dan qith, yang secara berturut-turut artinya gula, kapas, dan kucing. Dalam bahasa Indonesia kita menjumpai adab, adat, ahli, akhir, batal, berkah, bahas, dahsyat, dalil, dunia, faidah, fitnah, fitrah, gaib, hadir, istirahat, jadwal, manfaat, nikmat, rahim, sabun, umur, zaman, semua nama hari (Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu), bahkan agama-agama lain mengambil istilah dari Islam seperti iman, shalih, ibadah, amin, shalat, munafik, kiamat, dan lain-lain. Kosa-kata bahasa Indonesia dan Melayu yang berasal dari bahasa Arab sangat banyak sekali. Hal ini bukanlah hal aneh, karena sesuatu yang kurang akan meminta kepada sesuatu yang lebih.

2) Unggul dalam Kosa-Kata

Adapun unggul dalam kosa-kata, karena tidak ada satu bahasa manapun yang lebih kaya kosa-katanya melebihi bahasa Arab.

          Imam asy-Syifi’i (w. 204 H) berkata:

وَلِسَانُ الْعَرَبِ أَوْسَعُ الْأَلْسِنَةِ مَذْهَباً وَأَكْثَرُهَا أَلْفَاظاً

“Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas cakupan bahasanya dan paling kaya kosa-katanya.”[40]

Di antara bukti akan keluasan bahasa Arab adalah ia memiliki kosa-kata lebih 12.305.412 bentuk kalimat dan 6.699.400 kata. Adapun bahasa Inggris hanya memiliki sekitar 100.000 kata dan bahasa Prancis sekitar 25.000.[41]

Dalam literatur lain disebutkan, Tahiyya Abdul Aziz seorang dosen Linguistik Inggris telah melakukan riset bertahun-tahun tentang bahasa-bahasa dunia. Hasilnya, dia mengatakan, “Bahasa Arab adalah bahasa yang paling luas kosa-katanya. Bahasa Latin hanya memiliki 700 akar kata, Saxonia memiliki 1.000 akar kata, sementara bahasa Arab memiliki 16.000 akar kata.

Di samping itu, bahasa Arab kaya akan padanan kata (satu akar kata). Misalkan sifat good dalam bahasa Inggris dan jayyid dalam bahasa Arab yang berarti bagus. Jayyid memiliki banyak padanan kata, misalnya jaud, jaudah, jawad, dan jiyad. Akan tetapi, kita tidak mendapati kosa-kata lain yang berasal dari kata good.

Yang lebih mengagumkan, bahasa Arab memiliki sinonim yang melimpah ruah bahkan sampai ribuan untuk satu kata saja. Misalnya asad yang artinya singa memiliki sinonim laits, hafsh, ghadanfar, dargham, dzaigham, sabu, ri’bal, wardu, qashwar, dan lain-lain yang banyak sekali.”

Abul Hasan Ibnu Faris ar-Razi berkata, “Di antara hal yang tidak mungkin dinukil seluruhnya adalah sinonim dari kata pedang, singa, tombak, dan kata yang sepadan. Telah diketahui bahwa bahasa ajam (non-Arab) tidak mengenal kata singa kecuali hanya satu saja. Adapun kita memiliki 150 nama untuk singa. Bahkan telah menyampaikan kepadaku Ahmad bin Muhammad bin Bundar bahwa dia mendengar Abu Abdillah bin Khalawaih berkata, ‘Aku telah mengumpulkan 500 nama untuk singa dan 200 nama untuk ular.”[42]

Al-Fairuz Abadi --pengarang kamus terkenal al-Qâmûs al-Muhîth-- menulis sebuah buku yang menyebutkan nama-nama madu. Beliau juga menyebutkan dalam kitab tersebut lebih dari 80 nama untuk madu, dan menemukan minimal 1.000 nama untuk pedang.[43]

Karena saking banyaknya kosa-kata bahasa Arab, tidak semua orang Arab mengetahuinya. Para ulama pun banyak menyusun kitab tentang kosa-kata asing ini, misalnya al-Mufrâdât fi Gharîbil Qur`ân karya al-Allamah ar-Raghib al-Asfahani, Gharîbul Qur`ân karya al-Farahi, Gharîbul Qur`ân karya Abu Bakar as-Sijistani (w. 330 H), dan Gharâ`ibul Ightirâb karya al-Alusi. Kebanyakan bahasa gharib ini diketahui oleh orang-orang pedalaman dan Badui, untuk itu mengapa Imam asy-Syafi’i bermukim ke kabilah pedalaman untuk mempelajari bahasanya hingga beliau menjadi pakar bahasa dan syair. Beliau berkata:

وَلاَ نَعْلَمُهُ يُحِيْطُ بِجَمِيْعِ عِلْمِهِ إِنْسَانٌ غَيْرُ نَبِيٍّ

“Dan kami tidak tahu ada manusia yang mengetahui semua kosa-kata bahasa Arab selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[44]

          Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

كُنْتُ لَا أَدْرِي مَا   حَتَّى أتَانِيَ أَعْرَابِيَّانِ يَخْتَصِمَانِ فِي بِئْرٍ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا: أَنَا فَطَرْتُهَا، أي ابْتَدَأْتُهَا

“Dulu aku tidak tahu apa makna (فَاطِرُ السَّمَوَاتِ) hingga aku didatangi dua orang Baduwi yang saling bersengketa tentang sebuah sumur. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Akulah pembuatnya.’ Yakni, yang membuatnya pertama kali.”[45]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَسْتُ مِنْ دَدٍ وَلاَ دَدٌ مِنِّى»

“Aku bukan dari dad dan dad itu bukan dariku.” Ali bin al-Madini berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ubaidah seorang pakar bahasa tentang hadits ini, lalu dia menjawab:

لَسْتُ مِنَ البَاطِلِ وَلاَ البَاطِلُ مِنِّى

‘Aku bukan dari kebatilan dan kebatilan bukan dariku.’’[46]

Ahmad Arif al-Hijazi seorang doktor bidang bahasa Arab dari Mesir berkata, “Dalam sebuah pembahasan pelik di antara para ahli mengenai bahasa yang besar kemungkinan masih digunakan oleh manusia pada beberapa abad yang akan datang, mereka sepakat bahwa bahasa Arab yang kemungkinan bisa bertahan. Sehingga peradaban bisa menitipkan ilmu dan sejarahnya lewat bahasa Arab untuk disampaikan pada manusia di masa mendatang.”

Sejarah membuktikan, dahulu Mesir, Sudan, Iraq, Iran, Palestina, Yordania, Libanon, Suriah, Libia, Maroko, Tunisia sampai Aljazair bukanlah negeri Arab dan memiliki bahasa-bahasa sendiri. Namun setelah Islam masuk, mereka mempelajari bahasa Arab lalu menggunakannya sebagai bahasa resmi bahkan kesultanan Islam di bumi Nusantara menggunakan bahasa resmi Arab. Adapun bahasa Inggris Modern jelas telah berubah total dari bahasa Inggris kuno. Maka besar kemungkinan ia akan bernasib seperti bahasa Mesir kuno yang telah terkubur bersama para Fir’aun di padang pasir.

Hamzah Abbas Lawadi berkata, “Kaum Muslimin yang memahami bahasa Arab, saat ini mampu untuk memahami perkataan orang-orang Arab 15 abad yang lalu. Bagaimana hal tersebut terjadi? Seperti yang kita tahu, hal itu bukanlah sesuatu yang mengherankan. Bukankah bagi kita yang sekarang ini memahami bahasa Arab mampu untuk memahami sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disabdakan kurang lebih 15 abad yang lalu? Bukankah kita sekarang ini mampu memahami perkataan para shahabat yang diucapkan pada waktu yang sama? Bahkan kita pun mampu untuk memahami syair-syair Arab sebelum Islam. Keistimewaan ini mutlak hanya ada pada bahasa Arab dan tidak ada pada bahasa lainnya.

Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia. Bahasa ini telah lama ada dan akan terus ada sepanjang masa karena Allah subhanahu wa ta’ala yang secara langsung menjaga dan melindunginya. Pada saat dunia menyaksikan punahnya berbagai bahasa yang ada dalam sejarah, di saat yang sama dunia akan menyaksikan terjaganya bahasa Arab sepanjang zaman.”[47]

3) Unggul dalam Pengucapan

Adapun unggul dalam pengucapan, karena bahasa Arab memiliki makharijul huruf (tempat-tempat keluarnya huruf hijaiyyah). Dengan makharijul huruf ini pengucapan lebih indah, merdu, dan jelas karena melibatkan semua alat pengucap: rongga mulut, kerongkongan, lidah, bibir, dan rongga hidung.

          Hujjatul Qurra` Ibnul Jazari berkata:

مَخَارِجُ الحُرُوْفِ سَبْعَةَ عَشَرْ ... عَلَى الَّذِي يَخْتَارُهُ مَنِ اخْتَبَرْ

“Makharijul huruf ada tujuh belas … bagi siapa yang memilih pendapat yang terpilih”[48]

Tidak sampai di sini saja. Setiap huruf hijaiyyah juga memiliki 5 sampai 7 sifat unik. Di sana ada sifat hams, syiddah, isti’lâ`, ithbâq, dan idzlâq yang masing-masing memiliki kebalikan, maupun sifat yang tidak memiliki kebalikan seperti sifat shafîr, qalqalah, lîn, inhirâf, takrîr, tafasysyî, dan istithâlah. Contoh mudahnya adalah huruf ro`(ر). Dia memiliki dua variasi bacaan, tipis (ro` muraqqaqah) dan tebal (ro` mufakhkhamah).

Contoh lainnya makhraj dhad (ض). Dikatakan bahwa dhad adalah huruf yang paling susah. Susah di sini bukan berarti sulit dipelajari, tetapi dia memiliki 3 tingkatan kesukaran. Pengucapan yang paling mudah adalah pinggir-tepi lidah bagian kanan ditempelkan dengan gigi geraham atas. Yang agak susah dari itu bila yang ditempelkan adalah pinggir-tepi lidah bagian kiri. Dan yang paling sukar bila yang ditempelkan kedua-duanya. Sehingga, jadilah dhad sebagai huruf yang paling sukar diucapkan dan orang ajam tidak mampu mengucapkannya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki shâhibu lughati ahlidh dhad.[49]

 Sayang sekali bukan di sini tempatnya untuk memperluas pembahasan. Bagi yang ingin lebih lengkap bisa merujuk ke syarah Muqaddimah al-Jazariyyah yang ditulis oleh syaikh Shafwat Mahmud Salim.[50]

Subhanallah! Oleh karena itu, al-Qur`an menjadi bacaan yang paling merdu sepanjang sejarah, merdu karena substansi dan merdu karena bahasanya. Ia membuat menangis para qari dan pendengarnya, hingga orang-orang berbondong-bondong masuk Islam hanya karena mendengarnya meskipun tidak tahu artinya.

Allah berfirman:

                                                 

“Allah telah menurunkan sebaik-baik ucapan yaitu sebuah kitab yang serupa dan berulang-ulang. Karenanya gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian kulit-kulit mereka dan hati-hati mereka menjadi tenang kembali ketika mengingat Allah.”[51]

Meskipun pengucapan bahasa Arab dengan makhraj dan sifat, hal ini tidaklah memberatkan dalam pengucapan, bahkan mudah dan menyenangkan.

Ibnu Faris berkata, “Di antara kekhususan bahasa Arab --setelah apa yang disebutkan sebelumnya-- diubahnya huruf menjadi huruf lain karena huruf yang kedua lebih ringan dari yang pertama, misalkan ucapan (مِيْعَادٌ) tidak diucapkan (مِوْعَادٌ) padahal keduanya berasal dari (وَعْدٌ). Hal ini karena yang kedua lebih ringan.”[52]

Abul Fath Utsman bin Jinni berkata, ”Kata pokok dalam bahasa Arab ada tiga: tsulatsi (kata yang terdiri dari tiga huruf), ruba’i (kata yang terdiri dari empat huruf), dan khumasi (kata yang terdiri dari lima huruf). Adapun yang paling banyak digunakan dan paling sederhana susunan katanya adalah tsulatsi karena ia terdiri dari satu huruf pembuka, satu huruf tengah, dan satu huruf penutup.”[53]

Hamzah Abbas Lawadi berkata --secara ringkas--, “Banyaknya penggunaan kata yang terdiri dari tiga huruf dalam bahasa Arab menunjukkan ringan dan sederhananya bahasa Arab. Jika kita melakukan uji perbandingan antara bahasa Arab dengan bahasa lainnya, kita akan melihat bukti nyata dari apa yang telah disebutkan di atas. Misalkan, kata (جَدٌّ) dalam bahasa Arab sama artinya dengan kakek dalam bahasa Indonesia, grand father dalam bahasa Inggris, le grand-pere dalam bahasa Prancis, dan der gross vater dalam bahasa Jerman.

Kita lihat bahasa Arab yang terdiri dari 3 atau 4 huruf sebanding dengan kata dalam bahasa lain yang berjumlah hingga 10 huruf atau lebih. Dalam bahasa Arab, kata terpanjang hanya 7 huruf seperti (اِسْتِخْرَاجٌ). Bahasa lain panjangnya bisa mencapai 15 huruf atau lebih, seperti internationalism dalam bahasa Inggris atau enstchuldigung dalam bahasa Jerman.

Kekhususan dan keistimewaan bahasa Arab di sisi ini memiliki banyak faidah penting, di antaranya hemat waktu, tenaga, dan harta. Ditambah lagi kata yang sedikit hurufnya tentu lebih ringan dalam pengucapan, lebih cepat, dan lebih ringkas dalam Penulisan.”[54]

4) Unggul dalam Makna

Adapun unggul dalam makna, karena bahasa Arab memiliki i’rab yang tidak dimiliki oleh bahasa manapun.

Mudahnya, i’rab adalah perubahan harakat atau huruf pada suatu kata. Penjelasan dan contohnya akan datang insya Allah pada bab Mengoreksi Bacaan al-Qur`an dengan Nahwu.

Di antara kategori keunggulan makna adalah bahasa Arab memiliki makna yang sangat mendalam dan terkadang bertingkat-tingkat untuk sinonim kata yang sama. Misalnya kata (الذِّبْحُ), (النَّحْرُ), dan (العَقْرُ) yang artinya sama-sama menyembelih tetapi sedikit berbeda maknanya.

Kata (الذِّبْحُ) digunakan untuk menyembelih pada leher. Ibnu Manzhur berkata, “Yaitu memotong tenggorokan sampai ke dalam uratnya, yaitu tempat penyembelihan di tenggorokan.”[55]

Allah berfirman:

     ﯿ             

“Ibrahim berkata, ‘Wahai ananda, sesungguhnya aku melihatmu dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.’”[56] Yakni, aku menyembelihmu tepat di leher tidak di bagian tubuh yang lain.

Kata (النَّحْرُ) dipakai untuk menyembelih dalam rangka ibadah dan ketaatan pada hari Qurban, sebagaimana firman Allah:

           

“Maka, shalatlah kepada Rabb-mu dan menyembelihlah.”[57]

Al-Hafizh (w. 774 H) berkata, “Yang benar adalah pendapat pertama bahwa maksud (النَّحْرُ) adalah menyembelih pada hari Nask/Qurban. ”[58]

Kata (العَقْرُ) dipakai untuk menyembelih dengan kekejaman dan menyakiti dan tidak mesti di leher. Allah berfirman tentang kaum Nabi Shalih ‘alaihis salam:

           

“Lalu mereka menyembelih untu itu dan mereka menentang perintah Rabb mereka.”[59]

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) berkata, “Maksudnya menyembelih dengan melukai. Ada yang berpendapat, memotong anggota tubuh yang menyayat hati.”[60]

Demikianlah bahasa Arab. Ia memiliki kefasihan dan mampu mengungkapkan makna-makna yang terbesit dalam jiwa.

Abu Utsman Amr bin Bahr al-Jahidz berkata, “Perlu dijelaskan di sini bahwa ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa bahasa Arab adalah bahasa yang paling jelas dan paling luas. Lafazhnya lebih jelas dalam menunjukkan suatu makna, berbagai bentuk kalimatnya lebih bervariasi dan sangat banyak, dan permisalahan yang disebutkan lebih indah dan sederhana.”[61]

b. Bahasa Arab Bahasa Malaikat Terbaik, Bahasa Rasul Terbaik, Bahasa Kitab Terbaik, Bahasa Umat Terbaik

Para ulama kaum Muslimin telah bersepakat tanpa ada yang berselisih bahwa Jibril adalah malaikat terbaik di kalangan penduduk langit; Muhammad bin Abdillah adalah Rasul terbaik di kalangan penduduk bumi; al-Qur`an adalah kitab terbaik di antara Zabur, Taurat, Injil, dan shuhuf-shuhuf; umat Islam adalah umat terbaik di antara seluruh umat-umat di dunia. Maka bahasa Arab adalah bahasa Malaikat terbaik, Rosul terbaik, umat terbaik, Kitab terbaik.

Secara mengagumkan al-Hafizh (w. 774 H) telah mengumpulkan dua poin keunggulan ini dalam ucapannya yang singkat dan padat:

وَذَلِكَ لِأَنَّ لُغَةَ الْعَرَبِ أَفْصَحُ الْلُغَاتِ وَأَبْيَنُهَا وَأَوْسَعُهَا وَأَكْثَرُهَا تَأْدِيَّةً لِلْمَعَانِي الَّتِي تَقُوْمُ بِالنُّفُوْسِ فَلِهَذَا أُنْزِلَ أَشْرَفُ الْكُتُبِ بِأَشْرَفِ اللُّغَاتِ عَلَى أَشْرَفِ الرُّسُلِ بِسَفَارَةِ أَشْرَفِ الْمَلاَئِكَةِ وَكاَنَ ذَلِكَ فِي أَشْرَفِ بَقَاعِ الْأَرْضِ وَابْتُدِىءَ إِنْزَالُهُ فِي أَشْرَفِ شُهُوْرِ السَّنَةِ وَهُوَ رَمَضَانُ، فَكَمْلٌ مِنْ كُلِّ الْوُجُوْهِ

“Hal tersebut dikarenakan bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan banyak kandungan makna-maknanya yang begitu menyentuh hati. Oleh karena itu, kitab yang mulia ini diturunkan dengan bahasa yang paling mulia kepada Rasul yang paling mulia lewat Malaikat yang paling mulia, turunnya di bagian bumi yang paling mulia, dan permulaan turunnya di bulan yang paling mulia yaitu Ramadhan. Maka, ia adalah kesempurnaan dari berbagai sisi.”[62]

Apakah bahasa Surga adalah bahasa Arab? Tidak ada dalil yang shohih tertang ini. Ada beberapa hadits tentangnya tetapi sanadnya dipermasalahkan oleh ulama. Akan tetapi, seandainya bahasa penduduk Surga diambil dari bahasa dunia, maka dimungkinkan ia adalah bahasa Arab. Allahu a’lam.

/



[1] QS. Al-Hijr [15]: 85.

[2] QS. Ar-Rûm [30]: 22.

[3] Tafsîr Ibnu Katsîr (VI/309).

[4] QS. Al-Baqarah [2]: 31.

[5] Abu al-Husain Ibnu Faris berkata:

كُلُّ مَا مَشَى عَلَى الْأَرْضِ فَهُوَ دَابَّةٌ

“Segala sesuatu yang berjalan di atas bumi adalah dabbah.” Mu’jam Maqâyisil Lughah (II/263).

[6]Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223). Di antara ahli bahasa ada yang membatasi dabbah dengan makhluk yang berjalan di permukaan bumi saja, sehingga Mujahid menambah dalam penjelasannya “burung” yang mewakili makhluk-makhluk di udara, sehingga tidak ada lagi kesamaran bahwa Allah mengajari Adam semua nama-nama makhluk. Allahu a’lam.

[7] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4476), Muslim (no. 193), Ibnu Majah (no. 4312), dan an-Nasa`i (no. 10984 dan 11243) dalam as-Sunan al-Kubrâ dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

[8] Tafsîr Ibnu Katsîr (I/223-224).

[9] Tafsîr asy-Sya’rawî (I/7119).

[10] Zâdul Masîr fi Ilmit Tafsîr (IV/143) oleh Ibnul Jauzi.

[11] QS. An-Nahl [16]: 68.

[12] Tafsîr al-Qurthubî (X/133).

[13] QS. Az-Zukhrûf [43]: 1-4.

[14] Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (no. 30545) dalam al-Mushannaf.

[15] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 4492) dan Muslim (no. 525).

[16] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 3104) dan Muslim (no. 2905).

[17] Muttafaqun ‘Alaih: HR. Al-Bukhari (no. 159) dan Muslim (no. 226) dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

[18] Az-Zarkali menyebutkan dalam al-A’lâm (II/115) bahwa ada 12 orang yang bernama al-Jurjani berikut tahun wafatnya. Adapun al-Jurjani di sini adalah Ali bin Muhammad al-Jurjani.

[19] At-Ta’rîfât (no. 1541, hal. 308) oleh al-Jurjani.

[20] Kesalahan dalam berbahasa Arab baik karena salah ucap atau salah i’rab. Akan datang penjelasannya pada bab khusus in syaa Allah.

[21] Ilmu tentang kaidah-kaidah syair Arab.

[22] Minhâjul Muslim an-Nabawiyyah (VII/388) oleh Ibnu Taimiyyah.

[23] Lihat Siyar A’lâmin Nubalâ` (IV/82) oleh adz-Dzahabi.

[24] “Tidak ada yang memakannya (darah dan nanah) melainkan orang yang melangkah.” Orang itu salah baca. (الْخَاطُونَ) artinya orang yang melangkah sementara (الْخَاطِئُونَ) artinya orang yang salah dan ini yang benar.

[25] QS. Al-Haqqah [69]: 37.

[26] Ahli tarajjum (sejarah/biografi) membacanya dengan dua cara ad-Du`ali dan ad-Daili.

[27] Syu’abul Iman (no. 1561) oleh al-Baihaqi.

[28] QS. At-Taubah [9]: 3.

[29] Lihat Wafayâtul A’yân (II/537) oleh Ibnu Khallikan dan Akhbârun Nahwiyyin (hal. 1) oleh Abu Thahir al-Muqri’.

[30] Sababu Wadh’i Ilmil Arabiyyah (hal. 30) oleh Imam as-Suyuthi.

[31] Wafayâtul A’yân (II/537) oleh Ibnu Khallikan, Târîkhul Ulamâ` an-Nahwiyyin (I/15) oleh at-Tanukhi, Sababu Wadh’i Ilmil Arabiyyah (hal. 53) oleh Imam as-Suyuthi, Akhbârun Nahwiyyin (hal. 2) oleh Abu Thahir al-Muqri’, dan Inbâhur Ruwât ‘ala Anbâhin Nuhât (I/52) oleh Jalaluddin al-Qifthi.

[32] Al-Jâmi’ li Akhlâqir Râwi (no. 1075) oleh al-Khathib al-Baghdadi. Demikian yang tercantum kânû. Barangkali yang benar kânat dengan al-hurûfû marfu’ isim kânât karena salah cetak.

[33] Lisânul Arâb (IX/189) oleh Ibnu Manzhur.

[34] QS. At-Taubah [9]: 127.

[35] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/240).

[36] At-Ta’rifât (no. 864, hal. 174) oleh al-Jurjani.

[37] Lihat Hasyiyah ash-Shabhân (I/16) oleh Muhammad bin Ali ash-Shabhan.

[38] QS. At-Taubah [9]: 33, al-Fath [48]: 28, dan ash-Shaff [61]: 9.

[39] Lihat al-Bayan wa at-Tibyan (IV/55) oleh al-Jahidz.

[40] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.

[41] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 7) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[42] Lihat Ash-Shahibi fi Fiqhil Lughah al-Arabiyyah (hal. 21-22) oleh Ibnu Faris.

[43] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 9) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[44] Ar-Risâlah (hal. 42) oleh Imam asy-Syafi’i.

[45] Syu’abul Iman (no. 1559) oleh al-Baihaqi.

[46] Diriwayatkan al-Baihaqi (no. 21493) dalam as-Sunan al-Kubrâ.

[47] Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 14-15) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[48] Muqaddimah al-Jazariyah (hal. 1) oleh Ibnul Jazari.

[49] Lihat Fathu Rabbil Bariyyah (hal. 53) oleh Syaikh Shafwat Mahmud Salim. Dalam kitab tersebut beliau tidak menyebutkan teks haditsnya, yang jelas hadits tentang dhâd adalah lemah menurut para pakar hadits.

[50] Ibid (hal. 49-76).

[51] QS. Az-Zumar [39]: 23.

[52] Lihat ash-Shahabi fi Fiqhil Lughah al-Arabiyyah (hal. 21) oleh Ibnu Faris.

[53] Lihat al-Khasâ`ish (I/55) oleh Ibnul Jinni.

[54] Lihat Keutamaan dan Kewajiban Mempelajari Bahasa Arab (hal. 23-25) oleh Hamzah Abbas Lawadi.

[55] Lisânul Arab (II/436) pada entri dz-b-h.

[56] QS. Ash-Shâffât [37]: 102.

[57] QS. Al-Kautsar [106]: 2.

[58] Tafsîr Ibnu Katsîr (VIII/503).

[59] QS. Al-A’râf [7]: 77.

[60] Tafsîr al-Qurthubî (VII/240).

[61] Lihat al-Bayan wa at-Tibyan (I/384) oleh al-Jahidz.

[62] Tafsîr Ibnu Katsîr (IV/365-366).


Related

Ada Apa dengan Bahasa Arab 8229461167227117055

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar Anda yang sopan dan rapi.

emo-but-icon

Total Tayangan Halaman

Tentang Admin

Penulis bernama Nor Kandir ini kelahiran Jepara. Semenjak kecil tertarik dengan membaca terutama tentang alam ghoib dan huru-hara Hari Kiamat. Alumni Mahad Radlatul Ulum Pati ini juga pernah nyantri di Mahad Tahfiz Quran Wadi Mubarok Bogor dan Pondok Mahasiswa Thaybah Surabaya dibawah asuhan Ust. Muhammad Nur Yasin, Lc dan beliau adalah guru utama penulis.

Gelar akademik penulis diperoleh di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan LIPIA Surabaya (cabang Universitas Al Imam di Riyadh KSA). Kesibukan hariannya adalah imam Rowatib, mengajar bahasa Arab, dan menerjemahkan kitab-kitab yang diupload secara gratis di www.terjemahmatan.com

PENTING

Semua buku di situs ini adalah legal dan telah mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya untuk dicetak, disebar, dan dimanfaatkan dalam bentuk apapun. Boleh dikomersialkan dengan syarat: meminta izin ke penulis dan harganya dibuat murah (tanpa royalti penulis) serta tidak merubah isi kecuali ada kesalahan secara ejaan dan kesalahan syar'i. .

Bagi yang membutuhkan file wordnya untuk keperluan dakwah, bisa menghubungi Penulis di 085730-219-208.

Barokallahu fikum.

Pengikut

Hot in week

item